Give Me Love Part (12) Cerpen Fiksi Cinta | Ryan Rinaldi

Amira panik saat mendengar bahwa Ratu Adoria sudah ditemukan. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, ia sudah menyembunyikan Ratu Adoria di tempat yang aman. Tapi, mengingat jumlah duyung yang banyak dan berpencar ke berbagai penjuru lautan sangatlah tidak sulit untuk menemukan Ratu Adoria. Lalu, harus bagaimana ia sekarang?

"Ratu, aku lihat banyak kapal dipermukaan laut, dan juga banyak manusia yang menyelam, beberapa kapal selam juga terlihat. Sepertinya, manusia tengah berusaha untuk menangkap kita. Ini berbahaya Ratu." Ucap Eraldo memberi laporan.

"Ini semua karna Adoria." Geram Ratu Beryl.

"Apa kita akan melakukan penyerangan Ratu?" Tanya Algis.

"Tidak, ini bukan waktu yang tepat. Kita serahkan saja Adoria pada manusia, biarkan dia menanggung akibat kesalahannya." Ucap Ratu Adoria dengan lantang.

Amira semakin panik mendengar perintah Ratu Beryl. Ia harus memberi tahu soal ini pada Rafael. Tapi, dipermukaan laut sedang banyak manusia. Kalau ia ke daratan saat ini juga, itu sama saja membahayakan nyawanya. Tapi, bagaimana kalau Ratu Adoria sampai diserahkan pada manusia.

"Ini dia pengkhianat para duyung." Ucap Ratu Beryl saat melihat beberapa pengawalnya datang dengan membawa Ratu Adoria. Beberapa duyung ada yang melempari Ratu Adoria dengan batu-batu kecil. Melampiaskan kekesalan mereka atas apa yang terjadi pada kaum mereka 20 tahun yang lalu, dan masa itu akan kembali terulang.

"Ayo kita bawa dia ke permukaan laut, biarkan dia ditangkap manusia." Perintah Ratu Beryl.
Pengawal-pengawal setia itu mematuhi perintah penguasa kerajaan laut itu. Mereka membawa Ratu Adoria ke permukaan laut. 

Berulang kali Ratu Adoria memberontak, tapi usahanya untuk lepas dari para pengawal kerajaan itu tidak membuahkan hasil. Adoria mengibaskan ekornya dengan kuat hingga mengenai tubuh salah satu pengawal yang memeganginya. Ia bersiap berenang dengan cepat, tapi ekornya terlebih dulu terluka karna senjata milik pengawal yang mengenai ekornya.

"Percuma Adoria, kamu tidak akan bisa lolos lagi." Ucap Ratu Beryl.

"Kamu, kamu sungguh kejam Beryl." Ucap Ratu Adoria.

Plak... wajah Adoria dipukul dengan senjata yang dibawa pengawal kerajaan. "Kamu harus sopan saat berbicara dengan Ratu." Ucap salah satu pengawal.

"Kamu yang kejam Adoria. Kamu membuat para duyung menderita." Ucap Rilo.
Amira menutup mulutnya saat menyaksikan itu. Ini benar-benar menyakitkan untuk dilihat. Ia benar-benar tak tahan, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. 

Meskipun ia melawan, ia tidak akan bisa melawan para pengawal dan juga panglima kerajaan yang kuat itu. Ia harap Ratu Adoria akan baik-baik saja dan Rafael bisa menyelamatkan ibu kandungnya.

~~☆☆☆☆☆~~
Rafael hendak menyuapi (namamu) lagi, tapi suara teriakan orang-orang yang ada diatas kapal membuat perhatian Rafael fokus kesana. Ia penasaran apa yang membuat para anggota dinas kelautan dan juga beberapa nelayan itu bersorak.

"Cepat tarik!" Suara teriakan yang samar-samar Rafael dengar.

"Kenapa?" Tanya (namamu).

"Sepertinya ada sesuatu disana. Ayo kita kesana." Ucap Rafael yang langsung meletakan kotak bekal itu di bangku dan bergegas menuju tepi pantai.

"Rafael, tunggu!" (Namamu) juga melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Sesekali ia berlari untuk mengejar Rafael yang sekarang sudah bisa berlari dengan cepat.

¤¤♡¤¤

Uta yang baru saja dari toilet melihat salah seorang OB yang masih memandangi batu karang berbentuk kuda laut. Ia mendekat ke OB itu dan melihat benda itu dengan seksama. Bentuknya bagus, juga mengkilap, sepertinya itu barang antik.

"Itu punyamu?" Tanya Uta.

"Bukan! Aku menemukannya dilantai." Jawab OB itu.

"Ya udah, kamu simpan baik-baik. Siapa tau nanti ada yang nyariin." Ucap Uta lalu berlalu pergi.
Uta terkejut saat ia tiba di depan, para pelanggannya berbondong-bondong keluar restoran. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Uta terlihat kebingungan, bahkan para karyawan restoran juga ikut berlarian keluar restoran.

"Uta gawat!" Ucap Fany dengab wajah yang panik.

"Kenapa sih Fan? Ada apa?" Tanya Uta.

"Katanya ada duyung yang tertangkap, bagaimana kalau itu Rafael?" Fany semakin panik.

"A..apa? Ada duyung yang tertangkap?" Tanya Uta gugup. "Ya udah, ayo kita lihat!"
Uta dan Fany berlari dengan kencang menuju tepi pantai yang sudah sangat ramai. Dipadati orang-orang yang sangat penasaran dengan 

wujud duyung. Beberapa wartawan juga sudah siap meliput berita itu secara live. Semuanya menunggu kapal-kapal yang ada dilautan itu menepu dengan jantung yang berdebar kencang.

"Permisi!" Ucap Uta menyelip diantara kerumunan itu. Beberapa diantaranya ada yang tak mau minggir, karna ingin melihat duyung dari dekat.

"Ngantri dong mas!" Ucap salah satu orang pada Uta.

Uta berjinjit untuk melihat sesuatu didepan sana. Ia benar-benar khawatir pada Rafael. Bagaimana kalau itu benar-benar Rafael. 

"Uta lewat sini." Panggil Fany. Uta bergegas mengikuti jalan yang ditunjuk Fany.
....
Rafael menatap kapal-kapal itu dengan wajah cemas. Detak jantungnya semakin tak bisa ia kontrol. (Namamu) menatap Rafael yang terlihat sangat cemas. Tangannya bergerak menyentuh tangan Rafael, menyelipkan jari-jarinya diantara jemari Rafael lalu menggenggamnya dengan erat. Perlahan, kepala Rafael bergerak menoleh dan menatap (namamu) yang mengembangkan senyumnya.

"Aku nggak tau apa alasanmu terlihat cemas. Tapi, aku harap aku bisa menyalurkan ketengangan lewat tanganku." Ucap (namamu).

Rafael menganggukan kepalanya. Tapi untuk tersenyum, ia tidak bisa. Bibirnya terasa sangat kaku untuk ia gerakan. Tubuhnya sedikit bergetar karna rasa takut yang memenuhi dirinya. Ada banyak orang disini, dan semuanya akan menyaksikam duyung yang ditangkap oleh dinas kelautan dan juga nelayan. Kejadian yang tidak diinginkan pasti tidak bisa dihindari. Rafael benar-benar tidak bisa tenang sekarang.

"Rafael!" 

Rafael dan (namamu) menoleh bersamaan.

"Ternyata kamu disini, syukurlah!" Uta menghela nafas lega. Ternyata bukan Rafael yang tertangkap.
"Kamu nggak papa kan, Rafael?" Tanya Fany memastikan.
Rafael menjawabnya dengan anggukan kepala.

"Minggir!" 

Rafael dan yang lainnya kembali mengarahkan pandangan ke kapal dan perahu yang kini sudah berhenti ditepi pantai. Dan yang dinantikan pun terlihat, duyung dengan sisik berwarna kuning hampir orange, terlihat berkilau saat terkena paparan sinar matahari. 

Duyung itu diikat dan tak bisa bergerak, ia hanya bisa menangis. Kilatan-kilatan cahaya dari kamera pun berulang kali mengenai tubuh duyung itu. Yang lain pun tak mau kalah, mengambil gambar duyung itu dengan menggunakan kamera ponsel.

Rafael tak pernah melihat duyung itu sebelumnya. Memang, ia tak hapal semua duyung yang menjadi bagian dari kerajaan bawah laut. Tapi ia sangat yakin tak pernah melihat duyung itu sebelumnya. Wajahnya juga terlihat sangat asing untuknya. 

Apa mungkin, itu adalah ibu kandungnya? Ia harus bertemu Ibunya sekarang, untuk mendapatkan kepastian itu. Rafael membalikkan badannya dan menerobos keluar kerumunan orang itu. 

"Rafael!" Panggil (namamu) yang langsung mengejar Rafael. Walau ia tampak kesulitan keluar dari kerumunan orang yang kepo akam duyung itu.

Fany hendak mengejar Rafael juga, tapi Uta menahannya. "Biarkan saja dia." Ucap Uta.

"Tapi Uta..."

"Fany, ada teman Rafael yang lain. Kalau kita bertanya soal ini, orang yang bersama Rafael itu akan curiga." Ucap Uta.

¤¤♡¤¤

Amira menatap ke permukaan laut. Ratu Adoria tak lagi terlihat, kapal-kapal dan juga manusia itu juga sudah tak terlihat. Bola mata Amira bergerak tak menentu. Ia terus berdoa untuk kebaikan Ratu Adoria.

"Bibi, Ratu Beryl memanggilmu." Ucap Eraldo.

"Ada apa Eraldo?" Tanya Amira.

"Aku tidak tau bibi. Tapi, bibi di minta untuk segera kembali ke istana." Ucap Eraldo.

Amira menganggukan kepalanya, kemudian ia mulai berenang menuju istana diikuti Eraldo yang mengekor dibelakangnya. Sesampainya di istana, para pejabat kerajaan dan juga beberapa duyung lain menatapnya dengan tatapan yang aneh. Membuat Amira bingung dan sedikit merasa risih. 

"Ratu memanggilku?" Tanya Amira.

"Amira, berani sekali kamu menyelamatkan Ratu Adoria dan menyembunyikannya dari kami semua selama 20 tahun ini." Ucap Ratu Beryl.

"Bibi." Ucap Eraldo tak percaya.

Amira menggelengkan kepalanya. "Tidak Ratu, aku tidak melakukan itu." Sanggah Amira.

"Jangan bohong!" Ucap Ratu Beryl dengan lantang. "Pengawalku melihatmu membawa Adoria ke pesisir pantai yang sepi itu. Jelas bahwa kamu selama ini menyembunyikan Adoria. Kamu tidak bisa menyangkalnya lagi Amira." Sambungnya.

"Tidak Ratu, aku tidak melakukan itu. Percaya padaku." Ucap Amira membela diri.

"Kakak, aku tidak percaya kamu melakukan ini. Tapi kamu sudah mengkhianati para duyung. Dengan menyelamatkan Ratu Adoria." Sahut Rilo.

"Rilo, dengarkan aku. Percayalah padaku Rilo, aku tidak melakukan itu!" Ucap Amira yang tetap kekeh. Karna ia memang tidak melakukan itu. Ia memang menyembunyikan Ratu Adoria di pesisir pantai yang sepi itu, tapi, ia sama sekali tak menyembunyikan Ratu Adoria selama 20 tahun ini. Ratu Beryl lah yang melakukan semua itu.

"Aku tidak tau apa alasanmu menyembunyikan Ratu Adoria. Tapi itu adalah sebuah kesalahan besar." Ucap Rilo menghela nafas pasrah.

"Jabatanmu sebagai dewan kerajaan aku cabut hari ini juga." Ucap Ratu Beryl disaksikan para pejabat kerajaan dan juga duyung-duyung yang lain. Walau tak semuanya berkumpul di tempat itu.

"Kamu juga sudah berani menyelamatkan Rafael dari penjara. Kamu keterlaluam Amira." Ucap Ratu Beryl. "Eraldo, Niran, bawa dia ke penjara." Sambungnya.

"Baik Ratu." Jawab Eraldo dan Niran bersamaan. Kemudian segera membawa Amira menuju penjara.

"Aku tidak melakukannya Ratu. Aku tidak melakukannya!" Ucap Amira. Tak ada satupun yang mempercayainya. Bahkan adiknya sendiri pun tak percaya dengannya. Ratu Beryl benar-benar licik. Sekarang, ia tidak bisa menemui Rafael untuk memberi tahu bahwa duyung yang tertangkap adalah ibu kandungnya.

**♡**

(Namamu) berlari mengejar Rafael yang berjalan dengan cepatnya. Rafael terlihat sangat terburu-buru, sepertu ada sesuatu yang membuatnya panik. Tapi apa itu?

Rafael hendak menceburkan dirinya ke dalam laut, tapi, ia mendengar (namamu) memanggilnya. Untung saja kakinya belum menyentuh air. Rafael mundur beberapa langkah supaya kakiny tak terkena air.

"Kamu kenapa? Dari tadi aku liat wajahmu panik." Ucap (namamu) memandang wajah Rafael.
"Aku... aku seperti ingat sesuatu, tapi entah itu apa. Aku merasa aku takut, aku..." Rafael tak melanjutkan kata-katanya. Tak tau alasan apa yang harus ia katakan pada (namamu) supaya (namamu) tak curiga.

(Namamu) semakin mendekatkan dirinya ke Rafael dan menghapus jarak antaranya dan juga Rafael dengan memeluknya. "Kamu nggak perlu takut. Aku akan tetap ada didekatmu, aku akan melakukan apapun untukmu. Karna aku nggak mau jauh darimu dan kehilanganmu. Aku menyukaimu Rafael." Ucap (namamu) semakin mengeratkan pelukannya.

Tubuh Rafael mematung mendengar perkataan (namamu). Sungguh, ini sangat membuatnya terkejut. Dan ini juga terlalu cepat untuknya. Belum ada satu minggu ia mengenal (namamu). (Namamu) memang sangat baik padanya, peduli padanya lebih dari pada apapun. Tapi......

Rafael menggenggam tangan (namamu) dan menjauhkannya dari tubuhnya. Ia berbalik dan menatap (namamu) lekat-lekat. Jantungnya kembali berdetak kencang saat matanya dan juga mata (namamu) bertemu. Detik berikutnya Rafael berlari pergi menjauh dari (namamu). 

"Rafael!" Teriak (namamu) memanggil Rafael. Tapi, Rafael sama sekali tak menghentikan langkahnya sedikitpun. Bahkan terlihat Rafael semakin mempercepat larinya.

(Namamu) menatap Rafael yang semakin tak terlihat dengan tatapan sedih. Kenapa Rafael berlari pergi meninggalkannya? Apa perkataannya salah? Apa salah ia mengungkapkan apa yang ia rasakan? Atau Rafael marah padanya? 

Selanjutnya Baca : Give Me Love Part 13

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »