Give Me Love Part (5) Cerpen Cinta Fiksi | Ryan Rinaldi


Sudah (namamu) duga, dosennya akan mengomelinya panjang kali lebar kali tinggi, dan ini bukan pertama kalinya. Dosennya itu memang senang sekali marah-marah. Atau mungkin bisa dibilang bahwa hobinya memang marah-marah.

Setelah hampir setengah jam berada diruangan dosen, akhirnya (namamu) keluar juga. Tugasnya diterima walau sebelumnya diomeli terlebih dahulu. 

Mungkin kalau tadi ia tidak mencari Rafael terlebih dahulu, ia tidak akan telat. Tapi, ia sama sekali tak menyalahkan Rafael. Baginya, keselamatan Rafael lebih penting.

"(Nam), kamu niat banget sih berangkat siang." Ucap gadis seumuran (namamu) yang kini berjalan didekat (namamu).

"Aku harus nyari Rafael dulu tadi. Makanya aku kesiangan." Ujar (namamu).
"Rafael?" Ucap gadis disamping (namamu) dengan tatapan bingung. 

(Namamu) menganggukkan dengan anggukan kepala. "Cowok cakep yang aku temuin di pantai." Ucap (namamu).

"Heh? Temuin? Kamu pikir dia barang apa." Ucap Anya.

"Seriusan. Jadi kemarin lusa aku liat dia di pantai tanpa baju. Cuma kain gitu dipinggangnya. Dan dia sama sekali nggak bisa jalan. Karna kasian, aku bawa pulang deh." Ucap (namamu) menceritakan kronologis kejadiannya pada Anya.

"Ati-ati loh (nam), siapa tau dia punya motif jahat." Ucap Anya mengingatkan.
(Namamu) menggelengkan kepalanya. "Dia orang yang baik kok." ucap (namamu) tak menyetujui perkataan Anya. Yah, karna Rafael memang orang yang baik. Wajah polosnya itu, sangat tidak mungkin jika memiliki motif jahat.

"Hei,"

Sebuah sapaan ringan itu membuat (namamu) dan juga Anya menoleh ke sisi kiri. Melihat siapa orang yang melontarkan sapaan itu.

(Namamu) mengembangkan senyumnya setelah melihat siapa orangnya. Pandangannya kembali menatap ke depan dengan kaki yang terus melangkah. Langkahnya tak begitu lebar dan terkesan santai.

"(Nam), sepulang dari kampus kerumah yuk. Mama buat kue yang enak banget." seseorang yang menyapa tadi membuka suara.

"Kayaknya nggak bisa deh Vin. Aku mau ke mall." Tolak (namamu).

"Ya kita ke mall dulu nggak papa. Kamu ditanyain mama tau." Ucap Cowok yang bernama Gavin itu.

"Sampaiin aja salam ke mama. Aku beneran nggak bisa. Maaf ya." Ucap (namamu) mengatupkan kedua tangannya. "Aku duluan ya. Bye." (Namamu) berjalan sembari melambaikan tangannya. Ia terlihat sangat terburu-buru.

Gavin beralih menatap Anya, tatapan penuh tanda tanya. "Dia kenapa sih?" Tanyanya.
Anya mengedikkan bahunya. Tanda ia tak tau apa-apa. Ya memang, ia tak tau apa-apa. Yang ia tau hanya soal Rafael yang baru saja (namamu) ceritakan.

~~☆☆☆☆☆~~

Rafael buru-buru mengambil batu karang dan menggosokkannya ke ekornya. Sebelum ada orang yang melihatnya. Dalam sekejap ekornya kembali berubah jadi kaki.

"Jadi kamu duyung?" 

Rafael mengarahkan pandangannya ke penyu yang tadi ia pegang. Benar, penyu itu yang bicara padanya. Tangannya terulur dan meraih penyu itu. Lalu ia masukan kembali penyu itu kedalam aquarium.

"Iya. Aku duyung. Jadi, ini air laut?" Tanya Rafael pada penyu itu.
"Iya. Ini air laut." Jawab penyu itu. "Tapi, bagaimana kamu bisa ada disini dan punya kaki?" Tanyanya.

"Ceritanya panjang." Jawab Rafael.

Pandangannya terarah ke pintu utama saat mendengar suara ketukan. Rafael yang sedari tadi berjongkok kini bangkit dan berjalan menuju pintu utama untuk membukakan pintu. 

"Hai." Ucap (namamu) begitu Rafael membukakan pintu untuknya. Ia masuk begitu saja. "Papa kemana? Kok sepi?" Tanyanya.

"Katanya ada keperluan." Jawab Rafael.

"Ya udah, kita langsung ke mall sekarang." Ucap (namamu). 
"Sekarang?" Tanya Rafael.

(Namamu) mengangguk. Tanpa basa-basi dan pikir panjang, (namamu) langsung menggenggam tangan Rafael dan membawanya keluar rumah. Berhubung mobilnya dibawa papanya, jadi akan menggunakan jasa taksi. 

Rafael hanya mengikuti saja apa yang (namamu) katakan. 
"Ini juga mobil?" Tanya Rafael saat melihat sebuah taksi berhenti dihadapannya. Bentuknya berbeda dengan milik papa (namamu).

"Iya. Mobil itu punya bentuk. Salah satunya ini." Ucap (namamu) lalu berjalan ke sisi kanan taksi, membuka pintunya dan masuk kedalam.

Rafael menyentuh pintunya. Ia tak tau bagaimana cara membukanya. Rafael sedikit memukulnya, siapa tau mau terbuka. Tapi, tetap saja tidak terbuka walau hanya sedikit. Rafael memandanginya dengan seksama. 

Detik berikutnya ia terperanjat sampai ia jatuh kebelakang saat melihat pintu mobil itu tiba-tiba terbuka sendiri. Wajahnya sangat shock.

(Namamu) tertawa melihat tingkah Rafael. Dialah yang membuka pintunya dari dalam. Rafael benar-benar orang yang sangat aneh. Bahkan membuka pintu mobil pun ia tidak bisa. Ia jadi penasaran, dari negara mana orang itu berasal.

"Ayo masuk!" Ucap (namamu).

Rafael dengan ragu masuk kedalam mobil. Matanya terus menatap pintu mobil, takut sewaktu-waktu pintu itu akan bergerak dan menjepit tubuhnya. Begitu sudah masuk kedalam mobil, (namamu) langsung menarik pintunya hingga tertutup rapat. Dan Rafael malah bergidik ngeri. Menurutnya, peralatan di daratan mengerikan.

"Kamu tuh lucu banget tau nggak sih." Ucap (namamu) diiringi tawa. Terlihat, sopir taksinya juga tertawa melihat sikap Rafael yang kocak.

~~♡♡♡♡♡~~

"Bagaimana Rilo? Apa ada data keturunan Raja Afkar yang lain?" Tanya Ratu Beryl.
"Ampun Baginda Ratu. Aku tidak menemukan apapun. Dibuku itu tertulis hanya Alden lah satu-satunya keturunan Raja Afkar. Tidak ada yang lain. Tidak ada pula duyung yang menikah dengan manusia selain Raja Afkar." Jelas Rilo.

Genggaman tangan Ratu Beryl pada tongkatnya semakin kuat. Siapa sebenarnya orang yang Adoria maksud. Sudah tidak ada lagi keturunan Raja Afkar. "Atau jangan-jangan Putra Alden masih hidup?" Ucap Ratu Beryl menerka-nerka.

"Mana mungkin, bukankah kita semua sudah menyaksikan putra Alden dimasukkan ke jurang laut. Mana mungkin bisa selamat. Apalagi dia masih bayi." Sahut salah satu perdana menteri.

"Tanpa mengurangi rasa hormat. Kalau boleh tau, siapa yang mengatakan bahwa putra Raja Alden masih hidup?" Tanya Amira memberanikan diri.

Ratu Beryl tidak menjawabnya. Ia tidak mau orang lain tau kalau Ratu Adoria masih hidup dan ia sembunyikan. Hanya ia dan Algis yang tau. Tunggu, kenapa ia tak menggunakan Ratu Adoria sebagai pancingan supaya orang yang dimaksud Adoria itu muncul. Tapi, kebohongannya tentang Ratu Adoria yang sudah mati bisa terbongkar. Ia harus memikirkan cara supaya kebohongannya itu tidak terbongkar. 

"Siapa Baginda Ratu?" Tanya Rilo menimpali.

"Aku pikir kalian tidak perlu tau. Yang jelas, cepat temukan keturunan Raja Afkar itu. Sebelum terjadi bencana besar lagi." Perinyah Ratu Beryl.

~~☆☆☆☆☆~~

Rafael mengarahkan pandangannya kesana kemari. Melihat-lihat suasana mall yang sangat ramai. Ada banyak hiasan yang memunculkan cahaya. Dentuman musik juga terus terdengar menggema disetiap ruangan. 

Di laut, tak pernah ada tempat yang seperti ini. Cahaya lampu pun tak ada. Hanya cahaya matahari juga sedikit cahaya bulan yang sampai kedasar laut. Banyak barang-barang yang lucu-lucu dan unik-unik.

(Namamu) menatap Rafael yang terlihat sangat kagum melihat isi mall. Sungguh, Rafael seperti orang desa yang baru masuk ke kota. Sangat norak. Tapi, tingkah Rafael yang seperti itu sangat ia suka. Selalu bisa membuatnya tertawa dan moodnya yang tadinya buruk bisa kembali membaik.

"Ayo kita ke atas. Diatas banyak baju bagus." Ucap (namamu). Tangannya tetap menggenggam tangan Rafael. Supaya Rafael tidak jauh-jauh darinya. Seharusnya, Rafael lah yang menggenggam tangannya. Tapi, kondisi kali ini berbeda.

Rafael berhenti seketika saat melihat sesuatu berjalan dihadapannya. Ia takut, ia tak mau naik keatas situ. Dengan sekuat tenaga ia menahan tubuhnya, sehingga (namamu) tak kuat menariknya. Berulang kali ia menggeleng saat (namamu) mengajaknya naik. Ia tidak berani, kalau sampai itu melukainya atau bahkan (namamu) bagaimana? 

"Ayo Raf! Ini nggak papa kok. Liat deh, orang-orang nggak papa tu." Ucap (namamu) menunjuk orang-orang yang naik Eskalator. 

"Tapi..." Rafael menatap (namamu) takut.

"Percaya sama aku." Ucap (namamu) menatap dalam mata Rafael.

Akhirnya Rafael mau naik eskalator. Walau ia terlihat sangat ketakutan. Terlihat dari tubuhnya yang sangat kaku. Matanya juga tetap terpejam. (Namamu) tak biaa menahan tawanya. Rafael benar-benar lucu dan menggemaskan.

"Loncat!" Seru (namamu).
Rafael lompat dan ia tak lagi merasa dirinya berjalan. Ia membuka matanya dan melihat kebawah, syukurlah, ia tak berada diatas alat aneh itu lagi. Rafael menghela nafas lega. Ditatapnya (namamu), tangannya juga meraih tangan (namamu) dan menempelkan tangan (namamu) di dadanya. 

Ia ingin (namamu) merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang. Tapi, keduanya malah saling terdiam dengan mata yang menatap satu sama lain. Detak jantung Rafael semakin menjadi. Rafael yang sadar akan hal itu langsung menjauhkan tangan (namamu) dari dadanya.

(Namamu) juga jadi sedikit canggung. Entah, kenapa tiba-tiba ia merasa seperti itu. "Kamu... sangat takut ya." Ucap (namamu).

"M...maaf. aku belum terbiasa." Ucap Rafael.

"Nggak papa kok. Kita cari bajunya yuk." Ucap (namamu) kembali meraih tangan Rafael.
Rafael menatap tangannya yang digenggam (namamu). Sungguh, hanya didaratan tangannya sering disentuh oleh lawan jenis. Selama dilautan, hampir tak pernah ada lawan jenis yang menyentuh tangannya kecuali ibunya.

~~♡♡♡♡♡~~

"Ibu, aku takut bu. Aku tidak mau jadi Ratu." Rengek Agysta.

Dari awal, ia memang tak ingin jadi Ratu. Tapi ibunya, Ratu Beryl, terus memaksanya untuk jadi Ratu dan merubah sikap manjanya. Itu semua karna ibunya tak mau tahta kerajaan orang lain. Ibunya ingin, keturunan ibunya lah yang akan terus menjadi penguasa kerajaan laut. 

Tidak ada yang boleh keturunan duyung lain menjadi penguasa kerajaan laut. Itulah alasan ibunya membuat siasat dan berhasil menyingkirkan Raja Alden dari kursi tahta kerajaan. Kondisi Raja Alden yang merupakan setengah manusia dan duyung membuat Ratu Beryl semakin mudah untuk menyingkirkan Raja Alden kala itu.

"Apa yang kamu biacarakan. Kamu itu calon Ratu. Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu." Marah Ratu Beryl pada putri kesayangannya itu.

"Tapi keturunan Raja Afkar masih hidup. Dia pasti akan merebut lagi tahta kerajaan bu. Aku takut." Ucap Agysta.

"Tidak! Tidak akan pernah aku biarkan. Kamu tidak perlu khawatir Agysta. Karna, ibu akan pastikan kamulah penerus ibu kelak." Ucap Ratu Beryl meyakinkan anaknya.

"Kalau begitu, nikahkan aku dengan Rafael. Dengan begitu, dia pasti akan menjagaku. Dan akan melindungi tahta kerajaan." Ucap Agysta membuat ibunya terkejut.

Ratu Beryl menatap anaknya lekat-lekat. "Tidak secepat itu Agysta. Ibu juga akan mencarikan jodoh yang pas untukmu." Ucap Ratu Beryl.

"Ibu, Rafael itu baik kan? Statusnya juga jelas, anak seorang dewan kerajaan, bukan dari kalangan duyung pelayan. Ayolah bu. Ibu mau lihat aku bahagia kan?" Rengek Agysta.

Ratu Beryl hanya diam. Anaknya sangat ingin menikah dengan Rafael. Memang benar, status Rafael sangat jelas. Tapi, ia belum mengenal baik Rafael. Berbeda dengan ia yang sudah sangat mengenal baik Eraldo. 

"Tuan putri, apa kamu begitu mencintai Rafael?" Tanya Algis.

"Aku sangat mencintainya. Dia sangat tampan, gagah. Ah, aku benar-benar tergila-gila padanya." Jawab Agysta sambil membayangkan sosok yang ia idamkan.

"Boleh ya bu?" Pinta Agysta.

"Akan ibu pikirkan." Ucap Ratu Beryl. 
Ratu Beryl beralih menatap Algis. "Ikut aku ke permukaan laut, aku ingin melihat kerja Rafael." Ucap Ratu Agysta.

"Baik Ratu." Jawab Algis yang langsung mengikuti Ratu Beryl.
.
Selanjutnya Baca : Give Me Love Part 6

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »