Give Me Love Part (13) - Cerpen Cinta | Ryan Renaldi


Amira bersandar pada dinding yang terbuat dari batuan karang itu. Tidak ada lagi yang bisa lakukan. Hanya bisa termenung didalam ruangan yang sepi itu. 

Beberapa kali ia mencoba meloloskan diri dari penjara yang mengurungnya, tapi usahanya selalu gagal. Ia tak terlalu kuat untuk bisa menjebol pintu ataupun dinding penjara itu. 


"Bagaimana rasanya tinggal dalam penjara Amira?"

Amira menoleh ke sisi kiri, ia beranjak dan mendekat ke pintu. "Ratu keluarkan aku Ratu." Pinta Amira.

"Kamu, sudah berani mengikutiku secara diam-diam dan membebaskan Adoria. Dan kamu sekarang meminta aku mengeluarkanmu? Jangan bermimpi Amira." Ucap Ratu Beryl penuh penekanan pada setiap katanya.

"Kenapa Ratu membohongi kita semua? Kenapa Ratu menyembunyikan Ratu Adoria?" Tanya Amira dengan suara keras.

"Tutup mulutmu Amira!" Ucap Ratu Beryl dengan lantang. "Itu bukan urusanmu." Sambungnya.
"Sekarang, beritau aku, dimana kerang ajaib itu." Ucap Ratu Beryl.

"Aku tidak tau!" Jawab Amira dengan cepat.

"Jangan bermain-main denganku Amira. Cepat beritau aku atau anakmu yang akan jadi korban." Ancam Ratu Beryl.

"Jangan, aku mohon jangan lakukan apapun pada Rafael. Aku benar-benar tidak tau tentang batu karang itu." Ucap Amira memohon. Matanya menatap Ratu Beryl penuh harap. Ia tak mau Rafael sampai kenapa-napa.

Ratu Beryl menghela nafas pelan. "Baiklah, aku akan kembali lagi kesini, dan saat aku kembali, kamu harus memberitahuku dimana batu karang ajaib itu. Atau, aku akan benar-benar melakukan sesuatu pada anak kesayanganmu itu." Ancam Ratu Beryl lalu berenang pergi meninggalkan tempat itu.

Amira menggoyang-goyangkan pintu penjaranya, mencoba untuk meloloskan diri dari tempat itu. Tapi, usahanya sangatlah sia-sia. Tenaganya tak cukup kuat untuk merusak pintu yang kuat itu.

~~☆☆☆☆☆~~

Para anggota dinas kelautan membawa duyung yang sudah ditangkap itu ke tempat biasa mereka bekerja. Mereka juga sudah menyiapkan aquarium yang besar dengan tinggi 1,7 meter. Aquarium itu hanya diisi sedikit air, tidak sampai seperempat aquarium itu. Duyung yang sudah dibius itu diikat lalu ditarik dengan pengerek, lalu pelan-pelan dimasukan kedalam aquarium. 

Didalam aquarium sudah terdapat seseorang yang bertugas melepaskan ikatan tali pada duyung itu. Karna tidak mungkin duyung itu akan bisa keluar dari aquarium yang besar itu. Meski keadaannya sudah tidak terikat.
"Akan kita apakan duyung ini?" Tanya Dana.
"Sudah pasti akan kita bedah, untuk mempelajari otonomi dari hewan setengah manusia ini." Sahut Amran.
"Tapi, bagaimana kalau bangsa duyung marah atas tertangkapnya duyung ini? Mereka pasti akan menyerang manusia kan?" Sahut anggota yang lain.
"Pemerintah sudah menyiapkan segalanya untuk mengantisipasi ini semua. Karna pemerintah tidak mau ada korban lagi karna ulah duyung." Sahut Amran yang menatap serius duyung dihadapannya itu. Duyung yang tertangkap itu masih tak sadarkan diri. Pengaruh bius yang ia berikan belum habis.
"Baiklah, kita akan siapkan semua alatnya baru kita akan melakukan pembedahan." Ucap ketua anggota.
~~♡♡♡♡♡~~

(Namamu) menyandarkan dagunya pada kedua tangannya yang ia lipat diatas meja. Matanya menatap aquarium dihadapannya. Menatap penyu yang bergerak dengan lambatnya. Ia sering sekali melihat Rafael berada ditempat ini. Memperhatikan penyu dengan senyuman di wajahnya. 

Rafael sama sepertinya, sama-sama menyukai hewan laut. Tapi, air matanya keluar dan membasahi pipinya. Mengingat Rafael yang berlari pergi sesaat setelah ia mengungkapkan perasaannya. Jika ia bisa mengulang waktu, ia tak akan mengatakan itu. Ia tak mau seperti ini, jauh dari Rafael. Rasanya sangatlah sepi dan sunyi.

Gelap, itu yang tiba-tiba (namamu) rasakan. Bukan karna mati lampu, tapi ada tangan yang menutup kedua matanya. Membuatnya tak bisa melihat apapun. "Ayah, jangan bercanda. Aku nggak mau bercanda." Ucapnya dengan suara yang lemas.

"Rafael, aku sangat merindukanmu." Ucap penyu saat melihat siapa yang datang. Tentu saja (namamu) tak bisa mendengar apa yang penyu katakan. Sekalipun ia bisa mendengarnya, ia tak akan mengerti bahasa penyu.

Tangan yang tadinya menutup kedua mata (namamu) kini bergerak turun dan merengkuh tubuh (namamu) kedalam sebuah pelukan yang hangat. (Namamu) menatap tangan yang kini melingkar diperutnya. Tangan itu, ia sangat paham siapa pemilik tangan itu.

"Maafkan aku, aku membuatmu menangis." Lirih Rafael.
(Namamu) menoleh ke belakang, benar, itu Rafael. Senyumnya terkembang begitu saja. Detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya. "Ini salahku. Nggak seharusnya aku bilang aku menyukaimu. Itu terlalu cepat kan?" 

Rafael menatap (namamu) lekat-lekat. Ia selalu suka tatapan mata (namamu) yang lembut. Ia selalu suka cara (namamu) menatapnya. Satu kata yang menggambarkan perasaannya saat bersama (namamu), 'nyaman'. 

"Aku juga menyukaimu." Ucap Rafael tapi tidak disertai senyuman, melainkan raut wajah sedih. 

"Tapi, aku rasa, lebih kita nggak ketemu lagi. Aku dan kamu berbeda. Aku bukan seperti apa yang kamu lihat. Aku nggak pantas untuk gadis sebaik dirimu. Aku nggak bisa terus membohongimu. Karna aku menyayangimu, dan nggak mau membuatmu kecewa, jadi lebih baik kita nggak ketemu." Ucap Rafael dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa? Apa kamu udah ketemu cewek yang lebih baik dariku?" Tanya (namamu) dengan air mata yang berderai.
"Aku nggak peduli meskipun aku nggak bisa memilikimu. Aku nggak peduli kamu mau pacaran sama siapa. Tapi, aku mau kita tetap bertemu. Aku merasa nyaman bersamamu Rafael. Aku nggak mau kehilanganmu. Aku mohon izinkan aku untuk tetep ketemu sama kamu." Ucap (namamu) panjang lebar.

Rafael menggelengkan kepalanya. "Bagiku, nggak ada gadis lain sebaik kamu. Aku nggak mau membahayakanmu. Aku nggak mau kamu terluka. Aku nggak akan memafkan diriku sendiri kalau kamu sampai terluka dan tersiksa karnaku." Ucap Rafael menatap mata (namamu) yang terus mengeluarkan butiran-butiran bening.

"Aku menyayangimu." Ucap Rafael pelan. 
(Namamu) menghambur kedalam pelukan Rafael. Ia memeluknya dengan amat sangat erat. Bahkan kedua tangannya mencengkeram erat baju belakang Rafael. Ia tak mau melepaskannya. Ia tak mau jauh dari Rafael. Ia masih ingin dan terus ingin bertemu dengan Rafael. Isak tangisnya terdengar jelas ditelinga Rafael. Rafael juga merasakan bajunya basah karna air mata (namamu).

"Aku nggak akan melepaskanmu satu detik pun. Hiks.. Aku nggak mau kita berpisah. Hiks. Pangeran bodoh, hiks... aku mohon padamu, jangan tinggalkan aku. Hiks..." ucap (namamu) terisak.

Rafael menyentuh tangan (namamu) dan mencoba melepaskannya. Benar, cengkeraman tangan (namamu) pada bajunya begitu kuat. Kalau ia menarik tangan (namamu) terlalu kuat, itu akan melukai (namamu). Ia tak mau (namamu) merasa kesakitan.

Cukup lama Rafael terdiam dengan (namamu) yang memeluknya. Hingga Rafael merasakan pelukan (namamu) pada tubuhny mengendur. Ternyata (namamu) tertidur dalam pelukannya. Dengan sangat hati-hati, Rafael melepaskan pelukan (namamu) dan membopongnya ke menuju kamar (namamu). Di baringkannya (namamu) dengan pelan dan hati-hati, lalu ia tarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh (namamu).

Mata Rafael tak lepas menatap wajah cantik (namamu). Ia juga tak mau berpisah dengan (namamu). Seperti yang sudah ia katakan, ia merasa nyaman berada didekat (namamu). Tapi, hubungan duyung dan manusia semakin memanas. Ia tak mungkin membiarkan (namamu) terlibat dalam hal ini jika terus berdekatan dengannya. Ia sadar, ia berbeda dengan (namamu). Duyung sepertinya tak pantas untuk memiliki (namamu). 

Rafael keluar kamar (namamu) dan menutup pintunya perlahan. Ia mendekat ke aquarium tempet penyu tinggal selama beberapa bulan ini. Ia berkongkok dan menatap penyu yang juga menghadap padanya. "Aku titip (namamu)." Ucap Rafael dengan senyuman.

"Kamu mau pergi lagi?" Tanya Penyu.
Rafael menganggukan kepalanya.
"Aku sedih mendengarnya." Ucap penyu itu.
Rafael mengembangkan senyumnya lalu melangkah pergi meninggalkan rumah (namamu).

~~♡♡♡♡♡~~
Berita tertangkapnya duyung juga sudah beredar hanya dalam waktu hitungan jam. Tv, majalah, koran, radio, internet dan berbagai media lainnya memuat berita tentang duyung itu. Foto duyung dari dekat juga sudah tersebar luas. Berbagai kalangan masyarakat ramai membicarakan soal duyung yang tertangkap itu. 

Hujatan, cacian dan sumpah serapah keluar hampir dari seluruh masyarakat dan ditujukan pada duyung itu. Rasa trauma dan penderitaan masyarakat akibat peperangan 20 tahun yang lalu, terutama yang tinggal dipinggir pantai belum juga hilang.

"Uta, ini gimana? Rafael belum pulang. Aku khawatir terjadi sesuatu sama dia." Ucap Fany yang sedari tadi tak bisa tenang.
Uta juga tampak bingung, pasalnya sedari tadi ia menggigit kuku jarinya. Ia selalu melakukan itu saat kebingungan ataupun panik. Ia mau menghubungi Rafael tapi ia lupa belum meminta nomor Rafael. Kalau sampai kaki Rafael terkena air laut, itu akan sangat berbahaya untuk keselamatannya.
"Kita ke pantai yuk! Siapa tau Rafael ada disana." Usul Fany.
Uta menganggukan kepalanya, ia menyetujui usul saudara sepupunya itu. Siapa tau Rafael ada ditepi pantai. 

Hembusan angin malam membuat baju yang dikenakan Uta dan Fany tak berhenti bergerak. Rambut keduanya juga terus bergerak karna tertiup angin laut yang cukup kencang malam itu. Keduanya berpencar untuk mencari Rafael. Berjalan dan sesekali berlari sembari meneriakan nama Rafael. 
Uta dan Fany kembali bertemu setelah beberapa menit mencari Rafael dijalur yang berbeda. Keduanya menghela nafas lelah. Orang yang mereka cari tak terlihat sama sekali. 

"Apa mungkin dia pergi nolongin duyung yang ketangkap itu?" Tanya Fany.
"Ah iya. Mungkin sekarang dia lagi coba buat nolongin duyung itu." Sahut Uta.
"Terus gimana dong Uta? Kalau sampai orang-orang itu tau kalau Rafael juga duyung bahaya. Aku nggak mau Rafael kenapa-napa." Ucap Fany panik.

"Aku juga nggak mau Rafael kenapa-napa. Tapi, kita juga nggak bisa asal masuk tempat itu." Jawab Uta lalu menyisirkan rambutnya kebelakang dengan tangannya.
~~☆☆☆☆☆~~
Suara deritan halus terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu kontrakan yang ditinggali Rafael dan dua teman baru lainnya. Sepi, itu yang ia dapati begitu masuk kedalam rumah. Setaunya, jam kerja di restoran itu sudah berakhir, tapi dua temannya itu belum terlihat ada dirumah. 

Rafael terdiam sejenak, pandangan matanya kosong. Ini waktu yang tepat untuk kembali ke kerajaan bawah laut. Bertemu dengan ibunya lalu bertanya tentang duyung yang tertangkap itu. 

Rafael menutup kembali pintu rumahnya, tapi langkah kakinya juga tiba-tiba terhenti. Dirabanya pinggangnya sendiri, juga saku celananya. Tidak ada! Seketika mata Rafael terbuka lebar. Ia membuka pintu kontrakan dengan buru-buru, masuk kedalam kamar yang ia dan Uta tempati. 

Dibukanya lemari dan juga laci satu persatu. Sprei, bantal dan juga kasur ia angkat bergantian. Tetap tak menemukan benda yang ia cari. Dilihatnya kolong tempat tidur, tangannya terulur dan meraba-raba bagian bawah temoat tidur. Tidak ada apapun, hanya sarang laba-laba yang ia dapati. 

Rafael mulai panik, kemana perginya batu karang ajaib itu. Ia terus mencarinya diseluruh sudut 
rumah, bahkan sampai ditempat-tempat yang rasanya tidaklah mungkin. Hasilnya, sama, ia tetap tak menemukan batu karang ajaib itu. 

Rafael teringat sesuatu, apa mungkin batu karangnya itu jatuh saat ia menerobos masuk kerumunan orang-orang tadi siang? Itu artinya batu karangnya jatuh di pantai? Jika iya, itu sangat berbahaya. Tanpa pikir panjang, Rafael langsung berlari menuju tepi pantai, bahkan ia sampai lupa menutup pintu rumahnya.

¤¤♡¤¤

"Uta, itu Rafael!" Ucap Fany saat melihat Rafael berada di tepi pantai. Menoleh kesana-kemari seperti orang bingung.
Uta dan Fany berlari menghampiri Rafael. 
"Kenapa Raf?" Tanya Uta begitu tiba dihadapan Rafael.
"Batu karangku hilang." Ucap Rafael panik.
"Batu karang?" Ucap Fany dan Uta bersamaan.
Rafael menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

Ombak semakin besar, desiran-desiran ombak terus menyapu tepi pantai dan menjangkau lebih jauh. Dan tak bisa dihindari, air laut yang terbawa oleh gelombang ombak menjangkau kaki Rafael dan membasahi kaki Rafael.

Rafael tertegun mendapati itu, ia menatap kedua temannya yang juga menatap kearahnya dengan tatapan panik. Hanya dalam hitungan detik kakinya berubah menjadi ekor.
.
Bersambung

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »