Give Me Love Part (10) Cerpen Fiksi Cinta | Ryan Rinaldi

Kaki panjang Rafael langsung berubah menjadi ekor begitu ia tercebur kedalam air. Ia bergerak dengan cepat mencari keberadaan Uta. Matanya memandang kesana-kemari, ombak cukup besar

malam ini, bahaya jika Uta terus terbawa oleh ombak itu. Itu dia, Rafael menemukan orang yang ia cari. Uta, terlihat lemah tak berdaya dan bergerak pelan kebawah. Dengan cepat diraihnya tangan Uta dan menariknya. Membawanya kembali ke daratan sebelum Uta kehabisan nafas, ia yakin Uta juga sudah minum banyak air.

"Uta," Fany menggenggam tangannya sendiri. Ia bena-benar khawatir pada Uta. Uta sama sekali tidak bisa berenang. 

"Uta!" Seru Fany saat melihat Rafael muncul bersama dengan Uta yang sudah tak sadarkan diri. Fany membantu Rafael untuk mengentaskan Uta dari air dan menggeletakannya di batu-batuan pinggir laut itu.

Fany terperangah melihat Rafael yang tak diselimuti baju. Hanya seperti jaring-jaring dengan jarak lebar ditubuhnya. Pandangan Fany beralih kebawah dan ia terperanjat kaget dan hampir saja terjatuh. Bagaimana tidak, ia melihat Rafael memiliki ekor. Nafasnya menderu, ia tidak percaya ini. Jadi, Rafael adalah duyung? Fany menggeleng pelan.

"Fany, aku mohon jangan takut. Aku, nggak akan menyakitimu." Ucap Rafael.

"Aku... aku cuma kaget aja kok." Ucap Fany mengatur nafasnya agar kembali normal. 

"Maaf, aku menyembunyikan ini darimu." 

Fany menganggukan kepalanya mengerti. Ia mendekat ke Rafael, disentuhnya ekor Rafael dan benar saja, itu asli, terasa licin seperti sisik ikan pada umumnya. Rafael benar-benar seorang duyung. Baru kali ini ia melihat duyung secara langsung. 

"Kita sadarkan Uta." Ucap Rafael lalu menekan perut Uta beberapa kali dan berhasil membuat Uta memuntahkan airnya.

"Ughuk.. ughuk.." Uta terbatuk-batuk, ia mulai tersadar. Pandangannya yang kabur kini mulai jelas. 
Melihat sepupunya sadarkan diri, Fany menghela nafas lega. "Syukurlah." 

Uta menggerakan tubuhnya, merubah posisinya menjadi duduk. Dan seketika ia terkejut melihat apa yang ada dihadapannya. "Rafael!" 

"Iya. Inilah wujud asliku Uta." Ucap Rafael menatap Uta lurus.

"Aku mohon, jangan beritahu hal ini pada siapapun. Aku punya alasan kenapa aku disini, aku nggak akan menyakiti kalian atau manusia, percaya padaku." Ucap Rafael. Ia menatap Fany dan Uta secara bergantian, tatapan penuh harap. 

Fany menganggukan kepalanya. "Aku akan merahasiakannya."

Rafael beralih menatap Uta yang terlihat masih sedikit ketakutan melihat wujudnya yang setengah ikan. Apalagi Uta teringat cerita dari kakeknya tentang peperangan yang terjadi antara Duyung dan juga Manusia.

"Kamu udah menyelamatkan nyawaku, kan? Jadi, aku juga harus membalas kebaikanmu." Ucap Uta dengan keadaan yang basah kuyup.

Rafael tersenyum senang. Ia kembali merasa beruntung bertemu dengan dua teman barunya. Dua orang itu mau mempercayainya meski baru saja mengenalnya. Dan ketakutan yang terlihat di wajah Uta, ia bisa memahaminya. 

"Dan sekarang, aku harus kembali ke kerajaan bawah laut. Besok pagi, aku akan pulang." Ucap Rafael.

Fany menganggukan kepalanya, begitu juga dengan Uta. Keduanya memandang Rafael yang kembali menceburkan dirinya ke lautan, dan perlahan Rafael berenang semakin kedalam dan tak terlihat.
Detik berikutnya Fany menatap Uta, tanpa mengatakan apapun ia langsung memeluk Uta. Ia bahagia bisa tetap bersama sepupunya itu.

~~☆☆☆☆☆~~

Rafael berenang mencari keberadaan ibunya. Ia mendatangi tempat dimana ibunya biasa beristirahat, tapi ia tak mendapati ibunya ada disana. Dimana ibunya? Apa ibunya pergi ke daratan untuk menemuinya? Tapi, selama perjalanan ke kerajaan bawah laut ia sama sekali tidak bertemu atau sekedar berpapasang dengan ibunya.

"Rafael, ada apa?" Tanya salah satu panglima kerajaan, Niran.

"Apa kamu tau ibuku dimana?" Tanya Rafael.

"Bibi Amira? Sedari tadi aku tidak melihatnya. Mungkin ia sedang rapat dengan Dewan Kerajaan yang lain." Jawan Niran.

Rapat ya? Mungkin juga sih, mengingat tak lama lagi kepemimpinan Ratu Beryl akan berakhir dan digantikan oleh Putri Agysta. 

"Paman." Seru Rafael saat melihat Cirrilo lewat.

Rilo berhenti mendadak dan menoleh ke arah sumber suara. "Ada apa Rafael?" Tanyanya.
"Ibu, apa paman melihat ibu?"

Rilo menggelengkan kepalanya. Ia juga baru menyadarinya, sejak tadi siang ia tak melihat Amira. Apa Ratu Beryl tengah memberikan tugas pada Amira? 

"Paman, manusia saat ini sedang mencari keberadaan kita." Ucap Rafael.

"Apa katamu?" Seru Ratu Beryl mendengar apa yang baru saja Rafael katakan.

"Benar Ratu, itu karna ada salah satu manusia mengambil gambar duyung yang tidak sengaja ia lihat." Ucap Rafael.

Ratu Beryl terhenyak, itu adalah dirinya. Manusia yang tanpa sengaja ia temui waktu itu, ternyata sudah berani mengambil gambarnya.

"Apa yang harus kita lakukan Baginda Ratu? Apa kita akan melakukan penyerangan sebelum ada duyung yang menjadi korban." Sahut Eraldo.

"Tidak Eraldo!" Tolak Rafael mentah-mentah. "Kalau kita menyerang Manusia, sama saja kita bunuh diri. Alat yang digunakan manusia lebih canggih. Dan satu hal yang harus kalian ketahui, tidak semua manusia itu jahat.
Mereka sama seperti duyung, ada yang baik dan juga ada yang jahat. Kenapa kita tidak coba untuk berdamai dengan manusia?" Ucap Rafael panjang lebar.

Banyak yang terkejut mendengar perkataan Rafael yang terkesan membela manusia. Apalagi Ratu Beryl, ia benar-benar marah dengan sikap Rafael yang lebih membela manusia. Ia membatalkan 

niatnya untuk menikahkan putrinya dengan Rafael. Ia tak mau, kalau sampai Rafael memegang alih tahta kerajaan dan akan banyak perubahan peraturan kerajaan.

"Rafael, apa yang kamu katakan?" Ucap Amira yang tiba-tiba muncul.

"Ibu, aku mengatakan yang sebenarnya. Bukankah lebih baik jika kita hidup berdampingan dengan manusia? Kita tidak perlu khawatir lagi, kita tidak perlu takut lagi." Ucap Rafael.

"Cukup!" Sentak Ratu Beryl. "Kamu tidak berhak berkata seperti itu." 

"Tanpa mengurangi rasa hormat Ratu. Bukankah kita bebas berpendapat? Bagaimanapun, kita juga harus mendengarkan suara dari rakyat bukan?" Tanya Rafael dengan santai.

"Kurang ajar! Berani sekali kamu melawanku?" Ucap Ratu Beryl berapi-api.

"Ibu, yang dikatakan Rafael itu benar." Sahut Agysta. Agysta memang setuju dengan apa yang Rafael katakan. Selain karna ia menyukai Rafael, juga karna ia tak mau ada peperangan lagi antara Manusia dan Duyung.

"Agysta!" Bentak Ratu Beryl yang langsung membuat Agysta mengkerut.

"Mohon ampun Ratu atas apa yang anakku katakan." Ucap Amira.

"Ibu, ibu tidak perlu minta maaf." Sahut Rafael.

Emosi Ratu Beryl semakin menjadi. "Lancang sekali kamu Rafael! Eraldo, Niran, bawa dia ke penjara. Dan jabatannya sebagai panglima kerajaan aku cabut." 

Eraldo dan Niran segera menjalankan perintah Ratu Beryl. Keduanya mendekat ke Rafael dan masing-masing menggenggam satu tangan Rafael. Rafael sama sekali tak melakukan pemberontakan, ia menerima apa yang Ratu Beryl berikan padanya. 

"Ibu, jangan penjarakan Rafael ibu. Aku tidak mau dia menderita. Ibu aku mohon." Ucap Agysta memohon pada ibunya.

"Diam kau Agysta!" Bentak Ratu Beryl.

"Rafael!" Agysta hendak mengejar Rafael. Namun, Algis terlebih dulu menahannya.

"Ratu, biarkan saya yang menggantikan Rafael, Ratu. Saya mohon!" Pinta Amira dengan wajah yang sedih.

**¤**

Rafael di masukan kedalam sebuah ruangan yang dibuat dari tumpukan batu karang yang membentuk seperti gua. Ruangan itu digunakan untuk memenjarakan para duyung. 

Pintu ruangan itu terbuat dari rumput yang sangat kuat, dirangkai sedemikian rupa hingga sangat kuat dan sulit untuk dirusak, kecuali menggunakan senjata.

"Aku tidak tau apa yang kamu pikirkan Rafael. Kenapa kamu membela manusia?" Tanya Eraldo menatap sepupunya itu. Ayah Eraldo, Cirrilo adalah adik dari Amira. 

"Aku punya alasan untuk itu. Dan aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Aku hanya ingin, kita berdamai dengan manusia." Lirih Rafael.

"Itu tidak akan pernah terjadi Rafael. Apa kamu lupa? Bahwa ibuku meninggal karna ulah manusia." Ucap Eraldo dengan nada tinggi.

"Manusia menyerang karna memiliki alasan. Sama seperti kita yang menyerang manusia karna suatu alasan. Jika kita tidak membicaraan hal ini baik-baik, sampai kapanpun duyung dan manusia akan saling menyerang. Karna duyung selalu menganggap manusia berbahaya, begitu pula sebaliknya." 
"Sepertinya pikiranmu sudah teracuni oleh manusia." 

"Karna dalam diriku memang mengalir darah manusia." Ucap Rafael membuat Eraldo dan Niran terkejut.

"Maksudmu? Kamu anak Raja Alden?" Tanya Niran memastikan.

"Tidak mungkin. Kamu adalah anak bibi Amira. Kamu adalah sepupuku. Jangan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengaku-ngaku sebagai anak Raja Alden." Bantah Eraldo.

Eraldo berbalik dan berenang pergi meninggalkan Rafael. Begitu juga Niran yang langsung menyusul Eraldo.

Rafael membuang nafas berat, ia tidak bisa kembali ke daratan untuk beberapa waktu. Ia harap, (namamu) tidak akan mencarinya. Ia tidak mau (namamu) terlalu mengkhawatirkannya. 

**¤**

Dua pengawal yang menjaga gua dimana Ratu Adoria disekap datang ke istana, setelah pingsan cukup lama. Amira yang duduk dikursi dewan kerajaan bersama pejabat kerajaan lainnya terhenyak. Iafc harap, salah satu pengawal yang melihatnya waktu itu tidak mengenalinya.

"Ada apa? Kenapa kalian kemari?" Tanya Ratu Beryl.

"Maaf Baginda Ratu. Ada yang menyerang kami secara tiba-tiba dan...."
"Ratu Adoria." Sahut Ratu Beryl memotong perkataan pengawal itu. Ia tak mau pengawal itu mengatakan kalau Ratu Adoria di bawa kabur. Atau kebohongannya akan terbongkar. Selama ini semua yang duyung ketahui Ratu Adoria sudah meninggal.

"Cepat kalian kerahkan pengawal untuk mencari Ratu Adoria, sekarang!" Teriak Ratu Beryl untuk menutupi kegelisahannya.

"Kenapa Ratu?" Tanya Rilo, pejabat tertinggi kerajaan.

"Ratu Adoria, dia masih hidup. Aku tanpa sengaja bertemu dengannya dan dialah yang mengatakan bahwa keturunan Raja Afkar masih hidup. Mungkin, dia juga yang tertangkap kamera manusia." Dusta Ratu Beryl. Sebisa mungkin, Ratu Beryl membuat para pejabat kerajaan itu percaya. 

"Ini sangat berbahaya. Mungkin saja, Adoria sengaja muncul dan dilihat manusia, untuk membuat manusia kembali menyerang duyung." Ucap salah satu penasihat kerajaan.

"Benar juga. Kalau begitu, kita harus begerak cepat." Sahut yang lain.

"Tapi, bagaimana Ratu Adoria bisa selamat? Algis, kamu sudah membuangnya ke jurang laut kan?" Tanya Rilo pada Algis.

"Ee..iya, tentu saja. Untuk apa aku menyelamatkan pengkhianat? Sama saja aku mebahayakan nyawaku kan?" Jawab Algis.

Amira benar-benar geram mendengar setiap cacian yang ditujukan pada Ratu Adoria. Ratu Adoria bukanlah pengkhianat. Ratu Beryl benar-benar licik, ia selalu bisa membuat orang lain terlihat bersalah. Padahal, selama ini Ratu Beryl yang menyembunyikan Ratu Adoria.

"Kita tidak bisa bersantai saat ini. Kerahkan seluruh duyung untuk mencari keberadaan Ratu Adoria." Perintah Ratu Beryl.

Seluruh duyung mulai sibuk mencari Ratu Adoria. Termasuk pejabat kerajaan dan juga Ratu Beryl. Ratu Beryl menggenggam tongkatnya sangat erat. Berarti, saat ia ke gua kemarin, ada yang diam-diam mengikutinya. Kurang ajar! Ia ingin tau, siapa yang berani menyelamatkan Ratu Adoria. Dan ia pastikan orang itu tidak akan selamat darinya.

Amira menggunakan kesempatan ini untuk membebaskan Rafael dari penjara. Ia rasa, Ratu Adoria akan baik-baik saja. Jarang ada Manusia atau Duyung menjangkau tempat dimana ia menyembunyikan Ratu Adoria. Amira menggunakan senjata milik Rafael yang tertinggal di istana untuk merusak rumput yang mengunci pintu penjara.

"Ibu." Ucap Rafael.

"Rafael, cepatlah kedaratan. Saat ini semua duyung sedang sibuk mencari Ratu Adoria. Kamu bisa gunakan kesempatan ini untuk kabur." Ucap Amira sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada duyung yang melihatnya.

"Ratu Adoria?" 

"Ibu akan menjelaskannya nanti. Yang jelas, ibumu ada ditempat yang aman. Kamu cepat pergi ke daratan. Jangan sampai ada pengawal kerajaan atau pejabat kerajaan melihatmu, atau kamu akan kembali ditahan." 

"Tapi bagaimana dengan ibu?"

"Pergilah Rafael, jangan khawatirkan ibu. Cepat!" Amira mendorong Rafael dan berenang dengan cepat meninggalkan Rafael.

Rafael rasa, ini bukan saatnya untuk berpikir panjang. Ia juga bergegas meninggalkan tempat itu, ia berenang dengan hati-hati menuju daratan.
.
Selanjutnya Baca : Give me Love Part 11

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »