Give Me Love Part (4) Cerpen Fiksi Cinta | ryan Rinaldi

"Kenapa kamu keluar rumah nggak bilang-bilang? Aku khawatir tau. Dan tadi, apa kamu nggak liat banyak kendaraan, kenapa kamu main nyelonong gitu aja. Kalau kamu ketabrak gimana, Rafael? Aku pasti nggak bisa maafin diriku sendiri." 

(Namamu) terus saja mengomel. Terkesan berlebihan memang, mengingat Rafael bukanlah anak kecil lagi. Tapi, ia benar-benar khawatir pada Rafael. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Rafael.

"Kenapa kamu nggak bisa memaafkan dirimu kalau terjadi sesuatu padaku?" Tanya Rafael dengan wajah polosnya.

"Rafael, kamu itu tinggal dirumahku. Itu artinya, kamu tanggung jawabku dan juga papa. Udah pasti kami akan merasa bersalah karna nggak bisa menjagamu dengan baik." Jelas (namamu).
"Itu benar Raf." Sahut Amran yang tengah menyetir.

Senyum Rafael terkembang lebar. "Aku merasa beruntung dipertemukan dengan kalian. Terimakasih banyak." 

"Lagian kenapa sih kamu keluar nggak bilang-bilang? Kalau kamu butuh sesuatu, tinggal bilang aja. Biar aku yang cariin." Ucap (namamu).

"Aku... aku nggak mau terus merepotkanmu. Jadi, aku keluar sendiri." Ucap Rafael.
"Rafael, kamu ngomong apa sih. Kamu sama sekali nggak merepotkan. Justru aku senang saat kamu minta bantuanku. Artinya kamu mempercayaiku sebagai seorang teman." 

Rafael menganggukkan kepalanya. Ia merasa tenang dan nyaman setiap kali berada di dekat (namamu). Walau baru 2 hari ia bertemu dengan (namamu). (Namamu) begitu baik dan perhatian padanya. Ia tidak tau apa jadinya dirinya jika bertemu dengan orang lain.

"Lukamu?" Ujar Rafael menunjuk siku (namamu) yang masih sedikit mengeluarkan darah.
(Namamu) menatap lukanya. "Nggak papa kok. Cuma luka kecil." Ucapnya dengan senyuman. Ia mencondongkan badannya kedepan untuk mengambil kotak p3k. 

Lalu kembali ke posisi duduknya semula. Dibukanya kotak p3k itu. Mengambil alkohol dan menumpahkam sedikit alkohol di atas kapas. Setelahnya (namamu) menggunakannya untuk membersihkan lukanya. Sesekali ia mendesah kesakitan. Terasa perih saat alkohol itu mengenai lukanya.

"Maaf, karnaku kamu terluka." Ucap Rafael.
"Nggak papa Raf." Sahut (namamu) sembari memasangkan plaster ke tangannya sendiri. 

Dering telepon (namamu) terdengar sangat keras. (Namamu) buru-buru memasukan plaster, alkohol, dan juga kapas kedalam kotak p3k dan menutupnya rapat-rapat. Kemudian ia ambil ponselnya dari dalam saku dan memdekatkannya ketelinga setelah sebelumnya menjawab panggilannya terlebih dahulu.

Mata (namamu) terbelalak beberapa detik setelah ia menjawab panggilan itu. "Iya iya. Aku berangkat." Ucap (namamu) panik.

"Kenapa (nam)?" Tanya Amran.
"Aku lupa pa, kalau hari ini suruh ngumpulin tugas. Aaa.. aku udah telat ini." Ucapnya heboh.
"Langsung ke kampus?" Tanya Amran.
"Pulang dulu pa. Tugasnya ada dirumah." Ucap (namamu).
Rafael hanya diam dan memperhatikan (namamu) yang terlihat panik dan sibuk sendiri. 

<==>
Para duyung berlalu-lalang kesana kemari. Mengerjakan pekerjaan masing-masing. Ratusan, bahkan mungkin ribuan duyung dari berbagai macam suku yang berbeda. Memiliki bentuk tubuh, ekor, sirip dan pigment warna yang berbeda-beda. Membuatnya terlihat sangat indah jika dilihat dari kejauhan. Pemandangan bawah laut memang masih sangatlah indah. Tak banyak kerusakan yang terjadi. Karna manusia memang tak dapat menjangkau kedalaman itu. 

Amira diam-diam meninggalkan kerajaan. Ia ingin menuju ke suatu tempat. Ini kesempatannya, karna Ratu Beryl tengah disibukan dengan buku-buku kerajaan yang menuliskan silsilah keluarga Raja Afkar. Untuk mencari tau siapa keturunan Raja Afkar yang masih hidup.

"Bibi Amira." 

Amira berhenti berenang dan berbalik. Melihat siapa orang yang memanggilnya. "Ada apa Eraldo?" Tanya Amira.

"Aku melihat, akhir-akhir bibi gelisah. Apa ada sesuatu?" Tanya Eraldo. "Atau, ada hubungannya dengan berita keturunan Raja Afkar yang masih hidup?" Sambungnya.

Amira menggelengkan kepalanya. "Tidak ada Eraldo. Aku, aku hanya takut terjadi sesuatu pada Rafael. Karna dia menjaga permukaan laut, dimana ia bisa saja tertangkap manusia." 

"Aku mengerti. Kekhawatiran seorang ibu. Dan juga, manusia sangatlah berbahaya. Manusia sudah membuat ibuku meninggal." Ucap Eraldo mengingat cerita ayahnya yang mengatakan bahwa ibunya meninggal saat terjadi peperangan antara Duyung dan juga Manusia. Bom yang digunakan manusia waktu itu daya ledaknya bisa mencapai hingga kedalaman laut dimana para duyung hidup. 

"Itulah kenapa aku sangat mengkhawatirkannya. Jadi, aku akan menemuinya." Ucap Amira.
"Biar aku menemanimu bibi. Untuk memastikanmu baik-baik saja." Ucap Eraldo menawarkan diri.
"Tidak perlu Eraldo. Tinggalah dikerajaan. Aku akan hati-hati." Ucap Amira lalu segera berenang dengan cepat.

Eraldo kembali ke kerajaan. Tangannya selalu membawa senjata yang cukup tajam. Yang dibuat dari batuan karang. Senjata yang bentuknya hampir seperti pedang, dengan bagian tengah sebagai pegangan. Juga kedua ujungnya yang hampir runcing dan sedikit melengkung.

Senjata yang selalu dibawa panglima dan juga pengawal kerajaan. Senjata itu pula yang digunakan saat peperangan antara Duyung dan Manusia.

♡♡☆☆♡♡

Amira berhenti beberapa meter dari jurang laut. Tempat itu terlihat sangatlah gelap. Tarikan air juga sudah terasa dari jarak itu. Amira menatap lekat-lekat permukaan jurang laut itu. Jurang yang sudah membuatnya kehilangan nyawa anaknya. Air mata Amira menetes begitu saja. 

"Maafkan ibu nak. Ibu sudah mengorbankan nyawamu." Lirih Amira.

~Flasback~

Suara dentuman bom terdengar sangat keras. Gelombang air juga menjadi semakin kuat. Beberapa duyung terkulai lemas terkena ledakan itu. Pengawal kerajaan berjuang mati-matian untuk melawan para manusia. Seluruh rakyat duyung, terutama para pria ikut penyerangan itu.

Suara tangis para bayi dan juga anak-anak duyung juga terdengar sangat keras.

"Aku harus ikut berperang." Ucap Raja Alden.
"Tapi, Baginda Raja.."
"Amira, tolong selamat istri dan anakku." Ucap Raja Alden lalu keluar dari tempat persembunyian. Ia berenang dengan cepat menuju permukaan.

"Pengkhianat kau." Ucap salah satu panglima kerajaan yang langsung menebaskan senjatanya ke tubuh Raja Alden.

Darah segar mengalir keluar dari tubuh Raja Alden. Tak ada satupun diantara duyung itu yang berniat menyelamatkan Raja Alden. Atau hanya sekedar membelanya. Semua menyalahkan Raja Alden atas terjadinya peperangan ini. Dan menduga Raja Alden lah dalang dibalik peperangan ini.

"Dengarkan aku, aku sama sekali tidak tau tentang ini." Ucap Raja Alden membela diri.
"Bohong! Kau itu setengah manusia. Sudah pasti ini ada kaitannya denganmu. Atau malah kaulah yang merencanakan peperangan ini." Ucap panglima kerajaan.

Raja Alden segera menghindar saat panglima kerajaan akan menyerangnya lagi. Tidak ada pilihan lain, ia harus pergi dari tempat itu. Raja Alden berenang dengan cepat ditengah peperangan yang terus berlanjut. Juga dengan darah yang masih mengalir.
~~
Amira terkulai lemas sesaat setelah melahirkan anaknya tanpa bantuan siapapun. Ia memangku anaknya yang terlihat sangat tampan, dengan ekor yang sangat indah. 
"Aww.. aww.." pekik Ratu Adoria.

Amira menatap cemas Ratu Adoria. Sepertinya Ratu Adoria juga akan melahirkan. Dengan sisa tenaganya, Amira membantu Ratu Adoria melahirkan. Setelah hampir setengah jam, bayi Ratu Adoria lahir. Seketika terjadi guncangan dilautan, suara tangis bayi Ratu Adoria juga sangat keras. Terdengar ke seluruh penjuru lautan. 

Kapal-kapal manusia yang tengah menyerang para duyung tiba-tiba berbalik. Beberapa duyung juga mati terhempas dan menabrak karang juga bangkai kapal akibat kekuatan gelombang suara tangisan bayi Ratu Adoria yang menimbulkan tsunami.

Ratu Adoria terkulai lemas, ia kehabisan tenaga setelah melahirkan putra pertamanya. "Amira, tolong selamatkan anakku. Aku mohon padamu." Lirih Ratu Adoria. "Biarkan dia tetap hidup." Sambungnya.

"Dimana bayi itu? Bayi itu sudah membuat bencana, karna darah manusia yang mengalir dalam tubuhnya." Ucap Beryl yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri kerajaan.

Amira yang mendengarnya panik. Apa yang harus ia lakukan, rakyat duyung sedang mencari putra mahkota kerajaan. Amira menatap Ratu Adoria yang terlihat tak berdaya. Detik berikutnya ia memandang bayi Ratu Adoria yang sangat lucu. 

Sisik pada ekornya bersinar. Amira memeluk erat anaknya, jika ia tidak cepat bertindak, maka, putra mahkota kerajaan akan ditangkap oleh para dewan kerajaan dan juga rakyat duyung.

Tanpa pikir panjang, Amira menukar anaknya dengan anak Ratu Adoria. Setelahnya, ia keluar dari tempat persembunyian. Tentu dari sisi lain, dimana para duyung yang tengah mencari keberadaan putra mahkota kerajaan berada.

"Ini dia Ratu Adoria dan bayinya." Ucap Algis menemukan Ratu Adoria ditempat persembunyiannya.
Para duyung berbondong-bondong mendekat ke tempat persembunyian Ratu Adoria. Bayi yang ada didekat Ratu Adoria langsung diambil. Sumpah serapah di lontarkan untuk bayi itu. 

"Kita bunuh saja bayi ini. Atau, dia juga akan berkhianat seperti Raja Alden." Ucap Algis yang disetujui para duyung.

"Jangan, aku mohon jangan. Dia tidak tau apapun. Jangan sakiti anakku." Ucap Ratu Adoria yang tak kuat untuk bangkit. Tenaganya benar-benar habis setelah melahirkan.

"Pengawal, bawa bayi itu ke jurang laut." Perintah Perdana Menteri Algis.
"Jangan! Jangan!" Teraik Ratu Adoria yang tak di gubris para duyung.
**¤¤**
Para Duyung berkumpul disekitar jurang laut. Tentu dalam jarak aman. Mereka akan menyaksikan peristiwa besar, lenyapnya putra mahkota kerajaan. Para pengawal juga bersiap melemparkan putra mahkota kerajaan ke jurang laut.

Diam-diam Amira mengintip dari kejauhan. Air matanya terus mengalir, rasa takut menguasai dirinya. Tangannya yang menggendong putra mahkota sesungguhnya bergetar hebat. Ia akan menyaksikan kematian anaknya dengan mata kepalanya sendiri. 

Ia tak bisa berbuat apapun sebagai seorang ibu. Ia tau perbuatannya itu salah. Tapi, itu semua demi menyelamatkan kerajaan bawah laut dari tangan Beryl yang sebentar lagi akan diangkat menjadi Ratu kerajaan bawah laut.

"Maafkan ibu nak." Lirih Amira.

Amira segera meninggalkan tempat itu. Ia akan sembunyi untuk beberapa waktu, hingga ia rasa sudah tepat untuk kembali ke kerajaan. Ia membenarkan rumput laut pada ekor putra mahkota kerajaan. Ia sengaja memyelimuti ekor putra mahkota dengan rumput laut supaya sinar pada ekornya tak terlihat.

~Flashback off~

Amira mendengar suara berbincang-bincang. Sepertinya itu pengawal kerajaan yang akan memeriksa kawasan jurang laut. Ia harus segera pergi dari tempat itu. Atau pengawal itu bisa curiga padanya. Amira berenang dengan cepat. Kibasan ekornya terlihat sangat indah.

~~☆☆☆☆☆~~

"Rafael, Om pergi dulu. Ingat ya, jangan keluar rumah. Kalau butuh apa-apa tunggu om atau (namamu) pulang." Ucap Amran mewanti-wanti Rafael. Ia takut kejadian seperti tadi terulang.
"Iya om." Jawab Rafael yang kini tengah memperhatikan hewan-hewan laut yang ada didalam aquarium.

Amran meraih tasnya dan berjalan keluar rumah. Hari ini ia akan pergi ketempat kantornya bekerja. Akan ada sesuatu yang dibahas oleh rekan-rekan kerjanya. 

Rafael mendekat ke aquarium itu, menatap penyu yang ada didalamnya dengan jarak yang dekat. Senyumnya terkembang saat melihat penyu itu bergerak dengan lincahnya. Sangat lucu sekali. Ia jadi ingin ikut berenang seperti penyu itu. Tapi, aquarium itu tidak akan cukup untuknya. Bahkan hanya untuk kakinya pun tidak akan muat.

Rafael memasukkan tangannya kedalam aquarium dan mengambil penyu itu. Tetesan air dari tangannya mengenai kakinya. Dan tak butuh waktu lama kakinya langsung berubah jadi ekor. Rafael terkejut akan hal itu. Penyu ditangannya juga sampai jatuh.
.
Selanjutnya Baca : Give Me Love Part 5

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »