Bab 2: Bayanganmu, cerpen fiksi | Susanti Mudiyono


Bab 2 : Bayanganmu

"Pagi, Ma?" Sapaan itu tak lagi ceria seperti biasanya.

Sanjea Riskia, gadis tomboy yang banyak bicara dan ramai, kini menjadi sosok pendiam dan tertutup. Tidak pernah lagi terdengar teriakan Jea di rumah besarnya, atau perkelahiannya dengan Dika yang selalu memenuhi hari-hari mereka. Kini semua itu tidak pernah lagi terlihat, meski berkali-kali Dika mencoba memancing emosi Jea seperti dulu. Gadis itu hanya menatapnya datar, kemudian kembali sibuk dengan apa yang sedang dilakukannya.

"Hello, Dikadok, Dika yang mirip kodok!" Dika sampai meridukan panggilan itu dari kakaknya. Dulu, Jea selalu memanggilnya seperti itu. Dan Dika langsung melawannya, hingga terciptalah perkelahian mulut di antara mereka. Atau terkadang mereka sampai adu karate di ruang tamu rumah mereka yang luas. Walaupun anak ayah dan ibu hanya mereka berdua, namun rumah seperti berpenghuni satu klub sepak bola.

"Jeje Ojek! Lihat, tuh, rambutnya, mirip ekor kuda. Kusam dan jelek!" ledek Dika seperti biasanya.

"Makan yang bener, walau ini hari minggu, jangan males-malesan di rumah. Setelah sarapan langsung belajar!" ujar Jea datar.

Dika terdiam kecewa. Menatap Jea yang sedang menjatuhkan tubuhnya di atas kursi samping ibu mereka duduk. Rambut panjangnya diikat ekor kuda seperti biasa, dan dimasukkan dalam lubang topi bagian belakang. Mengenakan kemeja kotak-kotak kebesaran warna abu-abu. Celana jeans-nya sedikit kebesaran dipadukan dengan sepatu kets putih kusam. Meskipun anak gadis, Jea terhitung kurang peduli pada penampilannya.

"Belum ada kabar dari Bisma, Je?"

Pertanyaan itu membuat Jea tersentak. Segelas susu yang hampir saja menyentuh bibirnya, kembali menjauh dan diletakkan di atas meja. Wajah Jea langsung berubah. Kesenduannya tadi berubah menjadi semakin sedih. Walau begitu, Jea memang selalu menyembunyikan perasaannya dari semua orang. Dia tidak pernah mau berbagi cerita pada siapa pun seperti dulu. Bahkan sekedar menumpahkan keresahan hati pada keluarganya.

"Belum, Ma," jawabnya singkat. "Jea ada kelas pagi. Jea berangkat dulu, assalamu'alaikum....­"

Begitu cepat Jea bangun dan pergi. Menyisakan keterkejutan di hati ibu dan Dika, saat menjawab salamnya lirih. Sepertinya ibu menyesal menanyakan hal itu pada Jea. Dan Dika, nampaknya juga ingin menyalahkan ibu atas pertanyaan itu.

"Kenapa Mama nanyain Kak Bisma sama Kak Jea, sih? Kak Jea jadi pergi, 'kan?" ujar Dika.

"Kakak kamu pergi karna ada kelas pagi," jawab Ibu membela diri.

"Kelas pagi apanya? Kak Jea, kan, nggak kuliah hari minggu," sahut Dika semakin kesal.

Ibu baru menyadari alasan Jea yang tidak masuk akal itu. Bagaimana Jea kuliah, sementara Dika masih di rumah karena libur. Jelas sekali kepergian Jea itu karena ia ingin menghindari semua hal yang berhubungan dengan Bisma. Sejak kepergian Bisma enam bulan lalu, hidup Jea berubah derastis.

Sementara itu, Jea sudah berlalu pergi meninggalkan rumah. Mengendarai sebuah sepeda motor matic, yang menjadi kendaraan kesayangannya. Kendaraan yang selalu setia mengantarkan ke mana pun Jea pergi. Juga kendaraan yang menyimpan begitu banyak kenangannya bersama Bisma. Seperti jiwa Bisma sudah tertinggal dalam setiap bagian dari motor itu.

"Belum ada kabar dari Bisma, Je?"

Pertanyaan itu kembali mengganggu pikiran Jea. Matanya terfokus pada jalan, namun angannya tidak. Konsentrasinya jelas terbagi pada beberapa hal. Dan pertanyaan dari ibu itu salah satunya.

Sudah enam bulan berlalu, dan selama itu tidak pernah lagi terdengar kabar dari kekasihnya. Nomor ponselnya tidak aktif. Di rumah kontrakannya tidak ada. Di kampusnya, bahkan Bisma sudah mengambil cuti sejak semester kemarin. Bisma bukan hanya meninggalkan Jea, namun menghilang seperti ditelan bumi. Sampai seluruh teman dan sahabat Bisma tidak ada yang tahu, kemana Bisma pergi.

Satu hal yang membuat Jea ingin tahu, kenapa tidak ada satu pun jejak Bisma yang tertinggal? Jika ini cara Bisma mengakhiri hubungan mereka, harusnya ada penjelasan lewat apa pun juga. Termasuk jika itu dari seorang gadis yang menjadi kekasih baru Bisma. Meskipun itu sakit, Jea pasti menerimanya dengan ikhlas. Tapi, menghilangnya Bisma ini jelas bukan untuk hal itu.

"Je, gue juga nggak tahu Bisma ke mana. Terakhir gue ketemu dia enam bulan lalu juga. Gue nggak nyariin dia karna gue pikir Bisma itu pulang ke kampung halamannya, tapi sampai sekarang nggak balik-balik juga," jawab Rangga saat Jea menemuinya dua minggu yang lalu. Sahabat yang paling dekat dengan Bisma itu pun, sampai ikut kebingungan mencari di mana keberadaan Bisma.

"Lalu kuliahnya?"

"Gue dapat kabar ini tadi pagi, katanya Bisma udah ngambil cuti kuliah sejak satu tahun yang lalu."

"Tapi, ini tahun terakhirnya, kenapa dia malah ngambil cuti?"

"Gue juga nggak tahu, Je. Bisma emang orangnya tertutup banget. Dan kalaupun dia punya masalah yang besar, dia paling bisa nyembunyiinya."

"Apa itu berarti Bisma punya masalah besar?"

"Gue nggak tahu."

Semua ingatan itu membuat pikiran Jea semakin kacau. Akhirnya Jea memutuskan untuk menepikan motornya dan berhenti. Duduk di tepi trotoar, di bawah sinar matahari yang terik. Udara mulai panas meski ini belum pukul sembilan pagi. Dan melihat jalanan di depannya yang semakin padat, membuat cuaca terasa semakin gerah juga.

'Bi, sebenarnya kamu itu ke mana, sih? Kalau kamu udah nggak betah sama aku dan pengen pergi, nggak gini caranya. Kamu bisa bicara baik-baik sama aku!' keluh Jea di dalam hatinya. Kedua matanya menerawang kosong, jauh ke depan.

Begitu banyak kendaraan bermotor di depan Jea saat ini. Entah itu mobil ataupun sepeda motor. Setiap kendaraan tersebut pasti memiliki pengemudi, terkadang ada penumpang lain bersama sang supir. Itu berarti jumlah orang yang ada di depan Jea saat ini jauh lebih banyak dari kendaraan yang terlihat. Jea bertanya dalam hatinya, apakah salah satu kendaraan itu bisa berisi Bisma? Mungkin di balik kaca mobil, atau wajah di dalam salah satu helm. Bahkan bertemu dengan Bisma di jalan dengan tanpa sengaja seperti di sinetron pun selalu menjadi harapan Jea.

Tiba-tiba pandangan Jea menbentur sosok yang membuatnya sangat terkejut. Keningnya mengerut dan kedua matanya menyipit kecil. Seorang pria berhelm putih, mengenakan jaket biru tua yang sangat Jea kenali. Tubuhnya kecil dan tidak terlalu tinggi. Dari caranya menggerakkan anggota tubuh, sampai caranya berjalan saat turun dari kendaraan, sangat mirip dengan seseorang yang Jea kenal. Ia sedang membeli minuman di kedai pinggir jalan, setelah itu langsung naik kembali ke atas motornya dan pergi.

"Bisma," gumam Jea lirih.

Sebelum kehilangan jejak pria itu, Jea segera naik ke motornya. Menghidupkan mesinnya lagi dan segera pergi. Bahkan ia nekat memotong jalan raya yang sedang sangat padat itu. Ramai suara klakson kendaraan lain pun sama sekali tidak dihiraukan. Pikiran dan konsentrasi Jea hanya tertuju pada pria yang mirip dengan Bisma tadi.

Pria itu menuju pinggiran kota Jakarta. Memasuki gang-gang sempit, di daerah kampung-kampung kumuh. Jea masih belum melepaskannya, meski kondisi jalanannya semakin rusak, bahkan becek. Gang sempit yang hanya muat untuk satu motor itu, sudah dianggap seperti landasan pesawat terbang yang luas. Sesulit apa pun jalannya, Jea akan tetap mengejarnya.

Sampai pria itu berhenti di depan sebuah rumah kecil berpagar bambu. Jea juga berhenti dalam jarak sekitar dua puluh meter. Mengamatinya dengan seksama, dan memastikannya dengan baik.

Tak lama kemudian seorang wanita keluar dari dalam rumah berpagar bambu tersebut. Ia menggendong seorang bayi yang usianya tidak lebih dari empat bulan. Pria itu membuka helm-nya saat wanita yang bisa dipastikan adalah istrinya itu mencoba meraih tangan si pria dan menciumnya. Mereka tampak seperti keluarga yang sangat bahagia dengan satu orang anak.

"Apa bener itu Bisma? Dan apa ini alasan dia pergi ninggalin gue gitu aja?" tanya Jea berbisik pada dirinya sendiri.

Perasaan Jea semakin gelisah. Setelah pria itu melepas helm-nya pun tampak begitu jelas jika sosok itu memang Bisma. Rambutnya memang sedikit pendek, namun lurus dengan gaya rambut yang begitu khas dengan Bisma. Dengan tidak menoleh pada Jea, justru membuat gadis itu semakin penasaran.

"Apa gue harus berpura-pura lewat ke sana? Dan kalau bener itu Bisma, apa yang harus gue lakuin?"

Jea semakin bingung. Di satu sisi hatinya mendorong agar Jea mendekat, di sisi lain hatinya menahan agar Jea tetap tenang di tempatnya. Karena sesungguhnya Jea pun tidak akan sanggup menerima kenyataan jika benar kekasih yang sangat dipercayainya itu ternyata sudah berkeluarga. Bahkan itulah yang menjadi alasannya meninggalkan Jea begitu saja. Tidak, Jea tidak akan sanggup.

Namun, saat pria itu mengangkat tangan kirinya untuk menyentuh pipi si bayi, dada Jea kembali berdegup kencang karena melihat gelang yang dipakai pria itu sama persis dengan gelang milik Bisma. Sedangkan Jea tahu, gelang itu dibuat sendiri olehnya dan Bisma saat mereka berlibur ke rumah kakek Jea di Semarang. Tentu saja tidak akan ada yang menyerupai gelang tersebut. Kali ini Jea yakin, dia pasti Bisma!

Tanpa berpikir panjang Jea langsung berjalan cepat menghampiri pria itu. Tak peduli apa yang akan dilakukannya nanti. Tak peduli rasa sakit yang akan ia derita. Itu akan lebih baik daripada berada dalam ketidakpastian selama berbulan-bulan. Saat Jea semakin dekat, wanita itu menatapnya, membuat pria itu juga menoleh ke arah Jea. Saat itu Jea bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah si pria. Tentu saja dia bukan Bisma, hanya sosoknya saja yang hampir sama.

Jea tersentak. Ia diam mematung berdiri di depan pasangan tersebut. Mereka menatap Jea dengan bingung. Apalagi saat melihat keterkejutan yang tampak di wajah Jea. Seolah-olah ia sedang melihat hantu.

"Ada yang bisa kami bantu?" Lembut wanita itu bertanya. Ia sangat cantik. Pria di hadapan Jea juga cukup tampan. Meski bagi Jea tidak akan ada yang lebih tampan dari Bisma.

"Mmm," gumam Jea bingung. "Ini gang apa, ya?" tanya Jea sekenanya.

"Ini Gang Cempaka, Mbak. Rumah siapa yang Anda cari?" jawab wanita itu, beserta pertanyaannya.

"Wah, kalau gitu saya salah masuk gang. Makasih, ya, Mbak. Maaf, jadi ganggu," ujar Jea berdusta.

Ia segera pergi tanpa memedulikan jawaban dari wanita ramah itu. Kembali pada motornya, dan berharap bisa segera menjauh dari mereka. Namun, Jea sempat menatap kembali gelang yang dipakai pria tersebut dan memastikan apakah benar itu sama. Ternyata tidak. Hanya sedikit mirip, tapi jauh berbeda. Sepertinya kerinduan juga membuat penglihatan Jea memburuk.

Di satu sisi Jea merasa malu, meski mungkin mereka tidak mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Jea. Di sisi lain Jea juga lega, karena pria itu bukan Bisma. Namun, sebenarnya ia juga kecewa. Ia sudah sangat berharap, bahwa dialah orang yang sedang dicarinya.

"Suatu saat nanti, kamu pasti akan merindukan kejutan ulang tahun kamu ini, Je."

Ucapan ayahnya kembali terngiang di telinga Jea. Memang benar apa yang dikatakan beliau. Ulang tahun itu, adalah kejutan ulang tahun ter-extrim yang pernah diterima Jea. Ia sempat kesal malam itu, namun saat ini Jea benar-benar merindukan hari ulang tahunnya tersebut. Hari ulang tahun terakhir, dan kejutan terakhir dari Bisma. Bahkan kalung yang saat ini tengah diremasnya, juga merupakan hadiah ulang tahun terakhir dari Bisma.

"Bisma, aku kangen banget sama kamu," bisik Jea lirih. Suaranya terdengar berat, dengan isyak lirih yang mencoba ditahannya.

Enam bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah penantian tanpa kejelasan. Enam bulan adalah waktu yang sangat menyiksa untuk Jea. Ia yang terbiasa hidup bersama Bisma selama bertahun-tahun sebagai kekasihnya, dengan berlimpah rasa cinta dari Bisma yang sangat besar, kini ia menjalani hari-harinya dalam sepi tanpa kehadiran pria itu lagi. Seperti gitar yang kehilangan dawainya, begitulah hidup Jea sekarang.

Sebelun pergi, Jea kembali menatap pasangan tersebut. Mereka akan masuk ke dalam rumah. Si pria merangkul bahu istrinya mesra. Sembari menggoda bayi mereka agar tersenyum. Sungguh keluarga yang sangat bahagia. Jea selalu berharap bisa merasakan itu bersama Bisma, namun apakah masih mungkin terjadi?

Bersambung...

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »