Give Me Love Part (3) Cerpen Fiksi Cinta | Ryan Rinaldi

***
Rafael terkejut bukan main. Gawat, jika kakinya terkena air. Ia pasti akan berubah menjadi duyung. Dan, didepan dua manusia ini? Rafael terlihat sangat panik. Apa yang harus ia lakukan? 

Tiba-tiba Rafael terjatuh, ia terduduk dengan kedua kaki yang ia luruskan. Gawat, kakinya akan segera berubah menjadi ekor. Dan dua orang ini akan segera mengetahuinya. Tamat sudah riwayatnya. 
Rafael memejamkan matanya erat-erat,persis seperti orang yang ketakutan. Ia siap jika dua orang itu akan menangkapnya. 

Cukup lama Rafael memejamkan matanya. Tapi, ia tak mendengar suara apapun. Suara terkejut karna melihat ekornya atau apapun itu. 

"Rafael, kamu kenapa?" tanya (namamu).

Perlahan kelopak mata Rafael terbuka. Matanya langsung memandang kakinya, dan ia kembali terkejut. Aneh, kenapa kakinya tidak berubah menjadi ekor? Bukankah jika terkena air kakinya akan berubah jadi ekor? 

"Rafael." Panggil (namamu) lagi.

"Eh.... nggak papa kok. Aku cuma kaget aja." jawab Rafael.
"Papa tau. Mungkin aja dia trauma sama air. Karna kan, dia pernah hanyut." Sahut Amran. "Maafin om Raf, om nggak sengaja." Sambungnya.

"Iya, nggak papa kok om. Aku pikir, aku harus menghilangkan rasa trauma itu." Ucap Rafael.
"Maaf ya. Aku beneran nggak tau." Ucap (namamu) penuh penyesalan. Karna ialah penyebab air itu tertumpah.

"Nggak papa kok (nam). Aku baik-baik aja." Ucap Rafael.

"Ya udah, kamu buruan ganti baju kamu. Biar aku yang bersihin air ini." Ucap (namamu) sembari membantu Rafael berdiri.

Rafael melangkahkan kakinya menuju kamar yang ia tempati. Ia berjalan dengan hati-hati. Ia masih sedikit kesulitan berjalan. Bagaimanapun, ia belum terbiasa berjalan. Baru satu hari ia memiliki kaki. Rafael menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Setelahnya ia memandangi kakinya yang tak juga berubah menjadi ekor.

"Aneh, ada apa sebenarnya. Apa aku nggak bisa memiliki ekor lagi?" Tanya Rafael pada dirinya sendiri. "Atau..." Rafael mengeluarkan batu karang berbentuk kuda laut dari dalam tas kecil yang selalu ada padanya. "Karna ini?" Ucapnya menatap batu karang itu.

~~☆☆☆☆☆~~

Angin laut malam hari sangatlah dingin. Para nelayan juga mulai berangkat mencari ikan ditengah dinginnya hembusan angin.

Amira dengan sangat hati-hati mencari tempat didaratan yang aman. Ia menunggu Rafael untuk menemuinya. Ia memang belum membuat janji dengan Rafael. Tapi, ia harap Rafael akan muncul. Ia harus membawa Rafael kembali ke kerajaan bawah laut terlebih dahulu.

Lebih dari dua jam Amira menunggu. Rafael tak kunjung datang. Dan kalau ia tak segera pergi dari tempat itu, ia takut akan ada manusia yang melihatnya. Amira memutuskan untuk kembali ke kerajaan. 

"Ibu."

Amira mengurungkan niatnya untuk menceburkan dirinya kelaut saat mendengar suara Rafael. Ia menoleh, dan benar saja. Itu anaknya. Amira tersenyum senang saat melihat anaknya baik-baik saja selama didaratan. 
Bagaimanapun, ada darah manusia yang mengalir ditubuh Rafael. Jadi, tidaklah sulit bagi Rafael untuk menyesuaikan diri dengan manusia.

Rafael langsung menghambur kedalam pelukan ibunya. Ia sangat merindukan ibunya. Walau baru satu hari satu malam berpisah dengan ibunya. Tetap saja ia tak bisa membohongi perasaannya yang sangat merindukan ibunya.

"Rafael, kamu harus kembali ke kerajaan bawah laut." Ucap Amira terlihat sangat serius.

"Kenapa bu? Apa ada masalah?" Tanya Rafael.

"Tidak ada. Tapi, besok pagi Ratu Beryl meminta semua duyung untuk berkumpul. Karna, ia ingin mencari siapa putra Raja Alden." Ucap Amira.

"Heh? Ratu Beryl tau kalau putra Raja Alden masih hidup? Darimana bu?" Tanya Rafael.

"Ibu juga tidak tau nak. Siapa yang memberi tau Ratu Beryl tentangmu. Makanya kamu harus cepat kembali, karna kamu tidak ada saat semua duyung berkumpul, Ratu Beryl akan curiga. Perjalananmu masih panjang. Belum saatnya identitasmu terbongkar." Ucap Amira.

Rafael menganggukkan kepalanya mengerti. "Tapi bu, ada sesuatu yang aneh. Kakiku tadi terkena air dan sama sekali tidak berubah menjadi ekor." 

"Tentu saja. Kakimu akan kembali menjadi ekor jika terkena air laut." Ucap Amira. 

Amira menciduk air laut dengan tangannya lalu menyiramkannya ke kaki Rafael. Dalam sekejap kaki Rafael berubah menjadi ekor. Rafael terkejut melihatnya. Benar, kakinya langsung berubah menjadi ekor saat terkena air laut. Jadi, ia tak perlu khawatir saat terken air biasa di daratan.

"Kita harus cepat kembali. Sebelum ada manusia yang melihat kita." Ucap Amira lalu menceburkan dirinya keair. Disusul Rafael yang juga ikut menceburkan diri kedalam air.

~~¤¤¤¤¤~~

Seluruh rakyat duyung sudah berkumpul. Seperti yang sudah di perintahkan Ratu Beryl. Tak lama setelah itu, Ratu Beryl datang bersama pejabat-pejabat kerajaan dan juga pengawal kerajaan yang siap melindungi Ratu Beryl dari serangan apapun. 

"Ada hal penting yang harus kalian ketahui. Keturunan Raja Afkar, yang artinya adalah keturunan Manusia masih ada yang selamat." Ucap Ratu Beryl membuat seluruh rakyat duyung terkejut.
Para duyung terlihat bingung. Bertanya satu sama lain tentang kebenaran berita itu.

"Artinya, bangsa kita sekarang berada dalam ancaman. Karna ada musuh dalam selimut." Ucap Ratu Beryl. "Jadi, jangan mencoba untuk menyembunyikan orang itu. Kalian, cepatlah mengaku." Ucap Ratu Beryl.

Tak ada satupun yang mengaku. Yang ada, mereka saling menatap satu sama lain. Mencari tau siapa sebenarnya orang yang dikatakan Ratu Beryl. Sungguh, tidak ada yang menduga kalau masih ada keturunan Raja Afkar yang selamat. 

"Tanpa mengurangi rasa hormat, Baginda Ratu. Kalau begini, tidak akan ada yang mau mengaku." Ucap Eraldo.

"Benar ibu. Mana mungkin orang itu mau mengaku." Sahut Agysta.
"Baiklah. Perketat keamanan kerajaan. Perhatikan gerak-gerik duyung yang mencurigakan. Dan jangan ada yang berani mencoba menyembunyikannya. Atau kalian akan aku masukkan kedalam jurang laut." Ucap Ratu Beryl dengan lantang.

Ratu Beryl beralih menatap Rafael. Rafael menelan ludahnya. Apakah Ratu Beryl tau bahwa dirinyalah anak Raja Alden. Amira juga terlihat panik saat Ratu Beryl menatap Rafael.
"Rafael." Panggil Ratu Beryl.

"Saya, Baginda Ratu." Ucap Rafael.

"Mulai sekarang, kamu akan bertugas menjaga permukaan laut. Pastikan tidak ada manusia yang mencoba menghancurkan laut." Perintah Ratu Beryl.

"Tanpa mengurangi rasa hormat Baginda Ratu. Tapi, itu terlalu berbahaya." Ucap Amira.

"Diam kau Amira. Setiap duyung harus mendedikasikan dirinya demi keselamatan seluruh rakyat duyung." Ucap Ratu Beryl.

"Tidak papa bu. Aku akan baik-baik saja." Ucap Rafael.

"Ibu, kenapa harus Rafael? Ganti saja yang lain. Jadikan Rafael pengawal pribadiku." Rengek Agysta.
"Agysta, ini sudah keputusan ibu." Ucap Ratu Beryl.
"Tapi bu, aku ini kan calon Ratu. Jadi aku harus dijaga dengan baik kan. Ayolah bu." Rengek Agysta.
"Diamlah Agysta. Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu di depan para duyung." Ucap Ratu Beryl. "Eraldo, bawa Agysta." 

Eraldo segera melaksanakan perintah Ratu Beryl. Membawa Putri Agysta kembali ke singgasana kerajaan. 

Rafael menghela nafas lega. Ternyata Ratu Beryl hanya memberinya sebuah tugas. Dan tugas itu mempermudah akses dirinya ke dunia Manusia. 

~~♡♡♡♡♡~~

(Namamu) mengetuk-ngetuk pintu kamar Rafael. Tetap tidak ada jawaban. Sudah hampir pukul 07.00, tapi Rafael tak kunjung keluar dari dalam kamar. (Namamu) jadi khawatir, takut terjadi sesuatu pada pria aneh itu. (Namamu) mendorong pintu kamarnya, tak dikunci, syukurlah. (Namamu) membuka pintunya lebar-lebar. Mengarahkan pandangannya ke tempat tidur dan Rafael tidak ada disana. 

"Pa, papa." teriak (namamu).

(Namamu) berjalan dengan cepat menghampiri papanya yang tengah berada diruangan khusus penelitian. "Papa." Panggilnya.

"Ada apa sih (nam)?" Tanya Amran.

"Rafael nggak ada dikamarnya pa." Ucap (namamu) panik.

"Yang bener kamu?" Tanya Amran yang terkejut.

"Iya pa."

Amran bergegas menuju kamar yang ditempati Rafael. Benar saja, Rafael tidak ada disana. Amran beralih ke kamar mandi, mungkin saja Rafael tengah pergi ke kamar mandi, tapi tetap tidak ada. Amran sudah mencarinya ke seluruh bagian rumahnya. Tapi sama sekali tak menemukan Rafael.

"Papa takut terjadi sesuatu dengannya. Dia masih diselimuti rasa trauma kan?" Ucap Amran.
"Itu dia pa. Aku juga sangat khawatir. Ayo kita cari dia pa." Usul (namamu).

<==>
Rafael tak tau harus lewat jalan yang mana. Semalam ia juga kesulitan untuk kembali ke pantai. Karna ia dibawa kerumah (namamu) dengan mobil. Jadi ia tak hapal jalanan yang ia lewati. Ditambah ia pergi tengah malam, jadi ia tak bisa mengingat jalan untuk kembali kerumah (namamu). 

Ia juga sudah mencoba bertanya pada orang-orang, tapi orang-orang malah menanyakan alamatnya padanya. Itu membuatnya semakin bingung.

Tiin... tinn.. tiiiinnn!!!

Suara klakson berkali-kali berbunyi dengan sangat nyaring. Membuat gelendang telinga Rafael seperti akan pecah. Itu karna Rafael yang menyebrang seenaknya. Tidak melalui jalur penyebrangan dan juga asal menyebrang tanpa memperhatikan kendaraan yang sedang lewat.

"Woi, punya mata nggak sih kamu?" Marah seseorang pada Rafael. Karna Rafael malah berhenti ditengah jalan.

Sejujurnya, Rafael tengah bingung saat ini. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Karna suara klakson itu terus berbunyi setiap ia melangkahkan kakinya. Akibatnya, terjadi kemacetan yang sangat panjang. Dan itu hanya karna Rafael.

"Maaf." Ucap Rafael.

"Maaf-maaf. Minggir!" Orang itu sedikit mendorong tubuh Rafael lalu kembali ke mobilnya.
"Woi, minggir!" Teriak orang itu dari dalam mobil saat melihat Rafael masih berdiri ditengah jalan.
Rafael berjalan ke tepian jalan. Ia heran, kenapa orang itu marah-marah. 

Kehidupan di daratan dan juga laut memanglah berbeda. Banyak sekali perbedaan. Masih banyak yang harus ia pelajari tentang kehidupan didaratan.

*¤*

(Namamu) mengedarkan pandangannya di setiap sudut jalanan untuk mencari keberadaan Rafael. Ia terus saja mengomel. Kenapa Rafael pergi tanpa bilang-bilang. Itu membuatnya jadi sangat khawatir. 
(namamu) menepuk lengan papanya. "Pa stop!"

Ia bergegas turun dari mobil begitu mobilnya berhenti. Ia melihat Rafael tengah kebiangungan. Beberapa kali Rafael hampir tertabrak mobil. Ck. Apa anak itu gila? Kenapa menyebrang sembarangan. 
Untung para sopirnya sudah lihai, jadi Rafael masih bisa selamat. Ya, Rafael kembali menyebrang seperti sebelumnya. Ia sama sekali tak tau caranya menyebrang.

(Namamu) berlari dan dengan cepat menyambar tubuh Rafael hingga ia dan Rafael jatuh ditepian jalan. Beruntung motor yang tadi melaju dengan kencang tidak sampai menabrak Rafael. (Namamu) melakukannya tepat waktu. Sedikit saja ia telat, mungkin Rafael sudah tertabrak.

Rafael jatuh menindih (namamu). Matanya menatap gadis cantik yang kini ada dibawahnya. Beberapa detik kemudian Rafael tersadar dan langsung bangkit. Ia juga membantu (namamu) berdiri.

"Aww.." 
(Namamu) membersihkan sikutnya dari debu. Luka gores juga terlihat di sikunya akibat bergesekan dengan aspal. Sedikit mengeluarkan darah dan terasa perih. (Namamu) meniupnya beberapa kali untuk menghilangkan rasa perihnya. 
Ia berhenti meniup saat ia merasakan ada orang lain yang ikut meniup sikunya. Dialihkannya pandangannya ke seseorang yang berada didekatnya. 

Ia terpaku melihat Rafael meniup sikunya dengan lembut. Rasa perih itu perlahan menghilang. Matanya terus saja menatap wajah Rafael. Jantungnya tiba-tiba berdebar tak menentu. Melonjak-lonjak meminta keluar dari dalam tubuhnya. Apa ini? Kenapa dengan dirinya?

Selanjutnya Baca : Give Me Love Part 4

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »