Give Me Love Part (11) Cerpen Fiksi Cinta | ryan Rinaldi

Uta mengusap lengannya sendiri dengan lembut untuk menghilangkan rasa dingin yang menerpa tubuhnya. Tubuhnya jadi terasa dingin setelah tercebur ke air semalam. Meski saat ini tubuhnya sudah tertutupi oleh selimut.

Pandangan Uta kosong, sedari tadi ia melamun di sofa. Ia tidak bisa tidur sejak semalam, meski ia sudah mencoba memejamkan matanya. Bahkan, biasanya jika ia melihat video sambil tiduran ia akan tertidur dengan sendirinya, kali ini pun cara itu tidak berhasil.

 Ada sesuatu yang terus ia pikirkan, apalagi kalau bukan tentang Rafael yang ternyata seorang duyung. Uta menundukan kepalanya dan mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.
Tap.. tap.. tap.. 

Suara langkah kaki terdengar semakin dekat dan jelas ditelinga Uta. Perlahan kepala Uta mendongak dan menatap pemilik suara langkah kaki itu.

"Kamu masih kepikiran soal Rafael?" Tanya Fany.

Uta mengangguk pelan. "Nggak bisa dipungkiri, rasa takut itu tetap ada." Lirihnya. 

"Uta, kalau Rafael memang ada niat jahat sama kita, dia pasti nggak akan nyelamatin kamu, atau Rafael juga bisa bunuh aku saat itu juga supaya identitasnya sebagai duyung nggak terbongkar. Tapi dia nggak melakukan itu semua Uta." Ucap Fany meyakinkan sepupunya itu.

"Kami benar juga Fany. Tapi...." Uta menggantungkan kata-katanya, ia tak bisa melanjutkannya. Suasana jadi hening untuk beberapa saat.

"Sebaiknya, kita minta Rafael untuk meninggalkan kontrakan kita. Ini semua demi kebaikan kita." Ucap Uta kembali angkat bicara.

"Uta, apa yang kamu pikirkan? Dia mau tinggal dimana Uta? Dan kalau sampai orang lain tau dia duyung, dia pasti akan ditangkap. Apa kamu nggak memikirkan itu?" Marah Fany.

"Kalau dia disini, dan saat orang-orang tau dia duyung, kita akan kena imbasnya Fany bahkan kita bisa dipenjara karna kita menyembunyikan duyung. Kamu harus memikirkan itu Fany."

"Saat Rafael menyelamatkanmu apa dia memikirkan bagaimana kalau dia ketauan dia duyung? Nggak Uta, tanpa pikir panjang dia langsung menyelamatkanmu. 

Tanpa memikirkan resikonya." 
Seketika Uta terdiam. Sejenak ia pejamkan matanya, emosinya tidak stabil dan membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Rasa takut terlalu menguasai dirinya. Membuatnya lupa akan apa yang sudah Rafael lakukan untuknya.

"Maafkan aku." Lirih Uta.

"Uta, dia percaya sama kita, kenapa kita nggak bisa percaya sama dia?" Ucap Fany membuat Uta menatap kearahnya. Menatap lurus kedua bola matanya. Fany menganggukan kepalanya, memberi isyarat pada Uta bahwa semua akan baik-baik saja.

"Kita hanya perlu menjaga rahasia ini. Supaya nggak ada yang tau kalau Rafael itu duyung." Ucap Fany dengan seulas senyuman yang terkembang.

Uta menganggukan kepalanya lalu tersenyum lebar. Orang-orang tidak akan tau jika ia dan Fany tidak menceritakan hal itu. 

~~☆☆☆☆☆~~

Rafael berjalan dengan cepat meninggalkan pantai. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan apakah ada duyung yang melihatnya atau tidak. Langkah kaki Rafael seketika terhenti saat melihat banyak orang mengenakan seragam yang sama berkumpul di tepian pantai. 

Beberapa kapal juga terpakir dengan rapi di pinggir pantai. Sepertinya, Dinas Kelautan akan mulai melanjutkan misinya untuk mencari duyung. Dan saat ini, para duyung tengah berpencar kesana kemari untuk mencari ibu kandungnya. 

Bisa saja, salah satu di antara duyung itu tertangkap oleh manusia. Ah tidak, ia harap tidak ada satupun duyung yang tertangkap. Ini bukan saat yang tepat.

"Rafael, apa yang kamu lakukan disini?" 

Rafael terkejut mendengar suara yang tiba-tiba. Kepalanya menoleh kesamping, dimana pemilik suara itu berada. "Om Amran. Ee.. ini om, aku... aku mau liat sunset. Iya liat sunset." 

"Heh? Sunset itu sore Rafael, kalau pagi itu sunrise." 

"Ah iya itu maksudnya om." Ucap Rafael cengengesan. "Om sendiri, ngapain disini?" Tanya Rafael.

"Kita mulai menjalankan operasi untuk mencari duyung. Kamu hati-hati, karna bisa aja duyung itu tiba-tiba muncul dan menyerangmu. Senjata mereka tajam." Ucap Amran menepuk pundak Rafael lalu melangkah pergi untuk bergabung dengan teman-temannya.

Rafael menatap punggung Amran yang terus bergerak menjauh. "Nggak semua duyung seperti itu om." Lirih Rafael yang merasa sedih karna Amran juga berpikir bahwa duyung itu berbahaya. 

"Rafael!" Teriak Fany. Fany dan Uta berlari menghampiri Rafael yang berdiam diri di pinggir pantai. Tak begitu dekat dengan jangkauan ombak yang menyapu pinggiran pantai. Kalau terlalu dekat, kaki Rafael bisa terkena air laut.

"Kamu nggak papa kan?" Tanya Fany.

"Iya, aku nggak papa kok." Jawab Rafael dengan senyuman tipis.

"Ayo kita pulang Raf, terus berangkat kerja." Ajak Uta.

Rafael menganggukan kepalanya lalu melangkahkan kakinya. Uta merangkul bahu Rafael dan keduanya berjalan dengan tangan kanan Uta masih merangkul bahu Rafael.

"Heh? Kok aku ditinggalin. Ck.. Uta, Rafael." Fany bergegas menyusul dua orang itu.

~~♡♡♡♡♡~~

(Namamu) melahap makanannya seorang diri. Ia kembali makan sendirian karna papanya yang sekarang jarang pulang karna misi itu. Rafael yang biasanya menemaninya juga kini tidak ada dirumah. Rindu, itu yang ia rasakan pada sosok pangeran bodoh itu. 

Walau baru sehari semalam Rafael tidak ada dirumah, tapi ia sudah merindukannya. Ia merindukan senyum Rafael, kepolosannya dan banyak hal lainnya.

(Namamu) mengambil ponselnya yang tergeletak di meja makan. Ia mengirimi Rafael sebuah pesan. Setelahnya, ia terus memandangi ponselnya untuk menunggu balasan pesan dari Rafael. Namun, balasan yang ia nantikan tak kunjung ia dapatkan. 

Mungkin saja Rafael sedang sibuk dengan pekerjaannya. (Namamu) membuang nafas pelan. Ia ingin Rafael kembali kerumah ini. 

"Kok malah ngelamun?"

Sebuah suara menyadarkan (namamu) dari lamunannya. (Namamu) juga sedikit terkejut mendengar suara itu, karna sedari tadi tidak ada orang dirumah selain dirinya. 

"Kok nggak dilanjutin makannya?" Tanya Gavin sembari menarik kursi didekatnya lalu duduk disana.

"Aku kepikiran Rafael. Dia itu masih polos Vin. Aku takut terjadi sesuatu sama dia." Ucap (namamu). Terlihat jelas kekhawatiran diwajah cantik (namamu).

"Ya udah, kita jalan-jalan. Biar kamu nggak kepikiran si Rafael itu. Kita nikmati hari ini mumpung libur kuliah kan." Ucap Gavin dengan senyuman lebar.

(Namamu) menggelengkan kepalanya. "Maaf Vin, tapi aku pikir aku mau menemui Rafael. Aku nggak bisa tenang kalau aku belum ketemu dia." 

Gavin mengangguk kecil, ia kecewa dengan (namamu) yang menolak ajakannya, tapi ia tetap mencoba untuk memeperlihatkan senyumnya didepan gadis yang sudah menjadi temannya sejak ia kecil itu. 

"Ok, nggak masalah kok." Ucap Gavin.

~~☆☆☆☆☆~~

Berulang kali Rafael mengusap keringat di dahi dan juga lehernya. Wajahnya sedari tadi terlihat murung, seperti ada beban yang ia pikirkan. Sesekali ia juga berhenti untuk beberapa saat, sampai ia ditegur oleh OB yang lain. Hari ini, ia tidak fokus dengan apa yang ia lakukan. Pikirannya melayang, memikirkan tentang Ratu Adoria yang tengah dicari oleh para duyung. 

Pertama, ia belum mengerti bagaimana bisa ia seorang putra mahkota sedangkan semua rakyat menyaksikan saat-saat dimana putra mahkota dilemparkan ke jurang laut.

Kedua, tentang ibu kandungnya yang masih hidup. Otaknya belum bisa memahami semua itu. Hidupnya bagaikan sebuah drama yang penuh dengan hal yang tidak mungkin. Tunggu, apa mungkin ayahnya juga masih hidup? Jika iya,dimana ayahnya sekarang? Daratan atau lautan?

Rafael berjingkat saat telinganya mendengar suara ember yang ditendang. Beberapa air dalam ember itu terciprat keluar dan mengenai kakinya.

Uta yang melihat itu panik, ia beranjak dari kursi kasirnya dan berlari menghampiri Rafael.
"Niat kerja nggak sih kamu, nyantai terus." Omel salah satu OB yang sudah lama bekerja di restoran itu.

"Maaf!" Ucap Rafael.

"Maaf-maaf." OB itu menumpahkan air dalam ember dan kembali mengenai kaki Rafael. 

Rafael merasakan tangannya tiba-tiba ditarik, dibawa menjauh dari tempat itu. Matanya menatap punggung orang yang kini tengah menariknya. Uta, kenapa Uta tiba-tiba menariknya? Uta membawanya masuk kedalam toilet dan menutup pintunya rapat-rapat.

Mata Fany membulat saat tanpa sengaja melihat Uta membawa masuk Rafael kedalam toilet. Mulutnya juga sedikit menganga. Cowok dan cowok masuk kedalam toilet bersamaan? Oh no! Fany segera mendekat ke pintu toilet dan menggedor-gedornya. Itu tidak boleh terjadi.

Tak butuh waktu lama, pintu itu langsung terbuka.

"JANGAN!" Ucap Fany.

"Kamu kenapa sih Fan?" Tanya Uta.

"Kalian berdua yang ngapain masuk kedalam toilet, jangan bilang kalian-"

Plak.. Uta memukul pelan dahi Fany. "Aku bawa dia kesini karna aku takut kakinya berubah jadi ekor didepan banyak orang." Ucap Uta lalu mengarahkan pandangannya ke kaki Rafael yang basah. Tetap berbentuk kaki, apa reaksinya lama?

Senyum Rafael kembali terkembang setelah beberapa jam tadi senyumnya tak terkembang. "Terimakasih Uta, kamu mengkhawatirkanku. Tapi, kakiku hanya akan berubah kalau terkena air laut. Selain air laut nggak akan berpengaruh apapun." Jelas Rafael.

"Hee? Astaga, harusnya kamu bilang dari tadi, kan aku nggak panik." Eluh Uta. Jantungnya rasanya sudah mau copot, kalau-kalau kaki Rafael berubah ekor di tempat umum, itu akan sangat berbahaya untuk Rafael.

"Ciieee.. Uta perhatian sama Rafael." Ledek Fany.

"Fany, nggak usah di ciiee ciiee in juga. Kesannya aku sama Rafael ada apa-apa. Udah ah, balik kerja." Ucap Uta kemudian berlalu dari hadapan Rafael dan juga Fany.

"Ya udah, aku juga mau balik kerja." Ucap Fany yang juga pergi dari tempat itu.

**¤**
(Namamu) menunggu Rafael diluar restoran, ia tidak tau kapan jam istirahat Rafael, jadi ia datang lebih awal sebelum jam makan siang. Walau sebenarnya saat jam makan sianglah restoran itu ramai. Tapi tidak masalah, berapa lamapun ia harus menunggu, yang penting ia bisa bertemu Rafael. 

(namamu) tidak tau, kenapa ia bisa jadi seperti ini,begitu ingin bertemu dengan Rafael. Mungkinkah ia menyukai Rafael? Ia memang sangat mengkhawatirkan dan juga sangat peduli pada Rafael, tapi itu belum cukup untuk membuktikan kalau dirinya menyukai Rafael, kan?

"Maaf nunggu lama." Ucap Rafael yang baru saja keluar dari restoran. Keringat masih membasahi wajah dan juga lehernya. Bajunya juga sedikit basah karna keringat.

"Nggak papa kok." Ucap (namamu) tersenyum lebar. "Sebentar." Sambungnya.

(Namamu) membuka tasnya, mengambil beberapa lemar tissue dan mengusap butiran-butiran keringat pada wajah dan leher Rafael. Lagi, sama seperti saat itu, Rafael hanya bisa diam mematung mendapat perlakuan seperti itu. Detak jantungnya mulai tak bisa ia kontrol. (Namamu) memperlebar senyumnya setelah melihat wajah Rafael bersih dari keringat.

"Oh ya, aku bawakan makan siang buat kamu." Ucap (namamu) lalu membuka kotak bekal yang ia bawa. Memperlihatkan makanan yang ia buat khusus untuk Rafael.

"Ya ampun, aku... aku merasa nggak enak." Ucap Rafael menggaruk tengkuknya.

"Kita makan disana yuk." (Namamu) menggenggam tangan Rafael dan menariknya, membawanya ke bangku dibawah pohon, yang hanya berjarak beberapa meter dari restoran.

"Kenapa kamu nggak sms aku aja, kan kamu nggak perlu kesini, aku yang akan menemuimu." Ucap Rafael.

"Rafael, kamu kan lagi kerja dan kebetulan aku lagi nggak ada kuliah. Jadi aku kesini, bikin surprise buat kamu." Ucap (namamu) dengan wajah yang ceria.

"Aku merasa terharu." Ucap Rafael tersipu malu.

"Ah sekarang kamu harus cobain masakan aku." (Namamu) menyendok makanan dalam kotak bekal lalu mengarahkan sendoknya ke mulut Rafael. Dengan senang hati Rafael menerimanya. 

"Sekarang biar aku yang suapin kamu. Kamu juga harus makan." Rafael mengambil alih sendoknya lalu menyuapi (namamu) dengan hati-hati. 

**¤**
"Apa sih ini?" Ucap salah satu OB saat menemukan tas kecil yang tergeletak dilantai. Dibukanya tas itu dan melihat isinya, sebuah batu karang berbentuk kuda laut.
.
Selanjutnya Baca : Give Me love Part 12

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »