Bab 1 : Ulang Tahun Terakhir


Bab 1 : Ulang Tahun Terakhir
(Karya: Susanti Mudiyono)

Pukul setengah dua belas malam, adalah waktu yang sangat tidak lazim bagi gadis remaja seperti Jea berkeliaran di pinggir jalan. Berjalan lontang-lantung sendirian tanpa tujuan yang jelas. Dia bukan wanita malam yang suka berkeliaran di waktu selarut itu. Atau pemburu hantu yang tergila-gila pada tempat-tempat sepi dan gelap. Dia hanya mahasiswi biasa yang kini sedang menjalani semester tiganya. Yang setiap hari rajin berangkat kuliah, bahkan pulang sampai sore hari.

Namun, karena ulah seseorang, dia harus menerima kondisi seperti saat ini. Dalam sepinya suasana jalan dan dinginnya udara malam, Jea harus pulang sendirian. Jika hantu yang ditemui, itu bukanlah sesuatu yang terlalu berbahaya. Tapi, jika orang-orang jahat yang menghadangnya di tengah jalan, entah akan seperti apa nasibnya. Dan ia tetap harus memberanikan diri menghadapi semua itu.

Jea kembali melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Tiga benda kecil itu terus berjalan naik mendekati angka dua belas. Keresahan di hati Jea semakin meningkat. Saat kakinya terus melangkah, kepalanya juga terus berputar memantau keadaan di sekelilingnya. Memastikan jika ia dalam keadaan aman. Jika ada satu hal kecil saja yang mencurigakan, Jea sudah siap berteriak sangat keras. Itu salah satu kelebihan yang ia miliki. Setidaknya menurut Jea sendiri.

"Awas loe, Ga! Kalau gue ketemu sama loe besok, gue bunuh loe!" gerutu Jea, setelah memutar kepelanya ke belakang lagi.

Itu sudah gerutuannya yang ke sekian kali, sejak ia pergi meninggalkan pintu gerbang kampusnya lima belas menit yang lalu. Sudah banyak sekali makian yang diberikan Jea pada orang yang bernama Rangga itu. Beberapa kali bahkan Jea sampai memukul telapak tangannya dengan kepalan jari-jarinya sendiri. Ada kemarahan yang ditahan Jea untuk Rangga. Sebab, karena pria itulah, saat ini Jea masih berkeliaran tidak jelas di tengah jalan.

Entah Rangga sengaja melakukannya, atau memang dia tidak memiliki pikiran hingga begitu tega melakukan semua ini pada Jea. Yang pasti, ba'da Isa tadi, Rangga menelepon Jea dengan sangat baik. Meminta Jea menemuinya di depan pintu gerbang, kampus tempat Jea kuliah. Saat itu kebetulan Jea masih memiliki sedikit urusan di dalam kampus, hingga permintaan Rangga ini bukan sesuatu yang sulit. Setelah urusannya selesai, Jea tinggal keluar dan menunggu Rangga di depan. Pria itu berpesan pada Jea agar tidak pergi sebelum ia datang, karena menurut Rangga ada sesuatu yang sangat penting. Akan tetapi, sampai dua puluh menit yang lalu Rangga tidak datang, dan tidak bisa dihubungi. Sampai sekitar pukul sebelas lebih empat puluh lima menit, Rangga baru menelepon kembali dan membatalkan pertemuan mereka dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Bahkan pria itu juga menyuruh Jea pulang sendirian.

Ini benar-benar kejahatan. Dan Jea berjanji akan melaporkan Rangga ke kantor polisi atas tuduhan penipuan. Dia terus mendumal sembari berjalan meninggalkan pintu gerbang kampus. Namun, setelah beberapa ratus meter berjalan, Jea mulai berubah pikiran. Jika Rangga dipenjara, pasti masa depannya akan hancur. Maka, sekarang tekad Jea ingin membunuh Rangga saat bertemu dengannya besok. Karena Jea yakin, Rangga pasti sengaja melakukan semua ini padanya.

Beberapa detik kemudian, pemikiran Jea berubah kembali. Rasa takut sepertinya membuat Jea sangat frustasi. Setelah lelah memaki Rangga di dalam hati, sekarang ia sedang mencoba menghubungi seseorang. Sayangnya, setelah menunggu beberapa saat, ia mendapat kabar jika nomor yang dihubungi sedang tidak aktif. Jea tidak menyerah meski sebenarnya kesal. Ia beralih menghubungi nomor lain, namun kembali tidak aktif. Sampai nomor ketiga dan keempat, tidak ada satu pun yang bisa dihubungi. Jea benar-benar sangat marah. Rasa takut yang ditahan di dalam hatinya, seperti nyaris membuatnya menangis.

"Nggak Bisma, nggak Rangga, nggak Dika, nggak juga Mama-Papa. Semuanya nggak ada yang bisa dihubungi. Pada kenapa, sih?" gerutunya lagi. "Apa ini yang namanya keluarga? Apa ini yang namanya pacar? Apa ini yang namanya sahabat? Waktu dibutuhin, malah nggak ada yang aktif! Sepertinya ini memang kerjaannya si Rangga. Setelah nelfon gua tadi, kenapa nomernya langsung nggak aktif coba? Awas aja kalau ketemu lagi besok. Gue cekik dia!"

Selain menggerutu dan menendang kerikil-kerikil kecil tak berdosa di pinggir jalan, tidak ada yang bisa dilakukan Jea saat ini. Walaupun udara kota Jakarta selalu hangat bahkan panas, perasaan takut Jea berhasil membuatnya merinding. Padahal jarak tempatnya saat ini masih sangat jauh dengan rumah. Entah harus bagaimana lagi untuk melupakan rasa takutnya itu.

Langkah demi langkah masih terus dilenggangkan Jea. Detik demi detik berlalu, dan pukul dua belas malam sebentar lagi akan tiba. Jea tiba di rumahnya sekitar pukul sebelas lewat lima puluh lima menit. Rumah sudah sangat sepi dan gelap. Itu pasti. Seluruh penghuni rumah juga pasti sudah tidur. Besok pagi Jea harus siap menerima teguran keras dari ayah dan ibunya. Itu pun jika malam ini ia bisa masuk ke rumah. Jika tidak, mungkin saja orang tuanya memang sudah mengusirnya malam ini.

Pintu didorong, masih terbuka dengan mudah. Mungkin ayah dan ibunya lupa mengunci pintu karena berpikir Jea akan segera pulang. Atau mereka belum tidur karena menunggu kepulangan Jea? Dan saat Jea masuk, sebuah serangan akan langsung ia terima. Ah, tidak! Jea menggelengkan kepalanya keras-keras, untuk mengusir semua pemikiran buruknya. Dan ada baiknya ia segera masuk sebelum hantu-hantu yang tadi mengikutinya, sampai ke rumahnya juga.

Setelah pintu ditutup kembali, ruang tamu rumah Jea benar-benar gelap. Satu-satunya sumber cahaya hanya lampu teras saat pintunya masih terbuka tadi. Sekarang tidak ada cahaya apa pun yang bisa menerangi langkah Jea. Ia harus menghafalkan baik-baik letak setiap barang-barang di ruang tamu tersebut. Seperti kursi, meja, bahkan pintu.

"Ya, Allah, semoga aja Papa sama Mama nggak tahu kalau gue baru pulang jam segini. Bisa kena masalah kalau mereka sampai tahu," gumam Jea sepelan mungkin.

BRAAKKK. Satu kaki Jea menabrak salah satu kaki kursi di ruangan tersebut. Membuat Jea meringis dalam kegelapan. Rasanya ingin berteriak, namun Jea menahannya sekuat tenaga. Tidak boleh sampai ada suara gaduh yang dikeluarkannya. Jika ia tidak mau mendapat masalah.

Tap, tap, tap. Jea menoleh cepat mendengar langkah kaki itu. Sangat jelas terdengar dari arah belakang Jea berdiri. Namun, dalam kegelapan itu, apa yang bisa dilihat Jea? Bahkan sekalipun ada seseorang di depannya tidak akan terlihat.

'A-ap-pa itu?' tanya Jea di dalam hati. Tubuhnya mulai gemetaran menahan takut.

Kakinya mundur perlahan. Satu dua langkah terus berjalan ke belakang. Kepalanya berputar mencari sedikit saja sumber cahaya. Dan kegelapan itu sudah berhasil membuat Jea sangat ketakutan.

Tiba-tiba saja tubuh Jea menabrak sesuatu. Membuatnya tidak bisa lagi melangkah mundur. Jea bisa memastikan itu bukan dinding, juga bukan kursi atau benda keras lainnya. Namun, yang ditabraknya adalah seseorang, atau mungkin benda asing lain yang sama seperti tubuh manusia. Atau bahkan mungkin itu...?

"Aaaaa...!!!"

Sangat keras Jea berteriak. Kedua tangannya menutup telinga, sembari berjongkok dan menyembunyikan kepalanya di antara kedua lutut. Tubuhnya gemetaran, matanya terpejam rapat-rapat, dan kali ini Jea benar-benar sangat ketakutan. Sosok Jea yang selama ini dikenal tangguh dan tomboy, selalu memakai kemeja dan celana panjang seperti anak laki-laki, saat ini semua itu sudah runtuh. Dan dapat terlihat sisi lain dari diri Jea.

"Surprise...!"

Pelan-pelan Jea membuka matanya mendengar teriakan itu. Lampu sudah menyala kembali. Dan tidak ada hal besar yang terjadi. Selain terlihat kedua orang tua Jea berserta adiknya, Dika, dan seorang pria yang dikenal Jea bernama Rangga. Semua tersenyum menatap Jea seperti sedang meledeknya. Apalagi Dika, anak laki-laki berusia empat belas tahun itu bahkan tertawa cekikikan. Sementara Jea, hanya jongkok menatap yang lain seperti orang bodoh.

"Mau sampai kapan Kakak jongkok kaya gitu? Lama-lama Kakak bisa berubah jadi kodok!" ledek Dika puas.

Jea cepat-cepat berdiri kembali. Bibirnya cemberut, dan wajahnya sangat kesal menatap seluruh orang yang berdiri di depannya. Raut mereka masih sangat mencurigakan. Menatap penuh arti, pada sesuatu di belakang Jea. Kemudian saat Jea menoleh, seorang pria tampan bertubuh kurus sudah berdiri di belakangnya. Ia membawa kue ulang tahun berlapis coklat, dengan lilin berbentuk angka dua puluh. Pria itu tersenyum sangat manis. Rambutnya sedikit panjang dengan poni yang nyaris menutupi matanya. Entah sekilas maupun diperhatikan baik-baik, pria itu memang tampan.

"Bisma?" gumam Jea lirih.

"Happy birthday, Jea. Happy birthday, Jea. Happy birthday, happy birthday, happy birthday to Jea...."

Suara seraknya bernyanyi merdu. Membuat Jea semakin terpaku. Ia kembali teringat semua hal yang menimpa dirinya malam ini. Telepon dari Rangga, penantiannya selama berjam-jam. Pulang sendirian, sampai tidak ada satu pun nomer telepon yang bisa dihubungi. Lalu pintu rumah yang belum dikunci sampai selarut ini. Dan saat Jea melirik jam di pergelangan tangannya, pukul dua belas malam baru saja lewat beberapa menit yang lalu. Jadi....

"Jadi, ini semua rencana kalian? Telepon Rangga yang minta gue buat nungguin dia sampai jam sebelas lewat, terus ngebiarin gue pulang sendirian. Nomor kalian nggak ada yang aktif, dan pintu rumah nggak dikunci sampai selarut ini. Semua ini ulah kalian?" tanya Jea mengambil kesimpulan.

"Yap, bener banget! Tumben Kakak pinter," jawab Dika seenaknya. Jea langsung menatap adiknya itu dengan sangat tajam.

"Ya, semua emang udah direncanain. Dan selama dalam perjalanan, loe nggak jalan sendirian, kok. Gue sama Bisma terus ngikutin loe dari jauh. Jadi, kalau sampai ada apa-apa sama loe, kita langsung datang. Tapi, alhamdulillah semua berjalan dengan lancar," jelas Rangga.

"Selamat ulang tahun ya, Sayang? Jangan marah lagi. Kan, ini hari ulang tahun kamu," timpal Ibu.

"Iya, hari ulang tahun ter-extrim!" kesal Jea.

"Jarang-jarang, dong, ada kejutan seperti ini. Bisa dijadiin kenang-kenangan yang manis. Nanti kamu pasti kangen sama hari ini," timpal Ayah. Jea sudah terlanjur kesal. Bibirnya yang mengerucut maju, sampai melebihi panjang hidungnya.

"Ya, udah, sekarang kita tiup lilinnya," ujar Bisma mencairkan suasana.

Rangga meraih sebuah korek di atas meja, kemudian menyalakan lilin di atas kue itu. Lagu selamat ulang tahun kembali dinyanyikan. Disusul acara tiup lilin setelah lagu selesai. Walaupun malam ini diawali dengan berbagai macam hal menyebalkan, ternyata berujung pada sebuah hal yang begitu manis. Saat kue dipotong dan dimakan bersama-sama, acara kejutan ulang tahun Jea terasa semakin manis saja. Diselingi tawa, canda, dan sedikit perdebatan kecil antara Dika dan Jea yang nyaris tidak pernah akur. Membuat mereka semua lupa, jika waktu sudah hampir pagi.

Saat ini, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Suara ayam jantan sudah terdengar beberapa kali. Namun, mereka masih terlihat bersemangat. Bahkan sebelum pulang, Bisma masih menyempatkan diri mengajak Jea bicara berdua di halaman belakang.

"Ada apa, sih, Bi?" tanya Jea.

Bisma menarik napasnya panjang-panjang. Sepertinya Bisma sedikit gugup saat ini. Sesuatu yang memang jarang sekali Jea temui dari kekasihnya itu. Bisma adalah sosok yang selalu tenang dan santai. Hanya berbicara dengan Jea, untuk apa sampai segugup itu?

"Oh, ya, tunggu!" ujar Jea saat Bisma sudah akan membuka mulutnya. "Jadi, tadi orang yang aku tabrak itu kamu? Kamu yang berdiri di belakang aku, 'kan?"

Bisma nyengir kuda, kepalanya mengangguk pelan. "Iya, untung kuenya nggak jatuh. Kalau jatuh, kan, bahaya," komentar Bisma.

"Apanya yang bahaya! Aku udah hampir pingsang, kamu malah mikirin kue!"

"Nah, kalau kuenya sampai jatuh, rencananya berantakan semua, dong? Lagian, kan, kamu nggak beneran pingsan?"

Jea melipat tangannya kesal. Pandangannya dibuang ke sembarang tempat. Tingkah seperti itulah yang justru membuat Bisma menjadi tertawa. Sangat lucu.

"Okay, okay. Kita kembali ke tujuan awal," ujar Bisma mencoba menenangkan Jea.

Dari dalam saku celananya, Bisma mengambil sesuatu yang disembunyikan di dalam kepalan tangan. Jea menatap tangan Bisma, namun tidak melihat apa pun. Bahkan setelah kepalan tangan itu tepat berada di depan mata Jea, tidak ada apa pun yang tampak di dalamnya. Akan tetapi, jika melihat senyum Bisma, harusnya ada sesuatu di sana.

"Coba kamu ketuk tangan aku," pinta Bisma.

Jea melepaskan lipatan tangannya, kemudian mengetuk tangan Bisma. Seperti sebuah permainan sulap, dari dalam kepalan itu keluar sebuah kalung berlian dengan liontin peri kecil yang bersayap. Peri itu seolah-olah menari-nari dengan lincah saat kalungnya berputar. Jea langsung tersenyum melihatnya. Apalagi saat kalung itu terkena pantulan sinar lampu, berliannya kemerlapan seperti bintang-bintang kecil di langit.

"Happy birthday, Sayang. Ini hadiah kecil dari aku, semoga kamu suka," ujar Bisma lembut.

Jea tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tertegun dalam perasaan haru. Matanya berkaca-kaca menatap Bisma. Kemudian satu titik air, jatuh dari kedua matanya.

"Kenapa menangis?" tanya Bisma.

"Semua cinta kamu terlalu besar, Bi, buat aku. Aku nggak akan pernah bisa membalasnya," jawab Jea.

"Kamu ngomong apa, sih? Denger, aku ini pacar kamu, orang yang mencintai kamu. Udah menjadi kewajiban aku buat bahagiain kamu. Kamu nggak boleh mikir yang nggak-nggak kaya gitu!"

"Tapi, Bi, ini berlian. Harganya pasti mahal banget. Aku tahu banget keadaan kamu. Di Jakarta kamu nge-kost, kamu masih harus bayar uang kuliah, kamu hanya bekerja paruh waktu, dan kamu masih ngasih aku barang semahal ini? Harusnya uang itu kamu simpan untuk biaya kuliah kamu."

"Ststst!" desis Bisma. Tangannya terangkat, mencoba memakaikan kalung itu di leher Jea. "Je, aku nggak akan bisa selalu berada di sisi kamu buat ngejagain kamu. Ada masanya, kamu akan berjalan sendiri tanpa aku. Tapi, peri kecil ini akan membuat kamu merasa kalau aku selalu ada di sisi kamu, sekalipun di saat aku sudah tidak bisa kamu lihat lagi," ujar Bisma lembut.

Jea kembali tertegun. Kali ini tubuhnya mematung dan pandangannya membeku menatap Bisma. Tangan kanannya menggenggam erat peri kecil yang menjadi liontin kalung di lehernya. Bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu, namun tidak bisa. Suaranya seperti menghilang, dan hanya setetes air dari matanya yang berbicara. Menceritakan betapa bahagianya Jea malam ini. Di sini, di depan Bisma berdiri.

"Tolong, jangan menangis lagi. Aku mencintai kamu, Je. Aku sangat mencintai kamu...."

Suara itu seperti bergema. Merayap dalam celah-celah waktu yang berlalu. Membangunkan Jea dari tidur nyenyaknya. Membuatnya terjaga, dan membuka mata dengan sedikit tersentak. Sebuah sinar hangat nan sangat terang menyapa wajah Jea. Tampaknya hari sudah merambat siang. Waktu yang ditunjukkan oleh jam di atas meja samping tempat tidur Jea, sudah pukul delapan lewat.

Jea tertegun di posisinya. Ada sesuatu yang kosong terasa di dalam hati. Mimpi itu tak hanya sebuah bunga tidur. Namun, sebuah kenangan indah yang memang pernah terjadi di dalam hidupnya. Kenangan yang selalu siap menyayat hati, setiap kali diingat. Sampai saat ini, Jea masih bisa meremas peri kecil dari liontin kalung yang dipakainya, seperti yang pernah dikatakan Bisma. Dan sampai saat ini juga, peri kecil itu selalu membuat Jea merasa, bahwa Bisma tetap berada di sisinya. Meski, kenyataan yang dihadapi tidaklah seperti itu.

Setelah menghela napasnya panjang, dan mencoba menenangkan hatinya, perlahan-lahan Jea turun dari tempat tidur. Mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu, kemudian masuk ke kamar mandi. Mengguyur segala beban di hatinya, dengan segarnya air dingin. Agar semua beban berat itu, ikut terbawa pergi bersama air yang membersihkan tubuhnya.

* *

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »