Dandelion Untuk Reza

Anda dapat menggunakan data untuk melihat foto

Lihat Semua Foto

Pernahkah kita tahu tentang bunga dandelion, yang tersembunyi di balik ilalang? Bunga dandelion bukanlah bunga hias yang terpajang di taman kota, bunga dandelion tidak pernah dilirik orang, karena tidak indah, warnanya putih seperti kapas. Lihatlah, Dandelion memiliki tangkai yang kecil dan rapuh, angin pun selalu menerbangkan serpihan-serpihan kecil bunganya itu. Bunga dandelion memang terlihat sangat rapuh, namun sangat kuat dan memiliki arti yang sangat dalam. Kuat menentang angin dan terbang tinggi menerjang angkasa dan dunia yang sangat kejam untuknya. Angin yang menerbangkan kelopak dandelion itu, membuat dandelion menjadikan tumbuhan yang kuat, meskipun serpihan-serpihan bunga kecil yang seperti kapas itu terbangkan oleh angin, yang entah akan sejauh apa angin membawanya pergi, tapi itu menjadikan dandelion sebagai tumbuhan dengan batang yang kuat, meski rapuh terlihat. Kemana angin membawa kelopak bunga dandelion itu pergi? Entahlah, tetapi dandelion akan tumbuh kembali seperti bunga yang cantik, meskipun angin selalu mencoba mengugurkannya kembali.

Tidak seindah mawar merah, tidak pula seharum bunga melati, dandelion adalah bunga yang memiliki tangkai kecil dan sederhana, juga memiliki arti yang sangat dalam bagi kehidupan. Meskipun angin menyeretnya untuk terbang menjelajah jagat raya, tujuannya hanya satu; serpihan kecil bunga dandelion akan tumbuh kembali saat ia mendarat di tempat baru, meskipun pada akhirnya angin terus mengajaknya terbang meninggalkan tangkainya. Meskipun keberadaannya seringkali tersembunyi di balik ilalang, tapi itu tidak melunturkan keteguhan dan ketulusan sang dandelion, sekalipun ilalang itu berubah menjadi bunga matahari. Meski dandelion di pandang sebelah mata, dan tidak pernah dianggap sebagai bunga hias seperti mawar dan melati ataupun anggrek, tapi ia tetap menjadi dandelion yang tangguh, menapakki kehidupannya dengan tulus, meskipun harus di pandang sebelah mata.

Sama halnya, dengan seorang pemuda bernama Reza Anugrah Sigma, dia adalah seorang mahasiswa jurusan arsitek di Universitas Raja Karisma. Reza adalah pemuda yang menghabiskan masa kecil di jalanan, sampai detik ini, umurnya yang genap dua puluh tiga tahun, ia tumbuh menjadi pemuda mandiri, meskipun orang selalu memandangnya sebelah mata. Menyedihkan, bahkan Reza tidak tahu siapa kedua orangtuanya? Dari mana ia berasal? Mengapa ia hidup di jalanan? Terkadang dalam hatinya ia selalu menjerit: 'Oh Tuhan, di mana kedua orangtuaku? Aku rapuh, Tuhan.. Aku rapuh, jika harus menghadapi kejamnya dunia hanya seorang diri,' jeritnya selalu terdengar merintih.

Terkadang, Reza selalu melampiaskan kemarahannya dengan meminum minuman keras, berperilaku buruk, meskipun pada akhirnya ia mengerti, itu hanya akan membuat lukanya semakin dalam. Bahkan, kini Reza memutuskan untuk tidak mengerti cinta, tidak mempercayai cinta, baginya cinta itu semua hanya ada dalam sebuah dongeng yang mengantarnya tidur. Walaupun begitu, Reza adalah pemuda yang cerdas, ia mendapatkan beasiswa di Unraka (Universitas Raja Karisma), sehingga ia bertemu dengan Ilham, Ilham yang menganggap Reza adalah Kakaknya. Ilham berusaha untuk membuat Reza berubah, dengan cara mengenalkan Sharen--sepupu Ilham--pada Reza, awalnya Reza menolak sangat keras untuk itu. “Gue gak butuh cinta! Gue hidup dalam gelap, dunia gue udah kejam, percuma! Asal lo tahu juga, Ham, cinta itu gak ada di dunia nyata, cinta itu hanya ada di cerita fiksi dan dongeng pengantar tidur, doang!” Tegas Reza, namun Ilham terus mencoba menjelaskannya. “Mau sampai kapan lo kayak gini? Lo butuh cinta, Za. Lo butuh itu, karena lo butuh cahaya dalam hidup lo yang gelap itu. Sharen itu sepupu gue, gue yakin lo pasti banyak belajar dari dia. Karena Sharen adalah cewek yang memiliki cerita kehidupan yang pahit kayak lo,” ucap Ilham.

“Gak akan ada orang sesedih gue, Ham, gue adalah orang yang paling menyedihkan di dunia ini, setiap tahun gue rayain ulangtahun gue cuma sendiri, ngucapin sendiri, apa-apa sendiri, bahkan gue gak tahu muka bokap nyokap gue kayak apa. Mereka gak peduli sama gue, gak peduli. Hidup gue bener-bener gelap, gue bisa apa? Gue cuma orang yang kepaksa harus menerima keadaan pahit ini,” ucap Reza dengan nada yang benar-benar memancarkan kepedihan yang sangat mendalam.

“Za, gue udah nganggep lo Abang gue sendiri. Gue gak pernah maksa apa-apa ke elo. Cuma gue pengen lo kenal sama Sharen, kalau emang lo masih gak mau juga, yaa gue gak maksa, Za,” Ucap Ilham seraya menepuk bahu Reza. Reza hanya diam saja, mungkin maksud dari Ilham baik membantunya untuk move on dari dunia gelapnya. Namun, Reza selalu berkata 'memangnya move on itu segampang saat lo buang sampah? Nggak! Butuh proses'

“Makasih, gue tahu maksud lo baik, Ham. Lo emang satu-satunya orang yang selalu ada buat gue. Lo satu-satunya orang yang nganggep gue ada, disaat semua orang nganggep gue lebih dari sampah. Terima kasih,” ucap Reza, Ilham pun tersenyum.

“Karena gue udah nganggep lo Abang gue sendiri,” jelas Ilham tersenyum.

***

Beberapa hari kemudian, Reza yang kini tengah duduk di taman kampus seraya memainkan ponselnya itu. Reza terlihat tidak peduli dengan sekitarnya, ia hanya fokus ke layar sentuh ponselnya. Lalu, tiba-tiba sebuah kertas berbentuk menyerupai pesawat terbang itu mendarat tepat dipangkuannya.

“Pesawat kertas?” Pekik Reza, lalu ia pun mencoba mengambil pesawat kertas itu, dan ternyata terdapat sebuah tulisan di sana.

'Kamu, adalah seorang dandelion yang tangguh, tahu bagaimana cara menentang angin, meski kadang terlihat rapuh, tapi kamu adalah dandelion yang kuat.' Begitulah tulisan dari pesawat kertas itu, kemudian tak lama ada seseorang yang menghampiri Reza, seseorang itu mengulurkan tangannya untuk meminta pesawat kertas itu.

“Ini punya lo?” Tanya Reza, orang itu hanya mengangguk. Namun tiba-tiba, seseorang itu tanpa sengaja menumpahkan jus yang ia pegang di jaket Reza, karena temannya yang sengaja menabraknya. Terlihat Reza memasang wajah kesal pada seseorang itu, namun seseorang itu hanya mampu meminta maaf dengan menempelkan kedua telapak tangan, meminta maaf lewat isyarat tangan.

“Ck, Jaket gue basah!” Cetus Reza, lalu Reza membuka jaketnya, dan membuang jaketnya. Namun seseorang itu hanya mampu meminta maaf lewat isyarat tangan dan raut wajah.

“Ada apa, Za?” Tiba-tiba Ilham datang.

Namun Reza hanya memasang wajah kesal pada seseorang yang menumpahkan jus di jaketnya.

“Lho, Sharen?” Pekik Ilham pada seseorang yang tanpa sengaja menumpahkan jus di jaket Reza. Kemudian Reza terkejut. Ya, seseorang itu adalah Sharen, tapi mengapa Sharen hanya bungkam dan dam saja seolah bisu.

“Sharen?”

Kemudian gadis bernama Sharen itu hanya mampu bicara isyarat tangan, Ilham mengerti. Namun Reza seperti menatap keduanya aneh. Tak lama, Sharen pun pergi dan mengambil pesawat kertas dari tangan Reza, Reza tersentak, ada apa yang terjadi dengan gadis itu? Sharen pun berlalu, Reza menatap aneh Sharen yang semakin hilang dalam pandangannya. Dengan perlahan Ilham mulai menjelaskan pada Reza.

“Sharen adalah gadis bisu, dia gak bisa bicara. Dia seorang tuna wicara. Tapi dia adalah gadis pecinta puisi, udah belasan bahkan puluhan puisi yang terlahir dari tangannya. Dulu dia bisa bicara, tapi karena kecelakanan yang merenggut pita suaranya. Dulu juga dia seorang pembaca puisi, dia mendapatkan banyak piala puisi sejak SMP sampai SMA, tapi semuanya itu berubah ketika dia menjadi bisu, namun ada satu tumbuhan yang paling ia senangi dan menjadi motivasi untuknya, ya, bunga dandelion,” jelas Ilham.

“Dandelion?”

DEG.

Seketika perasaan Reza berubah mengiba pada gadis bernama Sharen itu, entah mengapa hati Reza seolah luluh. Timbunan es abadi dalam hati Reza seolah mencair, kehidupannya nyaris pahit seperti Sharen, tapi Sharen seolah menikmati hidupnya yang pahit, mengapa Reza kalah dengan Sharen? Itu yang dipikirkan Reza.

***

Dengan seiring berjalannya waktu, dengan seringnya bertemu, membuat dua orang yang berteman itu saling mengerti perasaan satu sama lain. Cinta bukan hanya datang dalam pandangan pertama, tapi ia akan datang karena seringnya bertemu. Reza mulai dekat dengan Sharen, dan melupakan semua kehidupan gelapnya. Bahkan dulu, Reza pernah memiliki teman perempuan club malam yang bernama (namalengkapmu), tapi kini Reza sudah tidak lagi bertemu dan berteman dengan (namakamu). (Namakamu) adalah teman mabuk Reza di bar malam, tapi kini tidak lagi, Reza seolah menemukan setitik cahaya dalam hidupnya. Lihatlah, Sharen dan Reza nampak duduk berdua, meskipun pada Sharen bisu, tapi sering kali ia menuliskan kalimat dalam note kecil yang selalu ia bawa kemanapun.

“Lo hidup dalam tempat yang penuh dengan cahaya. Sementara gue, gue hidup dalam kegelapan yang mencekam. Kadang gue benci kehidupan gue, semua gak ada yang peduli sama gue. Kecil, besar, gue udah tebiasa dipandang sampah sama semua orang. Lo cuma gadis bisu, tapi lo berarti buat gue, meskipun pada akhirnya lo gak mampu buat ngucapin kata CINTA buat gue, setidaknya lo adalah setitik cahaya dalam gelapnya hidup gue,” ucap Reza, Sharen hanya tersenyum. Lalu, Sharen menulis diatas note kecil, setelah itu, ia beberkan tulisannya pada Reza.

'Kita adalah sepasang bunga dandelion, hidup dalam kejamnya dunia, tapi kita tahu bagaimana caranya hidup kembali dalam lembaran baru setelah terseret angin kencang.' Tulisan Sharen, Reza yang membacanya dalam hati hanya tersenyum kearah Sharen.

***

Berselang bebarapa bulan, kedekatan Reza dan Sharen begitu harmonis, namun keduanya tidak saling mengungkapkan perasaannya, padahal mereka saling suka. Reza juga mulai memahami cinta, karena hadirnya Sharen membuatnya semakin bersemangat untuk terus melangkah ke depan. Karena memang masalalu hanyalah sebuah sejarah yang harus dijadikan pelajaran, bukan untuk kembali diulang. Sejak seminggu terakhir ini, Sharen tidak memberikan kabar kepada Reza, bahkan mereka sangat sulit untuk bertemu, membuat Reza sangat dilema, apa yang terjadi dengan Sharen (?) Tiba-tiba, Ilham datang dengan wajah sangat panik, membuat Reza terkejut dibuatnya.

“Za, Sharen, Za! Sharen,” ucap Ilham dengan nafas yang terengah-engah.

“Sharen kenapa? Coba lo ngomongnya dengan tenang,” ucap Reza.

“Sharen kecelakaan saat dia membeli kue ulangtahun buat lo,” jelas Ilham berusaha semaksmal mungkin untuk mengatur nafasnya yang tak beraturan.

DEG.

“APA?!!”

“Iya, sekarang lo harus kerumah sakit!” Ajak Ilham. Reza dan Ilham pun bergegas menuju rumah sakit, terlihat wajah Reza yang sangat panik, berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk menimpa Sharen, setidaknya Sharen harus selamat dari kecelakaan tersebut.

***

Sesampainya di rumah sakit, Reza berlari menelusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi, ini malam hari, gelap gulita mencekam, Reza seperti seseorang yang kehilangan arah hidup dan tujuan hidupnya. Lalu, langkahnya terhenti saat sebuah brankar melintas dihadapannya.

DEG, DEG. Seseorang yang terbaring di brankar tersebut adalah jasad Sharen, terlihat wajahnya yang berlumur darah, seketika seluruh badan Reza gemetar, buliran bening jatuh dari mata indahnya, berulang kali ini berkata dalam hati “INI ADALAH MIMPI!” Namun, ini adalah kenyataan, mencoba berharap ini adalah mimpi, ini mimpi, ia terus berharap seperti itu, namun kenyataan berkata lain, Sharen pergi untuk selama-lamanya. Setitik cahaya itu pergi lagi, kenapa angin selalu mencoba mengugurkan serpihan-serpihan kecil bunga dandelion lagi? Ini berat untuk Reza.

'ENGKAU MENGGORESKAN KACA DILENGANKU, APAPUN KAN KU LAKUKAN KU INGIN LUPAKAN!'

Dimensi memory Reza seolah memutar kembali kenangan yang pernah terjadi antara dirinya dan Sharen, haruskah ia kembali menangisi kenyataan? Haruskah ia melampiaskannya dengan minuman keras? Haruskah semua ini terjadi? Bahkkan berulang kali batin Reza menjerit: 'bangunkan aku dari mimpi buruk ini, Tuhan..' Batin Reza menjerit. Suara tangisan yang pilu merintih sangat jelas terdengar, Reza amat sangat terpukul, ia kembali dalam hidupnya yang kelam dan gelap gulita. Tuhan, berikan sedikit cahaya di hatinya.

***

Terlihat seorang suster ber-namtage Agnes Rahayu, ia sedang berjalan menelusuri lorong rumah sakit, namun Agnes seperti melihat bayangan putih sedang menangis, bayangan beraut wajah cantik berambut panjang itu sedang menangis, menyaksikan pria yang ia cintai menangis, padahal ia belum sempat menagatakan cinta. Suster bernama Agnes yang memiliki anugrah indra ke-6 yang mampu melihat makhluk halus itu, menghampiri bayangan putih tersebut.

“Kamu kenapa menangis?” Tanya suster Agnes.

“Kamu bisa melihatku? Hiks...” Tanya bayangan putih itu, ya, bayangan putih itu adalah ruh Sharen.

“Aku mampu melihat makhluk halus, ini anugrah Tuhan, kenapa kamu menangis?” Tanyanya lagi.

“Aku nangis, karena aku pergi tanpa mengucap kata cinta untuk seseorang, aku mencintainya, aku hanya ingin dia tahu, tapi aku malah harus pergi, aku ingin hidup kembali,” ucap Sharen.

“Penyesalan selalu datang di akhir, aku rasa kamu memiliki waktu tiga hari untuk kamu berusaha menjelaskan perasaanmu pada kekasihmu itu, sebelum pada saatnya kamu benar-benar pergi,” ucap Agnes.

“Apa? Caranya?”

“Disini ada pasien bernama (namalengkapmu), dia tak sadarkan diri selama tiga hari karena meminum miras yang cukup banyak, kamu bisa memakai raga-nya selama tiga hari kedepan,” ucapnya.

“Lalu bagaimana nanti Reza akan percaya kalau itu aku? Sementara rupanya sudah beda.”

“Soal rupa boleh berbeda, tapi tentu hati bisa merasakannya, dengan hati, dia pasti akan merasakan hadirmu.” Ucap Agnes.

“Bagaimana aku bisa menjelaskan dan membuatnya percaya selama tiga hari?” Tanya Sharen.

“Hatinya yang akan menjawab pertanyaanmu itu,” jelas Agnes.

***

Lihatlah, Pasien bernama (namakamu) itu terbangun dari tidurnya, bukan, itu hanya raga (namakamu), ada ruh Sharen di dalam tubuh (namakamu). Dokter dibuat tercengang saat (namakamu) tidak sadarkan diri padahal semalam keadaannya sangat kritis.

“Saya harus pergi, dok. Saya cuma punya waktu tiga hari buat yakinin seseorang,” ucap (namakamu), dengan segera ia bangkit dari atas brankar dan melepaskan selang infusan yang menempel di punggung tangannya, dokter terkejut dibuatnya.

(Namakamu) pun berlari menuju kampus Unraka, dengan masih menggunakan kaos rumah sakit yang berwarna biru muda itu. Ia harus segera memberitahu Reza, ia harus meyakini Reza, agar ia pergi dengan tenang. Lalu, ia mendapati Reza yang tengah duduk termenung tersudut frustasi di ujung sana. Dengan segera (namakamu) pun menghampiri Reza.

“Za?”

Kemudian Reza pun menautkan alisnya sebelah.

“(Namakamu)? Ngapain lo disini? Kenapa pake baju rumah sakit?” Tanya Reza.

“Za, kamu harus percaya, aku ini Sharen, aku Sharen, aku adalah gadis bisu yang mencintai kamu,” ucap (namakamu). Kemdian Reza bangkit berdiri seraya memandangi (namakamu) dengan wajah yang cetus. “Omongan lo bener-bener gak lucu! Sharen udah meninggal!” Jelas Reza.

“Tapi aku Sharen, Za. Aku Sharen. Aku berada dalam raga (namakamu). Aku akan menjelaskan semuanya, Za. Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, sebelum aku bener-bener pergi, aku ingin kamu tahu kalau aku sayang sama kamu,” ucap (namakamu) berusaha terus meyakinkan Reza.

“Ini gak lucu!” Ucap Reza menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku cuma punya waktu tiga hari, plis aku mohon, percaya, aku ini Sharen.” ucap (namakamu) memohon.

“Sumpah, lo gak lucu, ini gak lucu! Lo tiba-tiba dateng terus lo ngaku kalau lo Sharen? Gak lucu!” Ucap Reza, namun matanya seperti menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam.

“Tapi...,” ucap (namakamu) terputus, tanpa peduli lagi Reza meninggalkan (namakamu), Reza tidak percaya, karena ini mustahil.

***

Sudah beberapa cara dilakukan Sharen agar Reza pecaya bahwa ruh Sharen saat ini bersarang dalam tubuh (namakamu) untuk tiga hari ini. Segala cara Sharen meyakini Reza, namun Reza tetap tidak peduli. Sudah dua hari waktu terbuang sia-sia, saat ini adalah hari terakhir untuk Sharen meyakini Reza, apakah Sharen akan berhasil? Entahlah. Lihatlah, Reza kini sedang berada di tengah-tengah para mahasiswa lainnya, Reza seperti sedang bernyanyi, dengan memangku sebuah alat musik gitar, ia bernyanyi dengan hati, sampai terdengar menyentuh menusuk ke hati.

'Aku yang lemah tanpamu.. Aku yang rentan karena, cinta yang tlah hilang darimu, yang mampu menyanjungku.. Selama nafas terbuka.. Sampai jantung tak berdetak.. Selama itu pun aku mampu untuk mengenanmu. Darimu.. Ku temukan hidupku.. Bagiku.. Kau lah cinta sejati.. Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu, kan ku jadikan kau kenangan, yang terindah dalam hidupku, namun takkan mudah bagiku meninggalkan jejakk hidupmu, yang tlah terukir abadi, sebagai kenangan yang terindah..'

Ini adalah hari terakhir Sharen berada dalam raga (namakamu). Sharen yang memperhatikan Reza dari kejauhan pun kini menghampiri Reza, saat ini Sharen telah menemukan cara untuk meyakini Reza dan membuat Reza percaya.

“Kita adalah sepasang bunga dandelion, hidup dalam kejamnya dunia, tapi kita tahu bagaimana caranya hidup kembali dalam lembaran baru setelah terseret angin kencang,” ucap (namakamu), lalu Reza pun menoleh kearah (namakamu), betapa mengejutkan saat (namakamu) berkata seperti itu, karena itu adalah kalimat yang pernah ditulis Sharen untuk Reza. Kedua pasang mata saling menatap, ada getaran aneh yang Reza rasakan dalam dirinya saat menatap mata (namakamu) yang sama persis dengan Sharen, meskipun memang (namakamu) dan Sharen adalah dua orang yang berbeda.

“Dia adalah Sharen-mu, ingin menjelaskan tentang cinta yang ada di hatinya, sebelum pada akhirnya akan benar-bener pergi meninggalkanmu. Cobalah untuk memahaminya, ini adalah hari terakhir untuk Sharen, setelah itu (namakamu) akan sadarkan diri,” ucap Agnes yang berada disebelah (namakamu), Reza pun menghampiri (namakamu).

“Kita pernah berbicara banyak tentang dandelion, maaf aku gak ngasih kabar ke kamu selama seminggu ini, hari ini tepat hari ulangtahunmu, aku sudah menyiapkan semuanya, namun aku harus pergi. Maafkan aku,” ucap (namakamu).

“Sungguh, awalnya aku tidak menyangkah kamu adalah Sharen-ku,” ucap Reza meneteskan airmata, lalu memeluk (namakamu) erat.

“Aku mencintaimu,” Jelas Reza.

“Aku mencintaimu, karena kamu adalah setitik cahaya dalam gelapnya hidupku, maafkan aku tak bisa berbuat banyak, aku hanya mampu mencintaimu dengan hatiku,” ucap (namakamu) dalam peluk Reza. Tes tes tes, airmata menetes seketika, Reza menangis, (namakamu) pun perlahan mulai menutup matanya.

“Aku akan bahagia jika mati dalam pelukmu. Selamat Ulang Tahun, Reza-ku” Ucap (namakamu) perlahan ia mulai menutup matanya, dan tak sadarkan diri dalam peluk Reza, Reza menangis. Lalu bayangan putih seolah--yang tak lain roh Sharen, keluar dari raga (namakamu), Sharen tersenyum ke arah Reza, Sharen terlihat lebih ceria.

“Kamu akan bahagia, (namakamu) adalah gadis yang tepat buat kamu,” ucap Sharen, lalu bayangan putih itu seolah tertiup angin dan hilang, terhempas oleh angin.

“Maafkan aku, seharusnya aku percaya kalau kamu Sharen. Maafkan aku, hiks,” ucap Reza merintih menangis, seraya memangku (namakamu) yang tak sadarkan diri.

“Sharen sudah pergi, sebentar lagi (namakamu) akan sadarkan diri, dan itu bukan Sharen lagi, tapi benar-benar (namakamu),” jelas Agnes. Menit kemudian, (namakamu) terbangun dari pingsannya, bahkan ia begitu heran mengapa posisinya kini berada dalam pangkuan Reza yang menangis merintih itu.

“Za? Kenapa lo nangis? Dan kenapa juga gue ada di sini?” Tanya (namakamu), Reza pun kembali memeluk (namakamu).

“Aku akan mencintaimu,” ucap Reza memeluk erat (namakamu). Sementara (namakamu) hanya terdiam tak mengerti.

Reza memutuskan dan memilih (namakamu) sebagai pemeran pengganti setelah Sharen, Sharen memberikan pelajaran yang sangat banyak untuk Reza. Sharen pun menjadikan (namakamu) adalah gadis yang tepat untuk Reza cintai, (namakamu) yang pernah frustasi karena masalah percintaan yang membuatnya harus berteman dengan minuman keras itu, nyaris senasib dengan Reza, meskipun persoalan Reza cukup rumit, tapi tenanglah, Reza sudah tahu tentang dandelion dari Sharen, itu yang menguatkan hatinya agar terus menebar kebahagiaan seperti dandelion.

'Dandelion untuk Reza : Kamu adalah sebuah puisi yang berjalan untukku, hadirmu sangat indah bagai bait puisi yang mengalunkan nada sejuk, genggaman tangamu bagaikan tangan sustra yang lembut tersentuh, genggam tanganku, jangan biarkan cinta itu pergi, karena Tuhan telah menganugerahkan rasa yang sangat indah dalam hati kita. Karena Tuhan, selalu punya cara untuk kita.

Terkadang sulit untuk aku menjelaskan perasaan suka ini, aku takut jika ada yang bilang cinta ini besar, karena cinta ini tidaklah besar, akan tetapi rasa tulus yang sederhana. Lihatlah, Dandelion selalu punya cara untuk hidup kembali dalam lingkungannya yang baru, setelah angin menyeretnya cukup jauh, setelah tumbuh, Dandelion akan kembali menerbar kebahagian dalam perjalanan hidupnya yang rapuh.'

“Kamu adalah cahaya dalam gelapnya hidupku, Light in the dark,” ucap Reza, saat ia menemukan (namakamu) yang terlihat memakai gaun pengantin.

“Kamu tampan mengenakan jas hitam, gagah,” ucap (namakamu).

“Hari ini kita menikah, akan menghabiskan masa tua kita bersama anak-anak kita nanti. Aku harap cinta ini akan abadi. Aku mencintaimu,” ucap Reza tersenyum.

Pada akhirnya, (namakamu) dan Reza menikah. Reza seperti sosok dandelion yang tumbuh seorang diri tanpa tahu siapa orangtuanya, ia pemuda kuat, tangguh, walaupun kadang terlihat rapuh. Meskipun kadang angin membawa serpihan kecil bunga dandelion terbang menjelajah angkasa, hingga ada saat dimana angin itu menjatuhkan serpihan dandelion di hati Sharen, kemudian angin itu kembali menyeret serpihan bunga kecil dandelion itu, dan serpihan itu kembali mendarat di hati (namakamu). Pada akhir cerita pun, dandelion itu tumbuh dan menebarkan kebahagian di hati (namakamu). So, meskipun dandelion adalah bunga yang nyaris terlupakan, tapi dandelion mempunyai makna yang dalam bagi kehidupan. Intinya, teruslah bersemangat meskipun kadang kita mendapatkan rintangan dan cobaan yang cukup berat, yakin, suatu saat pasti akan bahagia.

ENDING..

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »