Give Me Love (15) Fanfiction | Ryan Rinaldi

Tepat waktu

_______

Fany menelan ludahnya, badannya jadi sedikit gemetar karna takut. Tanpa berpikir lagi, Fany langsung mendorong gerobak itu dengan cepat. Walau rasanya sulit untuk bergerak cepat diatas pasir. Tapi, sebisa mungkin ia berusaha untuk cepat pergi dari tempat itu. Atau, orang-orang akan menangkap ibu Rafael itu. Amira juga sibuk menutupi ekornya dengan dedaunan yang tersisa.

"Duyung! Ada duyung! Anak itu membawa duyung!" Ucap orang yang melihat ekor Amira tadi.

"Mana?" Tanya orang-orang lain yang berlari mendekatinya.

"Itu, digerobak itu!" Ucapnya menunjuk gerobak yang dibawa Fany.

Fany semakin mempercepat langkahnya. Ia juga mencari jalan yang sekiranya bisa membingungkan orang-orang itu. Ia harus bergerak cepat, ia dan ibu Rafael tak boleh tertangkap. Sesekali Fany menoleh kebelakang, orang-orang itu masih terus mengikutinya. Ia sudah lelah, keringatnya sudah banyak keluar. Ia harus mencari tempat bersembunyi.

~~☆☆☆☆☆~~

"Bodoh! Apa yang kalian lakukan? Kenapa Amira bisa kabur?" Marah Ratu Beryl pada para duyung pengawal.

Sekarang, semakin sulit untuknya mendapatkan batu karang ajaib itu. Padahal, ia berniat menjadikan Amira sebagai sandra supaya Rafael mau memberikan batu karang ajaib itu padanya. Tapi, dengan lolosnya Amira, lolos pula rencananya.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan Ratu?" Tanya Algis.

"Tentu saja mengambil batu karang ajaib itu dari tangan Rafael. Batu karang itu harus ada ditanganku." Ucap Amira dengan wajah yang serius.

"Tapi, bagaimana caranya Ratu?" Tanya Algis.

"Kamu juga harus berpikir Algis. Apa gunanya aku memilikimu kalau kamu tidak bisa membantu." Ucap Ratu Beryl.

~~☆☆☆☆☆~~

(Namamu) memakai tasnya dan berjalan keluar kamar. Langkahnya sejenak terhenti, matanya memandang ke kamar yang dulu ditempati Rafael. Tertutup rapat, tak lagi dihuni. Sejak Rafael pergi, rumahnya terasa sangatlah sepi. Bukan hanya rumahnya, ia juga merasa sisi lain dihatinya juga terasa sepi. Mengingat itu, membuat dadanya terasa sesak. Tatapan teduh dari seorang Rafael, selalu terbayang olehnya. Ia telah jatuh pada pesona seorang pangeran bodoh. 

(Namamu) menoleh saat mendengar suara langkah kaki masuk kedalam rumah. Wajahnya tak menunjukan ekspresi apapun, hanya datar.

"Aku pikir kamu belum selesai pakai baju, ternyata malah melamun." Ucap Gavin yang sedari tadi menunggu diluar untuk berangkat ke kampus. "Kamu masih kepikiran cowok itu?" 

(Namamu) mengangguk pelan.

Gavin membuang nafas pelan, tangannya sedikit menggaruk dahinya uang tak gatal. "Kamu lihat, kan? Setelah apa yang lakukan dan berikan untuknya, dia main ninggalin kamu gitu aja." 

"Dia punya alasan vin, dan aku mau tau secara jelas apa alasan itu."

"(Nam), udahlah. Dari pada nanti kamu tersakiti lagi karna dia."

(Namamu) menggelengkan kepalanya. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya tanpa mengatakan apapun. Gavin mengernyitkan dahinya, apa maksud (namamu) menggelengkan kepalanya? Ah sudahlah. Gavin segera menyusul (namamu) yang sudah mendahuluinya.

~~☆☆☆☆☆~~

Orang-orang terus mengejar Fany yang membawa duyung itu. Mereka sempat berhenti sejenak, karna sudah tak melihat Fany lagi. Tapi, mereka tak mau tertipu. Semuanya berpencar untuk mencari Fany. Dan benar saja, salah satu gerombolan orang itu menemukan Fany yang bersembunyi dibalik gedung yang tampak usang.

"Ini dia duyungnya!" Teriak salah satu orang yang mengejar Fany. Dan gerombolan lain langsung berdatangan. Mengelilingi Fany dan juga Amira yang diliputi rasa takut dan juga panik.

Salah satu orang itu mendekat ke gerobak, lalu menyingkirkan dedaunan yang diduga menutupi ekor duyung itu. Satu persatu daun itu ia sibakkan dan........ tidak ada ekor, yang ia dapati hanyalah kaki. Ya, kaki manusia dan itu asli. Fany dan Amira menghela nafas lega.

"Mana? Kok kaki? Katanya duyung." Ucap orang yang mengecek gerobak itu.

"Tadi ekor kok." Sahut yang pertama kali melihatnya.

"Mana? Ini jelas-jelas kaki. Salah lihat mungkin kamu. Nggak mungkin kan ekor bisa berubah jadi kaki." 

"Ah, mengecewakan!" Sahut yang lain.

Satu persatu orang-orang itu mulai pergi meninggalkan Amira dan juga Fany. Fany dan amira benar-benar bisa bernafas dengan lega. Fany mengarahkan pendangannya ke-dua orang yang muncul dari persembunyiannya dan kini tengah berjalan kearahnya.

"Ibu." Rafael langsung memeluk sang ibu. Meluapkan rasa rindunya pada sang ibu. 

"Untung kamu cepat datang nak. Kalau tidak, mungkin ibu sudah ditangkap." Ucap Amira.

Rafael menganggukan kepalanya dengan senyuman terkembang diwajahnya. Ia beralih menatap Uta yang berdiri didekatnya. "Ini juga karna Uta. Dia berhasil menemukan batu karang ajaibnya. Makasih Uta." 

Uta mengacungkan jempolnya. 

"Kamu juga Fan, maaf membuatmu repot berlarian sambil bawa ibu." Ucap Rafael yang beralih menatap Fany.

Fany menganggukan kepalanya. "Aku senang bisa bantu kalian." 

"Ee... boleh aku bawa ibu kerumah?" Tanya Rafael menatap kedua temannya itu secara bergantian.

"Kami nggak mungkin bilang nggak." Jawab Uta lalu tersenyum lebar. Fany juga menyetujui apa yang dikatakan Uta.

~~☆☆☆☆☆~~

Rafael, Uta dan juga Fany datang ke restoran sedikit terlambat. Untung atasannya bisa mengerti dan tidak terlalu mempermasalahkannya. Pagi hari juga pengunjung yang datang tidak banyak. Baru beberapa saja, jadi masih bisa ditangani karyawan lain.

Rafael tengah mengelap kaca depan restoran. Tangannya yang bergerak mengelap kaca tiba-tiba berhenti saat melihat pantulan seseorang pada kaca. Ia berbalik, menghadap orang yang sudah tak asing baginya, tapi ia juga tak mengenalnya.

"Apa kamu mengingatku? Ini ketiga kalinya bertemu." 

Rafael menganggukan kepalanya. Ia mengingatnya. Pertama kali ia bertemu dengan orang yang berdiri dihadapannya itu saat dijalan, saat ia akan menyebrang dan membuat jalanan jadi macet karna ulahnya yang menyebrang seenaknya. Dan, orang dihadapannya itulah yang memarahinya waktu itu. Dan yang kedua, ia bertemu dengan orang itu dirumah (namamu).

"Setelah kamu menyebrang jalan seenakmu sendiri, sekarang kamu dengan mudahnya meninggalkan (namamu). Apa kamu nggak sadar berapa banyak hal yang sudah dia lakukan buat kamu?" Ucap Gavin panjang lebar.

Rafael menggelengkan kepalanya. "Kamu salah! Sulit untukku meninggalkan (namamu). Tapi, keadaan membuatku harus meninggalkannya."

"Keadaan kamu bilang? Cih." Gavin mengalihkan pandangannya. "Oh aku tau, kamu hanya memanfaatkan (namamu). Setelah kamu dibelikan baju, hp dan yang lainnya, kamu meninggalkannya dan mencari mangsa baru."

Rafael menanggapi perkataan Gavin dengan seulas senyuman. "Aku nggak pernah berpikir seperti itu."

Gavin membuang nafas kasar. "Kamu tau? Aku iri padamu. Kamu orang baru bahkan asing dalam kehidupan (namamu). Tapi kamu berhasil mendapatkan cintanya. Sedangkan aku? Yang selalu bersamanya sejak kecil, kalah oleh orang sepertimu." Ucap Gavin dengan wajah tak senang.

"Rasanya aku ingin memukulmu. Tapi, kalau (namamu) tau, dia akan marah. Karna dia nggak pernah mau melihatku berkelahi." Ucap Gavin lalu melangkah pergi meninggalkan Rafael yang masih terdiam dengan lap basah pada tangannya.

"Siapa?" Tanya Fany.

Rafael menatap Fany sejenak lalu menggelengkan kepalanya. Ia kembali bekerja tanpa menjawab pertanyaan Fany. Fany jadi kesal karna Rafael mengabaikan pertanyaannya.

~~☆☆☆☆☆~~

Pukul 21.15, Rafael baru saja selesai bekerja. Ia meraih tasnya dan bergegas pulang kerumah. Ingin cepat-cepat bertemu sang ibu dan menanyakan soal duyung yang tertangkap itu. Rafael berlari supaya cepat sampai dirumah. 

Begitu sampai dirumah kontrakan, Rafael langsung masuk ke kamar Fany yang juga ditempati ibunya sekarang. Tak lama setelah itu Fany dan juga Fany sampai dirunah. Keduanya juga langsung menuju kamar Fany. 
Amira masih belum bisa berjalan. Jadi ia terus berada di atas kasur.

"Ibu, ibu pasti tau ada duyung yang tertangkap kan?" Tanya Rafael.

Amira menganggukan kepalanya. "Ratu Beryl lah yang menyebabkannya tertangkap."

"Apa? Ratu Beryl? Kenapa?" Tanya Rafael tak habis pikir.

"Duyung yang tertangkap adalah Ratu Adoria, ibu kandungmu. Ratu Beryl tidak suka dengan ibumu. Itulah kenapa dia melakukan itu." Jelas Amira.

Jemari Rafael mencengkeram erat sprei berwarna merah itu hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahny juga menunjukan betapa marahnya ia. Sungguh, ia tak habis pikir Ratu Beryl akan sekejam itu. 

"Kamu harus menyelamatkan ibumu nak." Ucap Amira.

"Pasti, aku pasti akan menyelamatkannya." Ucap Rafael penuh keyakinan.

**♡**

Rafael bersiap-siap untuk pergi ke gedung dimana ibunya berada. Ia harus bergerak cepat sebelum sesuatu terjadi pada ibunya. Tak lupa ia membawa batu karang ajaibnya untuk merubah ekor ibunya menjadi kaki nantinya. Ia mengikatnya dengan kuat dipinggangnya, supaya tas kecil pemberian (namamu) itu tidak jatuh dan hilang lagi.

"Apa kamu yakin? Ini sangat berbahaya Raf." Ucap Uta mengingatkan.

"Aku tau. Tapi aku harus tetap menyelamatkannya, kan?"

"Bagaimana caramu masuk? Pasti itu akan dijaga ketat." Sahut Fany.

"Aku kenal dengan Om Amran. Mungkin dia bisa membantuku." Ucap Rafael lalu melangkahkan kakinya. Dengan cepat Fany meraih tangan Rafael.

"Aku takut Raf." Ucap Fany.

"Percaya padaku. Aku akan baik-baik saja. Aku, titip Ibu." Ucap Rafael lalu melepaskan tangan Fany pada tangannya dan kembali melangkahkan kakinya. Ini malam hari, jadi ia rasa ini adalah waktu yang tepat. Mungkin para petugas itu sudah tertidur.

~~♡♡♡♡♡~~

Rafael tiba di gedung dinas kelautan. Sekarang ia tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk masuk kedalam gedung itu. Didekat pintu gerbang ada dua satpam yang sedang bermain catur. Ia harus mencari celah supaya bisa masuk kedalam sana. Matanya bergerak kesana kemari untuk mencari jalan masuka ke area gedung tanpa sepengetahuan satpam.

Rafael menemukan ide, ia mengambil batu sebesar genggaman tangannya, lalu melemparkannya hingga mengenai gerbang dan menimbulkan suara yang keras dan membuat dua satpam itu terkejut. Setalahnya Rafael bersembunyi dibalik pohon dekat gerbang. Menunggu para satpam itu keluar. Berhasil, dua satpam itu keluar dan berada ditepi jalan untuk mencari siapa yang melempar batu. Rafael buru-buru masuk kearea gedung dan mencari tempat aman. Jangan sampai ada yang melihatnya.

Dibukanya pintu belakang gedung, tak ada orang. Ia harus tetal hati-hati. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian gedung. Dimana ibunya diletakkan? Rafael membaca satu persatu tulisan yang ada disetiap pintu. Beberapa ruangan yang sepertinya memungkinkan ia buka dengan sangat hati-hati. Tapi sampai sekarang ia belum menemukannya. Rafael buru-buru bersembunyi saat melihat ada dua orang yang tengah mengobrol.

"Dimana duyungnya?" Tanya salah satu diantara dua orang itu.

"Didalam." Jawab yang lain.

"Kapan akan dibedah?" Tanyanya lagi.

"Katanya sih lusa. Sekarang sedang pengumpulan alat."

Rafael terkejut mendengarnya, dibedah? Tidak, ia tidak akan mengizinkan manusia melakukan apapun pada ibu kandungnya. Ia harus cepat, tapi dua orang itu tak kunjung pergi dari tempat itu. Was-was, itu yang saat ini Rafael rasakan. Ia kembali menjulurkan kepalanya, dua orang yang tadi ada disana sudah tidak ada. Rafael buru-buru mendekat ke ruangan yang kata salah satu orang itu tadi terdapat duyung. Rafael menoleh kebelakang, tidak ada orang. Ia buru-buru masuk dan menutup pintu serta menguncinya supaya aman.

Rafael berbalik dan melihat duyung yang ada di aquarium besar itu. Kakinya mulai melangkah, tapi perlahan. Entah kenapa rasanya ini sulit dipercaya, ia masih bisa melihat ibu kandungnya yang selama ini ia kira sudah tiada. Rafael menyentuh dinding aquarium dihadapannya, menatap sang ibu dengan tatapan sedih.

"Ibu." Lirih Rafael.

Adoria yang tertidur perlahan mulai menggerakan tubuhnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan mendapati seseorang yang masih sangatlah asing baginya. Orang itu menatapnya dengan tatapan sedih.

"Ibu." Ucap Rafael lagi dengan pelan.

Adoria merasakan hatinya bergetar saat mendengar orang dihadapannya itu memanggilnya ibu. "Rafael? Kamu, kamu Rafael? Anakku?" Tanya Adoria.

"Iya ibu. Aku Rafael, aku anak Ibu." 

"Rafael." Adoria menyandarkan dahinya pada dinding aquarium, air matanya juga menetes. 

Rafael ikut menyandarkan dahinya pada dinding, tepat pada dahi ibunya. Dinding kaca itu menghalangi dua orang itu untuk saling bersentuhan. Rafael langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
.
.

Bersambung

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »