Give Me Love Part (2) |cerpen Cinta | Riyan Rinaldi

______
Terdapat sebuah kerajaan besar dibawah laut. Di kedalaman yang saat ini belum pernah dijamah oleh manusia. Tak ada yang bisa menjangkau kerajaan bawah laut itu, meskipun menggunakan kapal selam sekalipun. 

Itulah alasan kenapa tidak ada yang sadar bahwa ada sebuah kerajaan besar dibawah laut yang dipimpin oleh Ratu Beryl. Ratu para duyung yang sudah 20 tahun menjadi penguasa kerajaan laut. Putri semata wayangnya Agysta, saat ini tengah dipersiapkan untuk menjadi penerusnya kelak. 

Putri Agysta tengah diajari banyak hal oleh para Dewan kerajaan, Perdana Menteri, dan juga penasihat kerajaan, supaya bisa menjadi pemimpin yang bijaksana kelak. Tapi, ada salah satu Dewan Kerajaan yang tengah berusaha membongkar suatu rahasia besar yang disembunyikan oleh Ratu Beryl yang tak diketahui oleh siapapun. 

Bahkan para Dewan kerajaan sekalipun. Dan ia ingin tahta kerajaan kembali ke tangan sebenarnya. Kembali ke keturunan asli Raja Afkar. Yang merupakan kakek dari putra semata wayang Raja Alden dan Ratu Adoria yang di anggap sudah mati.

"Eraldo, sampaikan pada seluruh rakyat duyung bahwa aku ingin anak-anak mereka berkumpul di depan istana besok. Semua, tanpa terkecuali." Ucap Ratu Beryl pada salah satu panglima kerajaan. Panglima yang terkenal paling kuat diantara yang lainnya.

"Baik Ratu." Ucap Eraldo yang langsung berenang keluar istana. Untuk menyampaikan pesan dari Ratu Beryl kepada seluruh rakyat kerajaan bawah laut.

"Ibu, memangnya ada apa?" Tanya Agysta.

"Ada satu hal yang baru aku ketahui. Bahwa anak Alden masih hidup." Ucap Ratu Beryl menggenggam erat tongkat yang selalu ia bawa.

Deg.. Salah satu Dewan Kerajaan terdiam mendengar perkataan sang Ratu. Darimana Ratu Beryl mengetahui tentang putra Raja Alden yang masih hidup? Padahal, ia tak pernah mengatakannya pada siapapun. Bahkan, ia baru saja menceritakan itu kepada putra Alden beberapa hari yang lalu. Dan ia yakin tak ada siapapun yang mendengarnya.

"Mana mungkin bisa? Bukankah kita sudah membunuh anak Alden?" Tanya salah satu Penasihat kerajaan.

Memang benar, hampir seluruh rakyat menyaksikan peristiwa dibunuhnya Putra semata wayang Alden saat masih bayi. Saat itu, sesaat peperangan antara duyung dan juga manusia. 20 tahun yang lalu. 

"Aku juga tidak mengerti. Tapi, dia bilang ada orang dari garis keturunan Raja Afkar yang masih hidup. Sudah pasti itu anak Alden bukan?" Ucap Ratu Beryl.

"Tapi bu, bisa saja yang dimaksud belum tentu anak Alden kan bu? Bisa saja itu anak saudara Alden. Atau yang lainnya." Sahut Putri Agysta.

"Benar apa yang dikatakan tuan putri." Sahut Cirrilo, Dewan Kerajaan. "Bisa saja ada garis keturunan yang lain." Sambungnya.

"Baiklah. Rilo, cari tau siapa saja garis keturunan Raja Afkar." Perintah Ratu Beryl.
"Baik Ratu." Ucap Rilo dengan sedikit membungkukkan badannya.

"Tanpa mengurangi rasa hormat. Ratu, kenapa anak Raja Alden harus di musnahkan? Dia tidak bersalah bukan?" Tanya Amira. Yang juga merupakan Dewan Kerajaan.

"Apa kamu sudah lupa? Alden adalah anak Duyung dan Manusia. Sudah jelas bahwa anak Alden memiliki darah Manusia. Itu sangat berbahaya untuk kita." Ucap Ratu Beryl.

Amira tak lagi menyangkal perkataan pemimpinnya. Ia tau, dimana anak Raja Alden sekarang. Dan dialah yang membesarkannya. Tanpa ada yang mengetahui bahwa itu adalah anak Raja Alden. 

Ia harus segera menemui anak Raja Alden. Sebisa mungkin, jangan sampai identitasnya terbongkar saat ini. Masih butuh waktu yang panjang untuk mengungkap kejahatan Ratu Beryl.
~~☆☆☆☆~~
Rafael mulai terbiasa berjalan. Bahkan sesekali ia mencoba berlari. Badannya mulai dipenuhi keringat. Dan jujur saja, ia merasa risih dengan kehadiran keringat ditubuhnya itu. Pasalnya, baru kali ini ia berkeringat. Selama di air, ia tak pernah berkeringat sama sekali.

Rafael merogoh sakunya, mengambil sebuah batu karang yang berbentuk Kuda Laut. Batu karang itu juga terlihat bersinar. Rafael menggenggamnya erat, ia teringat akan sesuatu.

~flasback~

Rafael berenang mengikuti ibunya yang berenang didepannya. Berenang semakin kepermukaan laut. Rafael penasaran, kenapa ibunya mengajaknya ke permukaan laut? Bukankah itu sangat berbahaya jika ada nelayan yang melihat. Nyawanya bisa saja terancam.

Amira naik kedaratan, menyeret tubuhnya ke sebuah batuan besar. Didekatnya juga terlihat seperti gua. Tempat itu memang jarang didatangi Manusia. Hanya sesekali saja. Rafael hanya bisa mengikuti ibunya. Tapi, ia tetap harus was-was.

Amira membenturkan batu besar ke dinding batu hingga dinding itu retak. Satu persatu ia ambil retakan batu itu hingga memunculkan batu karang yang berbentuk Kuda Laut bersinar. Amira mengambilnya lalu memberikannya pada Rafael.

"Apa ini bu?" Tanya Rafael bingung.

"Itu yang digunakan kakekmu, Raja Afkar untuk memiliki kaki. Sehingga, kakekmu bisa bertemu dengan nenekmu yang merupakan Manusia. Ayahmu, Raja Alden, juga sesekali menggunakan itu untuk pergi ke dunia manusia." Jelas Amira.

"Maksud ibu? Aku bukan anak ibu? Aku anak Raja Alden?" Tanya Rafael dengan tatapan bingung.
Amira menganggukkan kepalanya mantap. "Benar nak. Kamu adalah putra Raja Alden dan Ratu Adoria. Kamulah pewaris sah tahta kerajaan. Ibumu, ingin kamu kembali merebut tahta kerajaan." Ucapnya.

Rafael tak percaya dengan semua ini. Bagaimana mungkin bisa. Bukankah sudah jelas bahwa putra mahkota kerajaan mati di usianya yang masih sangat belia.

"Bukankah pangeran sudah meninggal? Dan apa yang salah dengan kepemimpinan Ratu Beryl? Kerajaan damai kan?" Tanya Rafael. Saat ini berbagai macam pertanyaan memenuhi kepalanya.
"Memang benar kerajaan terlihat damai. 

Tapi ibu merasa ada hal besar yang disembunyikan Ratu Beryl selain tentang ayahmu. Peperangan yang terjadi antara Manusia dan Duyung itu bukanlah salah ayahmu. Dan lagi, Ratu Beryl hanyalah anak seorang selir yang sama sekali tidak masuk daftar pewaris sah kerajaan. 

Dia juga merebut tahta kerajaan dari ayahmu." Ucap Amira panjang lebar. Banyak alasan-alasan yang harus Rafael tau. Tapi ia rasa, ia tidak mungkin menceritakan semuanya saat ini. 

"Dan soal anak yang dibunuh waktu itu. Ibu akan menceritakannya lain waktu. Karna kita tidak bisa berlama-lama disini. Kalau manusia melihat kita, itu akan sangat bahaya. Juga, kalau pengawal kerajaan melihat kita ada disini, mereka akan curiga." Ucap Amira.

"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Rafael.

"Untuk sementara waktu, tinggalah di dunia Manusia. Kamu juga harus mengenali Dunia asal kakekmu. Ayah dan Ibumu mau kamu menjadi jembatan perdamaian Duyung dan Manusia." Ucap Amira.

"Tapi bu.."

Amira menganggukkan kepalanya. Ia percaya Rafael pasti bisa melakukannya. Jiwa kepempinan Rafael, ia sudah melihatnya. Sudah dua kali ia meresmikan penguasa kerajaan laut bersama Dewan Kerajaan yang lain. Jadi, ia sudah paham betul seperti apa kriteria seorang pemimpin. 

Amira menceburkan dirinya ke lautan dan berenang dengan cepat, hingga tidak lagi terlihat.
Rafael memandangi Batu karang yang diberikan ibunya kepadanya. Ia belum pernah menggunakannya sebelumnya. 

Tapi, menurut cerita ibunya, cukup dengan menggosokkannya ke ekornya. Rafael mencobanya, menggosokkannya ke ekornya. Dan benar saja, dalam sekejap ekornya berubah menjadi kaki.

~~☆☆☆☆~~
Rafael masih sulit mengerti semua yang diceritakan ibunya. Terutama tentang Putra Mahkota Kerajaan yang dikabarkan sudah dibunuh waktu itu. Banyak yang menyaksikan itu. Tapi, kenapa ibunya mengatakan bahwa dirinyalah Putra Mahkota itu?

Selama ini, yang ia tau, dirinya adalah anak seorang Dewan Kerajaan. 
"Rafael, kok melamun?" Tanya (namamu) sembari memberikan segelas minuman dingin pada Rafael.
"Terimakasih." Ucap Rafael lalu meneguk minuman yang diberikan (namamu). Tenggorokannya memang terasa sangat kering.

"Kamu berusaha sangat keras." Ucap (namamu) mengelap keringat di wajah dan juga leher Rafael. 
Rafael mematung mendapat perlakuan seperti itu. Ini pertama kalinya ada seorang lawan jenis yang menyentuh pipinya. Dan itu, malah semakin membuatnya berkeringat. Jantungnya juga berdetak tidak normal.

"Kok kamu melamun lagi sih?" Tanya (namamu).

"Eh.. nggak kok!" Ucap Rafael yang langsung mengalihkan pandangannya.

"Ngelamunin apa sih Raf? Atau kamu kepikiran keluargamu?" Tanya (namamu).

Rafael kembali menganggukkan kepalanya. Ia memang tengah memikirkan keluarganya.

"Kamu pasti rindu mereka kan?" Tanya (namamu) dengan tatapan iba.
"Iya. Aku merindukan ibuku." Jawab Rafael.
(Namamu) menyentuh salah satu tangan Rafael dan menggenggamnya. "Tenang, aku percaya, kamu pasti bisa bertemu ibumu."

Rafael menanggapinya dengan sebuah anggukan kepala.

Mata (namamu) beralih menatap benda yang di genggam Rafael. Cantik sekali bentuknya. "Ih, lucu banget sih." Ucap (namamu) meraih benda itu. "Kaya ada emas atau peraknya gitu, berkilau-kilau." Sambungnya.

"Jangan!" Rafael merebut kembali batu karang itu.

(Namamu) terkejut akan hal itu. Ia menatap Rafael heran. "Kenapa?" 
"Ee.. ini benda berhargaku. Ibuku memberikannya untukku. Jadi, aku akan menjaganya dengan baik." Ucap Rafael.

(Namamu) mengangguk mengerti. Detik berikutnya ia melangkahkan kakinya dengan cepat masuk kedalam rumah. Rafael menatap punggung (namamu). Kenapa tiba-tiba (namamu) masuk? Apa (namamu) marah padanya? 

Sungguh, ia tidak ada maksud apapun. Tapi, batu karang itu sangatlah penting untuknya. Ia tidak boleh kehilangan batu karang itu. Karna, kalau sampai batu karang itu hilang di daratan, akan sangat berbahaya. Ia tidak akan pernah bisa jadi manusia lagi. 

"Ini." (Namamu) memberikan tas kecil pada Rafael.

"Untuk apa?" Tanya Rafael.

"Kamu bilang itu benda berharga kan? Jadi kamu harus menyimpannya dengan baik." Ucap (namamu) sembari memasukkam batu karang itu kedalam tas kecil miliknya. Lalu menutupnya rapat-rapat dan memberikannya kembali pada Rafael.

Rafael tersenyum senang. Jadi, (namamu) tiba-tiba masuk untuk mengambil tas ini. Syukurlah, ia pikir (namamu) marah padanya. Karna, kalau sampai (namamu) marah, ia tidak tau harus bagaimana. Hanya (namamu) yang ia kenal di dunia manusia ini. 

"Terimakasih (nam). Kamu banyak membantuku." Ucap Rafael.

"Bukan masalah kok. Aku juga senang bisa membantumu. Kamu juga terlihat sangat lucu." Ucap (namamu).
Rafael tertawa kecil mendengar (namamu) yang mengatakannya lucu.
♡♡♡
"Besok kita ke mall ya." Ajak (namamu).
"Mall?" Tanya Rafael. Sejujurnya Rafael malu jika terus bertanya. Tapi, ia benar-benar tidak tahu sama sekali tentang dunia manusia. Apalagi istilah-istilahnya.

"Mall itu tempat untuk kita belanja. Nanti kita beli baju buat kamu." Ucap (namamu) dengan kaki yang terus melangkah masuk kedalam rumah.

"Oh..." Rafael mengangguk-angguk. "Om Amran kemana?" Tanyanya.

"Nggak tau kemana." Jawab (namamu). "Ah itu." (Namamu) menunjuk ke arah ayahnya yang baru saja muncul dari dapur. Terlihat ayahnya sedang membawa bak kecil yang berisi air. (Namamu) sudah tau kalau air itu akan dibawa ke ruang penelitian yang ada di rumahnya. 

Amran merasakan ponselnya berdering. Kakinya membawanya mendekat ke (namamu). "(Nam), tolong ambilin hp papa." Pinta Amran. Kedua tangannya memegang bak berisi air itu. Jadi ia tak bisa mengambilnya.

"Iya pa." (Namamu) merogoh saku papanya untuk mengambil ponselnya. Dan tanpa sengaja, siku tangannya menyenggol bak yang dibawa papanya. Membuat air yang ada dalam bak itu tertumpah ke arah Rafael dan membasahi kaki Rafael.

Rafael terkejut bukan main. Gawat, jika kakinya terkena air. Ia pasti akan berubah menjadi duyung. Dan, didepan dua manusia ini? Rafael terlihat sangat panik. Apa yang harus ia lakukan?
.
.
Selanjutnya Baca : Give Me Love Part 3

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »