Give Me Love Part (6) Cerpen Fiksi Cinta | Ryan Rinaldi

Rafael hanya diam saat (namamu) menempelkan baju ke badannya. Mencocokan baju itu dengan badannya. Rafael sama sekali tak mengerti fashion di dunia manusia. Bukan hanya itu, ia memang tak tau segala hal di dunia manusia. Ini pertama kalinya ia berada di dunia manusia. 

Mungkin, jika ayahnya masih hidup, ia akan mendengar banyak cerita tentang dunia Manusia dari ayahnya. 

"Kamu suka yang mana?" Tanya (namamu) menunjukan dua baju yang sama, tapi memiliki warna yang berbeda. Yang satu merah dipadukan dengan hitam dan yang satunya biru dipadukan dengan hitam.

Rafael menunjuk baju yang ada ditangan kiri (namamu). Baju yang memiliki warna biru dipadukan dengan hitam. Itu membuatnya teringat akan laut. 

Setelah banyak memilih baju dan juga celana untuk Rafael, (namamu) beralih ke kasir untuk menghitung jumlah uang yang harus dibayarkan. (Namamu) mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar semuanya. 

"Terimakasih." Ucap (namamu) lalu membawa tas-tas belanjaan itu.

Tanpa diminta, Rafael mengambil alih tas tas belanja itu. Ia sudah banyak merepotkan (namamu). Jadi, ia harus membantu (namamu). Dan, membiarkan seorang gadis membawa barang sebanyak itu tidaklah baik. Walau mungkin tidak berat, tapi sebagai seorang laki-laki tetap harus mengerti akan hal itu.

☆☆¤¤☆☆

(Namamu) melihat-lihat ponsel yang ada di etalase toko. Ia memilih yang paling bagus. Ia akan memberikannya pada Rafael. Supaya Rafael bisa dengan mudah menghubunginya jika membutuhkan sesuatu. Dan kalau sewaktu-waktu Rafael hilang, ia juga bisa dengan mudah menghubungi Rafael dan langsung menuju ketempat dimana Rafael berada.

"Ini." (Namamu) memberikan ponsel yang baru saja ia beli pada (namamu).

"Apa ini?" Tanya Rafael.

"Hp." Jawab (namamu).

"Hp?" Tanya Rafael. (Namamu) menjawabnya dengan anggukan kepala. "Untuk apa?" Tanya Rafael lagi.

"Untuk berkomunikasi." Jawab (namamu).

"Tapi, biasanya aku berkomunikasi dengan suara." Ucap Rafael dengan polosnya.

(Namamu) tertawa mendengarnya. Tentu saja, semua orang juga berkomunikasi dengan suara. "Iya, tapi hp ini membantu kita buat berkomunikasi dengan seseorang yang jaraknya jauh." Jelas (namamu).

"Aku tetap pakai suara. Kamu tau, air akan menyampaikan gelombang suara kita dengan jarak yang jauh sekalipun." Ucap Rafael.

(Namamu) terpaku mendengar jawaban Rafael. Itu memang benar. Tapi, bagaimana mungkin orang seperti Rafael yang terlihat seperti orang bodoh bisa tau tentang hal itu. Sangat mengherankan. "Kamu pikir kita duyung yang hidupnya di air?" Ucap (namamu) disertai tawa.

"Kalau orangnya ada diluar mall. Mau kamu teriak sekencang apapun, nggak akan sampai suaramu." Ucap (namamu) lagi.

Rafael tak menjawab lagi. Hampir saja ia kelepasan.

~~☆☆☆☆☆~~

(Namamu) berjalan dengan wajah penuh senyuman. Sudah lama ia tak berkunjung ke taman. Terakhir bulan lalu, ia datang bersama dengan Gavin. Gavin adalah anak teman baik papanya. Ia juga sudah mengenal Gavin sejak SMP. 

Banyak yang mengatakan kalau dirinya dijodohkan dengan Gavin. Tapi, papanya tak pernah mengatakan hal itu padanya. Artinya itu tidak benar. Gavin juga tak pernah mengungkit hal itu.

(Namamu) mendudukan diri diatas ayunan. Ia juga meminta Rafael untuk naik ke atas ayunan. Rafael menurutinya. Kini, ia dan Rafael duduk saling berhadapan diatas ayunan. (Namamu) kembali dibuat tertawa saat tiba-tiba Rafael dibuat terkejut karna ayunannya bergerak. 

Sungguh ia tak mengerti dengan Rafael. Apa mungkin Rafael datang dari planet lain? Tapi, mana ada alien setampan itu.

"Heee??" Ucap Rafael membuat (namamu) terkejut.

"Kenapa?" Tanya (namamu).

"Ikan terbang!" Rafael menunjuk ke langit.

Seketika tawa (namamu) pecah. Rafael sangatlah lucu sekali. Wajahnya itu, saat melihat pesawat seperti orang bodoh. Sangat menggemaskan. 

"Kenapa kamu malah ketawa?" Tanya Rafael.

(Namamu) menggelengkan kepalanya. Sebisa mungkin ia mencoba berhenti tertawa. "Itu namanya pesawat." Ucap (namamu).

"Ah jadi itu pesawat. Apa yang dia makan?" Tanya Rafael lagi.

"Rafael, pesawat itu bukan makhluk hidup. Pesawat itu kendaraan, seperti mobil, tapi dia terbang." Jelas (namamu).

"Ah begitu. Aku pikir dia hewan." Ucap Rafael masih dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.

"Aku penasaran deh, di daerah asalmu emang nggak ada pesawat?" Tanya (namamu).
Rafael menggelengkan kepalanya. "Di tempat asalku, yang aku lihat hanya perahu, kapal, hanya itu." Jawab Rafael.

"Ah, berarti kamu tinggal di sekitar laut." Sahut (namamu).
Rafael mengiyakan perkataan (namamu). Bukan hanya disekitar laut. Tapi hidupnya memanglah dilaut. Dikedalaman laut yang tak bisa dijangkau manusia. Diam-diam Rafael menatap (namamu) yang tengah asik melihat-lihat pemandangan di taman.

"Rafael, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya (namamu) lalu mengarahkan pandangannya ke Rafael.

"Boleh." 

"Dari negara mana atau pulau mana kamu berasal?" Tanya (namamu).

Rafael terpaku mendengar pertanyaan (namamu). Harus menjawab apa dirinya? Ia sama sekali tak tau nama-nama tempat didaratan. Ia saja tidak tau dikota mana dirinya saat ini berada. 

"Apa pertanyaanku salah?" Tanya (namamu).

Rafael buru-buru menggelengkan kepalanya. "Aku diam karna aku coba mengingat dari mana aku berasal. Tapi, aku sama sekali nggak bisa mengingatnya. Bahkan, seperti apa tempat tinggalku dulu, aku lupa." Ucap Rafael.

(Namamu) menganggukkan kepalanya mengerti. Mungkin benturan atau rasa trauma oada diri Rafael membuat Rafael mengalami semi amnesia. Dimana ia melupakan sebagian kenangan hidupnya. (Namamu) mengerti itu.

"Aku sempat berpikir kamu berasal dari afrika, karna kamu yang memang tidak tau banyak hal. Tapi, mana ada orang afrika seputih kamu." Ucap (namamu).

"Tapi itu tidak penting. Kalau kamu mau, kamu bisa sampai kapanpun tinggal dirumahku." Ucap (namamu) dengan senyuman lebar.

"Terimakasih." Ucap Rafael sedikit menundukan kepalanya.
"Pangeran bodoh!" Ucap (namamu) membuat Rafael kembali mendongakan kepalanya dan menatap (namamu).

"Aku pikir itu julukan yang bagus untukmu." Ucap (namamu) dengan bangga. "Kamu tau, tampangmu benar-benar seperti seorang pangeran. Tapi, pengetahuan dan juga tingkahmu berbanding terbalik dengan wajahmu. 

Seperti orang bodoh. Jadi, kamu adalah pangeran bodoh." Jelas (namamu).
Rafael hanya tersenyum mendengar apa yang (namamu) katakan. Seandainya (namamu) tau kalau dirinya memanglah seorang pangeran. Pangeran duyung.

~~☆☆☆☆☆~~

Ratu Beryl bersama dengan Algis dan juga beberapa pengawal kerajaan berenang menuju ke permukaan laut. Ia ingin melihat kinerja Rafael. Ia juga ingin mengenal anak dewan kerajaan itu lebih dekat. Yang sangat didambakan dan di inginkan putri kesayangannya. 

"Eraldo, mau kemana Ratu Beryl?" Tanya Amira yang melihat Ratu Beryl pergi meninggalkan singgasananya.

"Katanya, mau ke permukaan laut. Mau menemui Rafael." Ucap Eraldo.
"Menemui Rafael? Untuk apa?" Tanya Amira panik.
"Aku juga tidak tau bibi." Jawab Eraldo.

Amira jadi takut, kalau sampai Ratu Beryl tidak menemukan Rafael di permukaan laut. Atau malah mungkin Ratu Beryl melihat Rafael ada di sekitar pantai dengan kaki, maka semua hal yang ia sembunyikan akan terbongkar. Ia harus mencegah Ratu Beryl, tapi bagaimana caranya.

"Bibi, ada apa?" Tanya Eraldo.
"Eh, tidak ada apa-apa Eraldo." Jawab Amira masih dengan wajah panik. Ia harap Rafael merasakannya dan segera kembali kelaut. 

**♡**

Ratu Beryl tiba-tiba berhenti berenang. Ia melihat manusia tengah menyelam dan mengambil beberapa gambar ikan. Gawat kalau sampai manusia itu tau keberadaanya.

"Manusia? Bagaimana ini Baginda Ratu?" Tanya Algis.

"Kita harus kembali. Kalau tidak, keselamatan kita akan terancam." Ucap Ratu Beryl. "Ayo cepat!"
Ratu Beryl berbalik dan dengan cepat meninggalkan tempat itu. Ia melupakan niatnya untuk menemui Rafael. Keselamatannya lebih penting dibanding bertemu dengan Rafael.

~~☆☆☆☆☆~~

Rafael berada dirumah seorang diri. Amran sudah pergi sejak pagi buta, karna kabarnya ada suatu berita yang sangat mengejutkan. Sedangkan (namamu) sudah berangkat ke kampus sejak dua jam yang lalu. Hanya penyu dan beberapa ikan dalam aquarium yang menemaninya mengobrol. 

"Aku pikir, aku harus mencari kerja. Nggak mungkin kan aku terus bergantung sama Om Amran." Ucap Rafael pada penyu yang berada didasar aquarium itu.

"Tapi, kamu mau kerja apa Rafael?" Tanya penyu itu.

"Entahlah, aku juga nggak tau. Tapi, aku akan coba melakukan apapun. Asalkan itu bisa menghasilkan uang." Ucap Rafael. 

"Tapi kamu harus hati-hati. Karna banyak orang jahat di daratan." Ucap penyu.
Rafael menganggukan kepalanya dan tersenyum. "Iya. Aku akan sangat berhati-hati." 

Rafael mengambil makanan penyu yang berada tak jauh dari aquarium dan menjatuhkannya didalam air. Dengan cepat penyu itu menyambar makanan yang di berikan Rafael.

¤¤♡♡¤¤

Rafael menyeka keringatnya. Sudah hampir dua jam ia berkeliling untuk mencari pekerjaan. Tapi, ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Satu hal yang membuatnya bingung, ia selalu ditanya ijazah. Apa itu ijazah? Ia sama sekali tak tau. Sepenting itukah benda itu? Yang penting kan kemauan dan juga kemampuan bekerja. 

Rafael beristirahat sejenak, meneguk minuman untuk membasahi tenggorokannya yang sudah kering. Badannya juga terasa panas karna terus terpapar matahari. 

Rafael masuk ke sebuah restoran. Ia tak tau tempat apa itu, yang ia tau tempat itu sangatlah ramai. Lokasinya juga tak jauh dari pantai. Ia melihat beberapa orang dengan pakaian yang sama tengah berjalan kesana kemari dengan membawa sesuatu ditangan masing-masing.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang gadis dengan nama yang tertulis di seragam kerjanya, Fany. "Disana banyak bangku yang kosong." Sambungnya.

"Ee.. apa aku bisa dapat pekerjaan disini?" Tanya Rafael.

"Eh? Coba tanya pemilik perusahaan ini. Itu orangnya." Ucap Fany menunjuk bosnya yang masih mengobrol dengan rekan kerjanya di meja kasir.

"Ah baik." Ucap Rafael lalu berjalan menghampiri orang yang dimaksud gadis tadi.
"Permisi." Ucap Rafael hati-hati. 
Pemilik restoran itu dan juga seseorang yang ada di kasir mengarahkan pandangannya ke Rafael.

"Ada apa?" Tanya pria paruh baya dihadapan Rafael.

"Apa aku bisa bekerja disini?" Tanya Rafael.

"Bisa liat ijazahmu?" Tanya pria itu.

"Maaf, tapi aku nggak punya ijazah." Jawab Rafael.

"Heh?" kaget pria paruh baya itu.

"Saya mohon, saya akan melakukan apapun, asalkan saya bisa bekerja disini." Ucap Rafael memohon.

"Uta." Panggil pria paruh baya itu.

"Iya pak." Jawab cowok manis yang berada di meja kasir.

"Cek, apa ada slot kosong di OB." perintah pria paruh baya itu.

"Sebentar." Ucap cowok manis yang dipanggil Uta itu.

Uta mengambil data karyawan. Membacanya dengan seksama. Dalam waktu kurang dari satu menit, Uta sudah selesai mengeceknya. "Ada 2 slot kosong pak." Ucap Uta.

"Baik, kamu saya terima sebagai OB." Ucap pemilik restoran.

"OB?" Rafael mengernyitkan dahinya.

"Iya. Kenapa? Kamu pikir, tanpa ijazah kamu minta posisi apa?" Tanya pria itu.
"Maaf. Maksudku, apa itu OB? Aku tidak tau." Ucap Rafael.

Pria paruh baya itu tampak heran. Cowok dengan tampilan semodern ini tidak tau apa itu OB? Ck.. "Kerjamu adalah bersih." Jelasnya.

"Ah baik. Terimakasih pak." Ucap Rafael tersenyum senang.

"Uta, bilang ke kepala karyawan untuk memberinya seragam." Ucap pria itu lalu berlalu pergi.
"Baik pak." Jawab Uta.

'Seorang penyelam tanpa sengaja menangkap sosok duyung. Bukan hanya satu, ada sekitar 4 sampai 5 duyung yang ia lihat. Dan ia juga sempat mengambil gambar duyung itu meski dari jauh.'

Mata Rafael membulat sempurna saat mendengar berita yang muncul di tv restoran itu. Apalagi saat gambar duyung yang dimaksud dimunculkan dilayar. Meski tak begitu jelas, ia tau itu siapa. Itu adalah Ratu Beryl, Algis dan juga beberapa pengawal kerajaan.
.
Selanjutnya Baca : Give Me Love part 7

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »