Give Me Love (14) Fanfiction | Ryan Rinaldi

Ingatan

Fany dan Uta dengan buru-buru membawa Rafael masuk kedalam kontrakan sebelum ada yang melihat Rafael dengan kondisi seperti itu. Keduanya dengan susah payah membopong Rafael dari pantai ke rumah kontrakan. Tak jauh memang jaraknya, tapi dengan perasaan yang panik dan takut entah kenapa jarak antara pantai dan juga rumah kontrakan terasa jauh. 

Fany menutup pintunya dan menguncinya. Ia juga memastikan gorden menutupi jendela dengan sempurna. Jangan sampai ada yang melihat Rafael dengan wujud seperti ini. 

Uta mengeluarkan kipas angin dari dalam kamar. Ia menghidupkannya dan menekan tombol yang membuat kipas berputar sangat kencang. Ia arahkan kipas itu ke ekor Rafael. Fany juga mengelap ekor Rafael supaya cepat kering dan menjadi kaki. Rafael sendiri hanya menatap bingung kedua temannya, ia tak mengerti kenapa mereka berdua melakukan itu.

"Udah kering kok nggak jadi kaki?" Tanya Fany pada Uta.

"Aku juga nggak tau Fan." Jawab Uta.

"Jadi kalian mengeringkan ekorku supaya berubah jadi kaki?" Tanya Rafael yang menatap kedua temannya secara bergantian. Keduanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Rafael.

"Itu nggak akan berpengaruh. Ekorku akan berubah jadi kaki, hanya dengan bantuan dari batu karang ajaib." Ucap Rafael.

"Batu karang ajaib?" Tanya Fany dan Uta bersamaan.

Rafael mengangguk. "Dan sekarang batu karang itu hilang. Aku nggak tau dimana hilangnya. Makanya aku tadi ke pantai buat nyari itu. Tapi yang ada kakiku malah berubah jadi ekor." Ucapnya panjang lebar.

"Jadi, sekalipun kita jemur kamu seharian dibawah matahari terik, ekormu nggak akan jadi kaki?" Tanya Uta memastikan.

"Iya. Yang aku jadi ikan kering."

"Tapi, di tv katanya kalau ekornya kering akan berubah jadi kaki." Sahut Fany.

"Fany, itu di tv, bukan di dunia nyata." Jawab Rafael.

"Terus gimana? Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Uta.

"Menemukan batu karang ajaib itu." Jawab Rafael.

"Bentuknya seperti apa?" Tanya Uta.

"Kuda laut, sedikit berkilau." Ucap Rafael.

Seketika Uta ingat, ia pernah melihatnya. Ya, tidak salah lagi, batu karang yang waktu itu ditemukan OB di restoran. Ah, tau begitu ia akan mengambilnya waktu itu. 

"Aku tau siapa yang bawa. Salah satu karyawan restoran, besok aku akan menanyakannya." Ucap Uta menatap Rafael serius.

"Makasih Uta, Fany." Ucap Rafael menatap Uta dan Fany secara bergantian.

~~♡♡♡♡♡~~

Adoria, duyung yang tertangkap oleh manusia itu mulai tersadar. Efek obat bius yang diberikan padanya sudah tak lagi berfungsi. Ia menoleh ke kanan dan juga kiri, tubuhnya dikelilingi oleh kaca. Adoria memukul-mukul kacanya, tapi itu tak ada gunanya. Kaca yang digunakan merupakan kaca anti peluru yang sangat kuat. Ia ingin meraih puncak aquarium itu juga tak bisa, karna ia tak bisa berdiri. Ia mencoba memukul kaca itu lagi, tapi kali ini menggunakan ekornya. Tetap saja, tak menghasilkan apapun, justru ekornya yang terasa sakit.

"Tolong! Tolong!" Ucap Amira dengan suara yang lemah. 

~~♡♡♡♡♡~~

Amarah Ratu Beryl semakin menjadi saat mendengar bahwa ada salah satu duyung yang melihat Rafael ada didunia manusia dan memiliki kaki. Artinya, Rafael yang membawa batu karang ajaib itu.

"Amira, ini pasti ulah Amira. Apa sebenarnya yang dia mau?" Gumam Ratu Beryl dengan tangan yang menggenggam tongkatnya sangat erat. Ia benar-benar marah.

"Mungkin saja, dia ingin merebut tahta darimu Ratu. Ingat bukan? Bahwa dia adalah pejabat kerajaan terlama di kerajaan bawah laut. Pasti dia ingin menjadikan anaknya sebagai penguasa laut." Ucap Algis.

"Kalau benar begitu, tidak akan aku biarkan! Lihat saja Amira, apa yang akan aku lakukan pada anak kesayanganmu itu." Geram Ratu Beryl.

"Ibu, jangan sakiti Rafael ibu. Itu akan membuatku sedih." Ucap Agysta yang tetap ingin menikah dengan Rafael. Tak peduli siapa dan seperti apa itu Rafael. Ia benar-benar jatuh cinta pada duyung tampan itu.

"Tidak akan pernah Agysta! Ibu tidak akan menikahkanmu dengan pengkhianat itu. Sampai kapanpun. Ibu akan menikahkanmu dengan Eraldo!"

"Tapi ibu, aku tidak menyukai Eraldo." 

"Aku tidak peduli!"

"Ibu..." rengek Agysta. Tapi ibunya tak memperdulikannya dan malah berenang pergi bersama kaki tangannya, Algis.

**♡**

Amira terus berusaha kabur dari penjara, ia melakukan berbagai cara untuk membuka pintu penjara. Kebetulan, penjara memang tidak dijaga dengan ketat,hanya sesekali saja di periksa. Dan saat ada duyung pengawal yang memeriksa, ia akan pura-pura tertidur. Terus seperti itu hingga akhirnya usahanya membuahkan hasil yang manis. Pintu penjara itu terbuka. Tapi, tunggu, ia tak boleh gegabah. Ia harus hati-hati, atau ia akan kembali masuk kedalam penjara dengan keamanan yang lebih diperketat dan akan sulit membuatnya untuk keluar lagi.

"Ibu Amira, Rafael mencarimu." ucap ikan kecil pada Amira.

"Dimana Rafael?" Tanya Amira.

"Aku bertemu dengannya di tepi pantai." Jawab ikan itu.

"Baiklah. Ee, boleh aku minta bantuanmu?" Tanya Amira.

"Apa itu?" 

"Tolong alihkan perhatian dua duyung pengawal itu." Ucap Amira menunjuk dua duyung yang ia maksud.

"Baik. Aku panggil teman-temanku dulu."

Tak lama kemudian ikan itu membawa rombongannya dan berusaha mengalihkan perhatian dua duyung pengawal yang tengah mengobrol tak jauh dari penjara. Amira segera memanfaatkan kesempatan itu untuk segera meninggalkan tempat itu. Ia berenang dengan sangat cepat supaya tidak ketahuan.

~~☆☆☆☆☆~~

Seorang pria yang berusia sekitar 40an tengah terpaku pada layar televisi dihadapannya saat melihat berita tentang duyung yang tertangkap. Bahkan ia melupakan makanan yang ada dihadapannya. Detik berikutnya ia memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Ada sesuatu yang memaksa masuk kedalam otaknya dan menimbulkan rasa sakit yang teramat. Matanya terpejam erat, kedua tangannya juga semakin mencengkeram erat kepalanta sendiri. Sakit, sangat sakit, bahkan sampai ia tergeletak dilantai. 

"Arrghh... apa ini? Sakit sekali?" Ucapnya yang merasakan kepalanya semakin sakit.

Ingatan demi ingatan mulai terbayang olehnya. Satu persatu potongan-potongan kejadian kembali ia ingat. Semakin banyak ingatan yang mencoba masuk, semakin sakit pula rasa sakit yang ia rasakan. 

~~♡♡♡♡♡~~

Cklek.. mata (namamu) terbuka saat mendengar suara pintu rumahnya terbuka. Matanya berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang meneranginya. Ia melihat ke kanan dan juga kirinya. Ternyata semalaman ia tidur di sofa. Kini matanya tertuju ke pintu utama. Ia pikir itu adalah ayahnya, ternyata itu adalah Gavin yang sudah rapi dengan tas yang menggantung pada punggungnya.

"Kamu baru bangun?" Tanya Gavin menghampiri (namamu). Gavin datang kerumah karna permintaan Amran yang memang belum bisa pulang kerumah. Begitu juga dengan papanya yang juga belum bisa pulang kerumah. Ini hal biasa, sering sekali Amran meminta Gavin untuk menemani (namamu) saat ia tak bisa pulang. Karna keduanya memang teman sejak kecil. Dan Amran sudah sangat mengenal Gavin. 

(Namamu) hanya menjawabnya dengan anggukan. Gavin panik saat melihat mata (namamu) sembab. Itu artinya (namamu) menangis semalaman. "Kamu kenapa (nam)? Apa ada maling? Atau ada yang menyakitimu?" Tanya Gavin menyentuh pipi (namamu) dan menghapus sisa-sisa jejak air mata yang masih membekas dipipi (namamu).

"Aku nggak papa Vin." Jawab (namamu).

"Nggak papa gimana. Mata kamu aja sembab kaya gini. Cerita sama aku, apa yang buat kamu nangis?" Tanya Gavin.

(Namamu) diam tak menjawab. Kepalanya menunduk.

"(Nam), kita ini kan udah lama kenal. Jangan sungkan buat cerita sama aku. Bilang, kamu kenapa?" Tanya Gavin dengan lembut.

(Namamu) menceritakan apa penyebabnya menangis pada Gavin. Gavin cukup terkejut mendengarnya, pasalnya, (namamu) menangis karna cowok yang baru dikenalnya itu. Dan lagi, (namamu) mengatakan padanya kalau dia menyukai cowok asing itu. Secepat itukah (namamu) bisa menyukai cowok yang belum jelas asal usulnya itu? Lalu bagaimana dengan seseorang yang mengharapkan (namamu) untuk menjadi miliknya? Hingga saat ini, orang itu belum berani menyatakan perasaannya pada (namamu), meski selalu bersama (namamu).

Gavin menarik (namamu) kedalam pelukannya. Ia tak mengatakan apapun, karna ia rasa, sebuah pelukan sudah bisa membuat (namamu) tenang dan nyaman.

~~☆☆☆☆☆~~

Uta menghampiri orang yang kemarin menemukan batu karang berbentuk kuda laut itu. Ia harus segera menanyakan itu, sebelum ia lupa atau kemungkinan terburuk batu karang itu sudah berpindah tangan.

"Batu karang yang kemarin, mana? Ada orang yang mencarinya dan tanya ke aku." Ucap Uta.

"Siapa orangnya? Biar aku kasih sendiri."

"Nggak usah! Biar aku aja."

"Kenapa? Oh, atau jangan-jangan kamu mau nipu aku? Pura-pura ada yang nyari terus nanti kamu ambil sendiri. Atau biar kamu dapet fee karna orang itu berpikir kamu yang nemuin." Ucap OB itu menerka-nerka.

"Nggak! Seriusan. Aku nggak ada maksud kaya gitu. Tapi emang ada pemilik barang itu yang tanya ke aku."

"Ya udah mana orangnya? Biar aku aja yang ngasihin langsung." 

"Please, ini penting banget. Aku mohon!" Ucap Uta memohon.

"Nggak!" Tolak OB itu.

Uta menghela nafas pasrah. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Apa yang harus ia lakukan supaya bisa mendapatkan batu karang ajaib itu? Apa dengan cara merebutnya secara paksa? Jelas itu akan membuat keributan. 

"Ee.. gini aja, gajiku bulan ini buat kamu. Tapi kamu kasih batu karang itu ke aku. Orangnya butuh banget batu karang itu." Ucap Uta menatap OB itu dengan was-was. Berharap OB itu mau menerima tawarannya.

"Ya udah deh!" Ucap OB itu lalu memberikan tas kecil berisi batu karang ajaib itu pada Uta.

"Makasih banyak!" Ucap Uta tersenyum senang. Akhirnya, ia bisa membawa kembali batu karang ajaib itu. Sekarang, ia harus pulang terlebih dahulu lalu ia akan memberikan batu karang ajaib itu pada Rafael. Kebetulan restoran juga belum buka, masih ada waktu 15 menit lagi, ia harus cepat.

~~☆☆☆☆☆~~

Fany berjalan dengan hati-hati diatas bebatuan di tepi pantai. Sesekali ia menoleh kebelakang, memastikan tak ada orang yang mengikutinya. Karna, hari ini ia akan menemui ibu Rafael ditempat biasa Rafael dan ibunya bertemu. Semalam, Rafael sudah menitip pesan pada ikan. Mungkin saja, pagi ini ibu Rafael sudah ada ditempat itu.

Fany berhenti sejenak, lagi, ia melihat duyung lagi. Sejauh ini, sudah 3 duyung yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Pertama, Rafael. Kedua, duyung yang tertangkap kemarin. Dan ketiga, ibu Rafael yang saat ini tengah duduk diatas bebatuan. Fany kembali melanjutkan langkahnya, tapi, Amira malah terkejut dengan kedatangan Fany. 

"Ibu, tunggu! Aku temannya Rafael!" Ucap Fany sembari mempercepat langkah kakinya. Hampir saja, Amira mau menceburkan dirinya kelaut, karna melihat Fany yang memang manusia. Ia tidak tau kalau Fany adalah teman Rafael.

"Dimana Rafael?" Tanya Amira.

"Dia dirumah, ibu. Batu karang itu hilang, dan Rafael saat ini dalam wujud duyung. Makanya dia nggak bisa kesini." Jawab Fany.

"Apa? Batu karangnya hilang?" Panik Amira.

"Iya, tapi ibu nggak perlu khawatir. Karna Uta sedang mencarinya. Sekarang, ibu ikut aku kerumahku." Ucap Fany.

"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Amira.

Benar juga, bagaimana caranya membawa ibu Rafael. Fany tidak mungkin kuat menggendongnya seorang diri. Fany terdiam sejenak, pandangan matanya beredar ke sekeliling, sembaru mencari sesuatu yang bisa membawa ibu Rafael dan pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ia melihat ada gerobak sampah. Itu bisa ia gunakan untuk membawa ibu Rafael. Fany buru-buru mengambil gerobak itu dan membawanya menuju Amira. Setelahnya, ia menaikkan Amira ke gerobak dengan susah payah. Lalu ditutupinya ekor Amira dengan daun-daun yang ada disekitar.

Fany mendorong gerobak itu dengan wajah yang panik. Ia harap tak ada orang yang curiga atau apapun itu. Jantung Fany berdebar kencang saat ada seseorang yang melihat kearah gerobaknya. Dan pada saat yang bersamaan, angin laut berhembus dengan kencang, membuat daun-daun yang menutupi ekor Amira bertebaran. Mata Fany terbuka lebar, begitu pula dengan Amira yang terkejut.
.

Bersambung

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »