Travel

Tutorial

kesehatan

Recent Posts

Ketika Langit Jatuh Cinta | Leni Wahyoe Nengsih


Aku ingin bercerita di atas gurun sahara pada langit yang bisu tak bersuara.
Belum sempat kuhabiskan cerita, langit menangis menumpahkan butiran air hujan yang jatuh ke bumi.

Lalu hati memahami, hujan tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Ia tidak akan pernah merasakan cinta kalau ia tidak jatuh. Haruskah yang berhubungan dengan cinta harus terjatuh terlebih dahulu?

Langit masih bisu tak menjawab pertanyaan yang kulontarkan, hanya rumput bergoyang, semilir angin berhembus lembut.

Seseorang yang kukenal atau sering kusebut Pujangga dari tanah sunda membisikkan tentang segerombolan Laron-Laron yang berebut menuju tempat yang paling terang, karena laron-laron menyukai cahaya terang setelah hidup dalam gelap gulita. Tanyaku semakin berlapis, namun Sang Pujangga itu tak pernah habis menjelaskan, terkadang membuatku tak mengerti maknanya. Aku bertanya padanya : “Apakah saat hujan itu tandanya langit sedang menangis? Atau malah sedang berduka?”

Dia tersenyum dan menjawab : “Hujan pertanda bahwa langit sedang jatuh cinta, bukan berduka juga bukan menangis, karena Hujan selalu punya cara menyampaikan cinta. Satu hal yang selalu kuingat tentang Hujan, Hujan mengajarkanku tentang bahwa tidak selamanya JATUH itu menyakitkan, jika memang menyakitkan pasti tentu beralasan dan meninggalkan satu hikmah yang menjadi pembelajaran dalam sebuah kehidupan, agar kita tahu bagaimana caranya mengenal Tuhan kita lebih dekat lagi. Bukankah itu lebih indah?”

Aku yang sempat lupa bagaimana caranya jatuh cinta pun kini mengerti. Terkadang hidup ada saat dimana kita berada di titik terang benderang atau malah redup mendung. Kemana perginya sekeping hati yang pernah ku singgahi? Entahlah, bahkan hujan pun menghampus jejaknya. Yang aku tahu kini adalah hujan pertanda kalau langit sedang jatuh cinta. Ibarat hujan adalah cinta, setidaknya hujan tahu bagaimana cara jatuh cinta.. Dan suara petir ibarat menyampaikan rasa cemburu juga kilap ibarat cahaya rindu, itu semua terjadi saat dimana KETIKA LANGIT JATUH CINTA..

Dialog Hujan | Senar senja

Bicara rindu...
Bicara haru...
Luangkan ruang imajimu...

Bernyanyi merdu...
Bernyanyi sendu...
Bebaskan birunya hatimu...
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian...

Tanpa kata tanpa nada...
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian...
Hanya rasa hanya prasangka...
yang terdengar di dalam Dialog Hujan...

Tanpa kata tanpa nada...
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian...
Hanya rasa hanya prasangka...
yang terdengar di dalam...

Tanpa kata tanpa nada...
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian...
Hanya rasa hanya prasangka...
yang terdengar di dalam Dialog Hujan...

Give me love (16) Fanfiction | Ryan rinaldi

Katakan! Alasannya

________

Mata Rafael bergerak tak menentu, apa yang harus ia lakukan sekarang? Suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat. Rafael memukul-mukul kaca dinding aquarium, tak berefek sama sekali. Bagaimana ia bisa membawa ibunya keluar dari tempat ini. Rafael membentur-benturkan tubuhnya pada dinding kaca itu dengan kuat. Maksud hati ingin mendobrak kaca itu, tapi apalah daya, kaca itu terlalu kuat. 

"Pergilah Rafael! Pergilah!" Ucap Adoria meminta Rafael pergi.

"Tapi bu." 

"Ayo pergilah. Ibu tidak mau kamu kenapa-napa. Kamu harus tetap hidup." Ucap Adoria yang mulai panik saat pintu ruangan itu bergerak. Untung Rafael sudah menguncinya tadi.

Rafael melihat kebelakang, getaran pada pintu itu makin kuat. Lalu ia memandang ibunya yang tetap memintanya untuk meninggalkannya. Tidak ada pilihan lain, Rafael terpaksa harus segera pergi. Ia mendekat ke jendela, membukanya dengan perlahan supaya tak menimbulkan suara. Dilihatnya keadaan sekitar, tidak ada orang, Ia melompat keluar jendela dan menutup kembali jendelanya.

Pintu ruangan itu terus bergetar hingga akhirnya terbuka saat seseorang diluar mendobraknya. Amran menatap bingung pintu itu, bagaimana mungkin pintu itu bisa terkunci dari dalam, apa artinya memang ada orang lain diruangan? Amran mengedarkan pandangannya, mengamati seisi ruangan dengan seksama. Tidak ada siapapun, tapi tunggu, jendela itu sedikit terbuka.
Amran berjalan mendekat ke jendela, tangannya menyentuh jendela itu dan sedikit mendorongnya hingga terbuka, matanya bergerak ke kanan dan kiri, mencari siapa orang yang sudah berani masuk kedalam ruangan itu. Sayang sekali, ia tidak mendapati ada siapapun. Ditutupnya jendela itu rapat-rapat dan kembali ia kunci. Setelahnya ia mendekat ke aquarium besar itu.

"Kamu pasti tau sesuatu, siapa yang sudah masuk ke ruangan ini?" Tanya Amran pada Adoria.

Adoria membungkam mulutnya, tak mau berbicara. Ia juga mengalihkan pandangannya, tak mau menatap pria didekatnya itu.

Amran memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Baiklah kalau kamu tidak mau menjawab. Siapkan saja dirimu untuk hal yang menyakitkan." Ucapnya.

~~♡♡♡♡♡~~

Tengah malam, Ratu Beryl dan juga Algis muncul ke permukaan laut. Kepergian mereka ke permukaan laut tentu tanpa sepengetahuan duyung lain, juga memiliki alasan. Bagaimanapun caranya, Ratu Beryl ingin batu karang ajaib itu kembali padanya. Tidak peduli dengan segala resiko yang akan ia alami. Keduanya berenang ke tepian laut untuk bersantai di bebatuan yang tersusun rapi dan indah.

"Lihat, itu ada manusia. Cepat keluarkan!" Perintah Ratu Beryl.

"Baik Ratu." Ucap Algis lalu mengeluarkan benda yang Ratu Beryl minta.

**♡**

Seorang pria berusia sekitar 30 tahunan berjalan ditepi pantai sembari membawa jaring. Ia memang selalu seperti itu setiap malamnya. Banyak ikan-ikan yang berkumpul ditepian pantai saat malam hari dan itu memudahkannya untuk menangkapnya. Yah, walau hanya ikan-ikan kecil. Langkah kakinya terhenti sejenak saat ia melihat sesuatu bersinar diatas bebatuan. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menghampiri cahaya itu setelah sebelumnya menjatuhkan jaringnya asal.

"Mutiara." Ucap pria itu senang saat melihat ada 10 buah mutiara dalam kerang. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari siapa pemilik mutiara itu. Tidak ada orang, artinya itu akan menjadi miliknya.

"Kalau kamu mau, aku bisa memberimu lebih banyak mutiara." Ucap Ratu Beryl yang tiba-tiba muncul dari dalam air bersama dengan Algis.

Pria itu terkejut bahkan sampai terjatuh. Ia melihat duyung, secara langsung. Apa yang harus ia lakukan.

"Jangan berteriak, atau aku akan membunuhmu saat ini juga." Ancam Ratu Beryl saat melihat pria itu akan berteriak. "Aku hanya mau kita bekerja sama. Aku akan memberimu banyak mutiara sebagai imbalan. Dan aku akan memastikan kamu dalam keadaan aman, asal kamu merahasiakan semua ini." Sambungnya. Ratu Beryl juga meminga Algis memperlihatkan mutiara-mutiara yang lain. Banyak sekali mutiara dalam kerang besar yang saat ini Algis pegang. Siapapun yang melihatnya pasti akan tergiur. Para pelaut pun belum tentu bisa mendapatkan mutiara sebanyak itu. Apalagi,jika dilihat kualitas mutiara itu sangatlah bagus.

Pria itu membenarkan posisi duduknya. Ia memang sangat membutuhkan banyak uang. Ia juga bisa menjadi jutawan dadakan. Tidak peduli apakah ia berkhianat dengan bangsa Manusia, yang penting adalah ia bisa mendapatkan banyak mutiara.

"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya pria itu.

"Jika aku memintamu untuk membawa Rafael dan Amira padaku, itu pasti sulit untukmu. Jadi, aku hanya minta, ambil batu karang berbentuk kuda laut dari Rafael." Perintah Ratu Beryl.

"Rafael?" Tanya pria itu, ya,ia memanglah tidak tau yang mana yang bernama Rafael. Dan lagi, bukan hanya satu orang yang memiliki nama Rafael bukan?

"Kamu cari saja, dia pasti tinggal tidak jauh dari pantai. Aku mau, secepatnya kamu dapatkan batu karang itu. Dan jangan coba-coba untuk mengkhianatiku, kamu mengerti itu?" 

"Iii..iiya." jawab pria itu gugup. Tatapan mata Ratu Beryl membuatnya ketakutan.

~~☆☆☆☆☆~~

Uta dan Fany mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar cerita dari Amira tentang Rafael dan juga kerajaan bawah laut. 

"Ternyata, di laut ada perebutan kekuasaan juga ya." Ucap Fany.

"Itu hal yang wajar. Para hewan pun juga sering menerkam kawannya hanya untuk mendapatkan kekuasaan." Sahut Uta.

Cklek.

Semua mata langsung tertuju ke pintu utama. Mereka tau yang datang adalah Rafael. Benar saja, tak lama kemudian Rafael muncul didalam kamar dengan raut wajah yang gelisah. Membuat Amira dan dua temannya khawatir.

"Apa yang terjadi nak? Mana Ratu Adoria?" Tanya Amira.

"Aku sudah berhasil masuk bu, tapi, aku gagal menyelamatkannya. Keburu ada petugas yang masuk kedalam ruangan juga." Sahut Rafael.

"Tapi, syukurlah kamu nggak papa nak." Ucap Amira.

Rafael menganggukan kepalanya. Ia memeluk ibunya sejenak lalu berjalan keluar kamar. Diikuti Uta yang mengekor dibelakangnya.

"Tadi ada yang kesini cari kamu." ucap Uta membuat Rafael menoleh kepadanya. "Cewek yang waktu itu ada dipantai sama kamu." Sambungnya.

"(Namamu)." Gumam Rafael.

"Kenapa? Apa kamu ada masalah sama dia? Kalian berantem?" Tanya Uta.

Rafael menghela nafas pelan, ia berjalan keluar rumah dan berdiri di beranda rumah. Punggungya ia sandarkan pada dinding rumah dan matanya memandang kelangit malam tak berbintang. Uta juga ikut keluar dan menutup pintu rumah.

"Aku cuma nggak mau terlibat dalam semua ini Uta. Aku sudah membuatmu dan Fany kerepotan karna ini semua." Lirih Rafael.

"Apa yang kamu katakan? Aku dan Fany sama sekali nggak pernah merasakan seperti itu. Justru, aku senang bisa mengalami hal ini. Sebuah petualangan baru yang nggak bisa dinikmati orang lain." Ucap Uta dengan senyuman diwajahnya.

"Kalau kami merasa direpotkan, dan juga lelah dengan semua ini, kami pasti udah ngusir kamu, atau kemungkinan terburuk adalah kami menyerahkanmu pada pemerintah dan kami dapat uang." Sahut Fany yang tiba-tiba ikut bergabung.

Benar, saat ini, bisa saja Fany dan Uta menyerahkannya pada pemerintah. Tapi, dua orang itu sama sekali tidak melakukannya. Bahkan dua orang itu selalu membantunya.

"Bukan hanya sekedar karna kamu telah menyelamatkanku. Tapi, ini juga bentuk dari sebuah pertemanan." Ucap Uta.

"Uta, Fany. Terimakasih banyak." Ucap Rafael menatap dua orang itu penuh haru.

"Aku merasakan ada yang berbeda darimu sejak kemarin. Apa ini ada hubungannya dengan cewek yang datang kesini tadi?" Tanya Fany.

Rafael kembali menghela nafas berat. "Aku takut dia akan marah, kecewa dan membenciku saat tau bahwa aku adalah duyung. Melihatnya ketakutan atau bahkan marah saat melihat wujud asliku, itu akan membuatku sakit. Jadi, lebih baik aku menjauhinya."

"Apa dengan kamu menjauhinya, semua kemungkinan itu nggak akan terjadi?" Tanya Uta. "Rafael, meski kamu nggak sama dia, suatu saat dia juga akan tau siapa kamu sebenarnya. Jadi, tidak akan merubah apapun." Sambung Uta.

"Jangan menyiksa dirimu sendiri Rafael. Aku bisa merasakannya, dari mata kalian berdua, rasa sayang dan saling membutuhkan itu sangatlah besar." Sahut Fany.

Rafael diam seribu bahasa. Kata demi kata yang diucapkan kedua temannya itu mulai memenuhi otaknya. Membuatnya harus kembali berpikir keras.

"Istirahatlah. Kamu pasti capek." Ucap Fany mengusap pelan pundak Rafael.

Rafael menganggukan kepalanya lalu masuk kedalam rumah. Hawa diluar rumah juga mulai terasa dingin.
Fany menatap punggung Rafael dengan senyuman di wajahnya.

"Aku pikir, kamu suka sama Rafael." Ucap Uta.

"Aku memang suka, aku suka melihatnya. Dia tampan, gagah, dan terlihat berwibawa. Tapi, aku sama sekali nggak menaruh hati padanya." Ucap Fany.

"Sudah kuduga, kamu memang selalu mencintaiku Fany." Ucap Uta dengan ekspresi yang membuat Fany merasa geli.

"Haduh, Uta, geli tau nggak liatnya." Ucap Fany lalu melangkah masuk kedalam rumah.

Uta tertawa seorang diri, ia selalu suka menggoda saudara sepupunya itu.

~~♡♡♡♡♡~~

Rafael menghentikan langkahnya bahkan saat ia belum sempat masuk kedalam restoran. Sudah ada yang menunggunya du beranda restoran. Orang itu menatapnya dengan wajah yang datar. Rafael jadi sedikit canggung dibuatnya.

"Aku cuma mau kamu memberikan alasan yang logis dan jelas kenapa kamu minta kita buat nggak ketemu lagi." Ucap (namamu) memulai pembicaraan.

"Ada hal, yang nggak mungkin aku katakan." Jawab Rafael.

"Kalau gitu,aku akan terus menemuimu. Sampai kamu mengatakan hal itu." Ucap (namamu) menatap lurus pria yang berdiri 3 meter dihadapannta itu.

"(Namamu), aku mohon mengertilah. Ini...."

"Aku juga mohon kamu mengerti." Ucap (namamu) memotong perkataan Rafael. "Apa kamu tau apa yang aku rasakan saat kamu meninggalkanku tanpa alasan?" Tanya (namamu) dengan mata yang berkaca-kaca.

Bola mata Rafael bergerak tak menentu. Ia mulai melangkahkan kakinya lagi.

"Kamu mau menghindar lagi? Kamu mau lari lagi?" Ucap (namamu) yang membuat langkag kaki Rafael seketika terhenti. Air matanya juga mulai menetes. 

"Kalau memang kamu nggak menyukaiku, tolak aku. Katakan kamu nggak menyukaiku dan nggak mau aku menjadi pacarmu. Ayo katakan!" Seru (namamu). Derai air matanya semakin deras. Tak peduli meskipun ada karyawan lain atau pengunjung restoran.

Rafael kembali menatap (namamu) yang sedari tadi terus menatapnya. Ia ingin mengatakan seperti apa yang (namamu) minta. Tapi, ia tidak bisa melakukannya. Lidahnya terasa sangat kelua dan tak bisa untuk digerakan. Artinya, ia memang tak pernah ingin mengatakan itu.

"Ayo katakan Rafael. Biar aku mendengarnya secara langsung." pinta (namamu) dengan sedikit isakan tangis.

Isakan yang membuat hati Rafael sakit saat mendengarnya. Ia sudah membuat orang yang begitu peduli padanya merasakan sakit. Isakan yang tak pernah ingin ia dengar walau hanya sekali. Tapi, ia mendengarnya saat ini. Mendengarnya dengan jelas meski sesekali angin berhembus dan membawa pergi suara yang dilewatinya.

Uta dan Fany memperhatikan itu dari dalam restoran. Fany menggenggam erat buku pesanan didepan dadanya. Ia ikut terbawa suasanan dua orang itu. 

Rafael melangkah dengan perlahan, mendekat ke (namamu), dan berhenti tepat dihadapan (namamu). Jarak diantara keduanya hanya tinggal beberapa centi saja. Mata (namamu) masih terus menatap pria dihadapannya itu.
Tangan Rafael terulur, ia hendak menyeka air mata yang membuat pipi (namamu) basah, tapi tangannya ditepis oleh (namamu). Rafael menatap sejenak tangannya, kemudian beralih menatap (namamu) yang sudah menepis tangannya.

"Aku memintamu untuk berbicara, bukan menghapus air mataku. Aku bisa menghapus air mataku sendiri. Tapi, aku nggak pernah bisa tau, apa yang kamu pikirkan, aku nggak tau apa alasanmu, kalau kamu nggak pernah mengatakannya." Ucap (namamu).
.

Bersambung