Give Me Love Part (7) Cerpen Fiksi CInta | ryan Rinaldi

Rafael mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Orang-orang yang ada ditempat itu jadi heboh dengan adanya berita itu. Beberapa ada yang mengungkit peperangan antara duyung dan manusia yang terjadi sekitar 20 tahun yang lalu. Sepertinya ia harus segera pergi dari tempat ini. 

Kalau orang-orang tau dirinya adalah duyung, ia bisa di amuk masa. Tapi, kalau ia pergi dari tempat ini, ia tidak akan bekerja disini. Dan sulit untuknya mendapat pekerjaan lain. Ia harap tak terjadi sesuatu padanya, terutama kakinya.

¤¤♡¤¤

Beruntung Rafael tidak berubah menjadi duyung saat terkena air biasa. Mungkin ia akan kesulitan mengepel kalau sampai kakinya berubah menjadi ekor. Rafael beralih mengelap meja-meja yang sudah kosong. Semua meja di restoran memang sudah kosong. Karna restoran memang sudah tutup sejak 15 menit yang lalu. 

"Hei."

Rafael berhenti mengelap meja dan mengarahkan pandangannya ke belakang. Melihat seseorang yang memanggilnya. Gadis yang pertama kali ia temui saat masuk ke restoran ini.

"Hpmu dari tadi bunyi." Ucap Fany memberikan ponsel Rafael. "Pacarmu mungkin." Sambung Fany.
Rafael hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia meraih ponselnya, memandanginya sejenak, mengingat-ingat tombol mana yang harus ditekan. Tak butuh waktu lama, Rafael langsung menarik tombol hijau pada layar lalu mendekatkannya ke telinganya.
"........"
"Maaf, aku lupa mengabarimu. Aku kerja sekarang, sebentar lagi aku pulang." Ucap Rafael.
"........."
"Ah nggak usah. Aku ingat jalan pulang kok." Ucap Rafael lagi.
"........"
"Iya. Baik." Rafael menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu memasukkannya kedalam sakunya.
"Pacarmu beneran?" Tanya Fany.

"Bukan. Dia, temanku." Jawab Rafael lalu kembali mengelap mejanya. Ia harus cepat menyelesaikannya dan cepat pulang. (Namamu) dan juga papanya sudah mengkhawatirkannya.
Rafael kembali berhenti mengelap mejanya saat mendapati Fany dan juga cowok yang dipanggil Uta tengah merapikan kursi-kursi di restoran itu.

"Kalian...." Ucap Rafael menatap kedua rekan kerjanya itu.

Fany mengembangkan senyumnya. "Aku tau seharusnya bukan cuma kamu yang beresin ini. Tapi, OB lain juga. Karna kamu anak baru, makanya mereka manfaatin kamu dan pulang duluan." Ucap Fany.

"Hal seperti itu udah biasa. Kita juga pernah mengalami. Dan kamu terlalu polos, makanya mereka seneng ngerjain kamu." Sahut Uta.

"Aku.. cuma mau melakukan yang terbaik." Ucap Rafael.

"Oh ya kenalin. Aku Fany. Dan itu sepupuku Putra, panggil aja dia Uta." Ucap Fany memperkenalkan dirinya dan juga cowok manis yang berada tak jauh darinya.

"Yap!" Sahut Uta dengan senyuman lebar.

"Rafael." Ucap Rafael menyebutkan namanya. 

"Ayo cepat selesaikan terus pulang." Ucap Uta lalu kembali membereskan kursi-kursi yang berantakan.

Rafael tersenyum senang. Lagi, ia menemukan orang yang baik di daratan. Meski, ada beberapa orang jahat yang memanfaatkan kepolosannya. Tapi, ia senang karna kembali di kelilingi orang-orang baik. Sama seperti halnya duyung, manusia juga ada yang baik dan juga yang jahat. 

~~♡♡♡♡♡~~

Rafael menekan bel rumah Amran. Tak lama setelah ia menekannya, pintu terbuka lebar dan memperlihatkan (namamu) yang terlihat sangat panik.

"Syukurlah kamu pulang." Ucap (namamu).

"Kamu, benar-benar mengkhawatirkanku." Ucap Rafael.

"Iyalah. Kamu pergi nggak ngomong. Gimana aku nggak khawatir. Kalau sampai ka-" 
(Namamu) berhenti berbicara saat jari telunjuk Rafael menempel pada bibirnya. Matanya menatap pria dihadapannya yang kini melemparkan senyum padanya.

"Terimakasih. Aku senang mendengarnya." Ucap Rafael lalu menjauhkan tangannya dari bibir (namamu). Ia melepas sepatu yang ia kenakan dan berjalan masuk kedalam rumah.

"Lagian aku juga udah izin kan kalau aku mau pergi." Ucap Rafael sambil berjalan masuk.
(Namamu) menutup pintunya, tak lupa menguncinya. Lalu ia segera mengikuti Rafael. "Sama siapa? Papa aja aku tanya nggak tau." Ucap (namamu).

"Sama penyu." Ucap Rafael menunjuk penyu yang ada didalam aquarium. Detik berikutnya Rafael langsung tersadar akan apa yang ia ucapkan.

"Ahahaha.. ya ampun Raf, kamu polos apa gimana sih? Mana bisa penyu itu ngomong ke aku kalau kamu pergi. Astaga." Ucap (namamu) yang masih tertawa.

"Ah, iya juga ya. Hehe." Ucap Rafael tertawa kecil. Hufft. Untung saja (namamu) tidak curiga padanya. Lain kali, ia harus lebih berhati-hati dalam bicara. Atau, rahasianya akan terbongkar karna ulahnya sendiri.

**♡**

Rafael menghampiri (namamu) yang tengah fokus pada layar laptopnya. Rafael mendekat dan mendudukan dirinya didekat (namamu). Matanya memandang ke arah pandang (namamu). Tubuh Rafael tiba-tiba mematung, ada gambar duyung dilayar laptop (namamu). (Namamu) tengah mencari informasi tentang duyung.

"Rafael, aku pikir kamu udah tidur." Ucap (namamu) memandang Rafael sejenak, lalu kembali fokus pada laptopnya.

"Eh? Aku belum bisa tidur." Jawab Rafael sedikit gugup. "Kamu, juga dengar berita tadi?" Tanya Rafael.
(Namamu) menganggukan kepalanya. "Aku sampai pulang kesorean karna dikampus bahas itu tadi. Aku ambil jurusan kelautan, jadi ini ada hubungannya dengan kuliahku." Ucap (namamu) dengan mata yang tetap tertuju pada layar laptop.

"Kamu percaya duyung itu ada?" Tanya Rafael.

(Namamu) menghela nafas pelan. Ia menjauhkan tubuhnya dari laptop, bersandar pada kepala sofa. 

"Percaya nggak percaya sih. Tapi, kata papa, satu bulan sebelum aku lahir, ada peperangan antar duyung dan manusia. Yang menimbulkan rasa trauma berat pada manusia, terutama yang tinggal di dekat pantai dan juga para nelayan." Ucap (namamu) panjang lebar.

Rafael terdiam. (Namamu) juga tau soal peperangan antara duyung dan manusia waktu itu. Rafael jadi merasa tidak tenang, ia gelisah. 

"Kamu kenapa Raf? Apa ini ada hubungannya denganmu? Apa kamu terdampar juga karna serangan duyung? Apa selama hanyut kamu melihat duyung?" Tanya (namamu) panjang lebar.

"Aku.. aku nggak liat sama sekali. Dan, aku terdampar, aku nggak ingat apa yang membuatku sampai berada ditempat ini." Ucap Rafael dengan wajah ketakutan. Sungguh, akting yang sangat bagus.

(Namamu) bisa melihat dengan jelas kegelisahan di wajah Rafael. (Namamu) memberanikan diri untuk memeluk Rafael. Ia memeluknya dengan lembut. Tangannya mengusap punggung Rafael.
Sementara Rafael, ia terkejut dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Tubuhnya tak bergerak sama sekali, bahkan hanya untuk sekedar membalas pelukan (namamu).

"Kata papa, pelukan bisa membuat seseorang jadi lebih tenang. Jadi, aku harap kegelisahanmu bisa hilang." Ucap (namamu).

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Rafael, bersuara pun tidak. (Namamu) begitu baik padanya. Tapi, ia sudah membohongi (namamu). 
Ia tak bisa membayangkan betapa marahnya (namamu) kalau tau bahwa dirinya adalah duyung. Ia tak bisa membayangkannya dan tak pernah mau membayangkannya.

~~☆☆♡☆☆~~

Pukul 10.15, restoran sudah ramai pengunjung. Saat ini semua pasang mata pengunjung dan juga pegawai restoran tertuju pada layar tv besar yang tertempel pada sisi kanan restoran. Hampir semua channel tv tengah menayangkan pres con dari dinas kelautan berhubungan dengan beredarnya foto duyung.

"Om Amran." Gumam Rafael saat melihat sosok papa (namamu) dilayar tv.

'Keberadaan duyung memang benar adanya. Salah satu buktinya adalah peperangan yang terjadi 20 tahun silam. Meski masih banyak yang tak percaya, dan juga banyak yang menduga itu hanya sebuah rekayasa. 

Tapi, tak dapat dipungkiri duyung itu memang ada. Bukan hanya sekedar hewan mitologi seperti yang kita ketahui selama ini. Saat ini kami masih terus mengembangkan kasus ini. Terus meneliti lebih dalam lagi tentang laut. Kapal selam yang dibuat saat ini, hanya mampu mencapai kedalaman 4000 meter. Hanya sebagian kecil dari kedalaman laut. 

Dan dikedalam 4000 meter lebih, masih terdapat banyak ribuan bahkan jutaan biota laut. Salah satunya adalah duyung. Untuk para nelayan diharapkan waspada, karna tidak menutup kemungkinan duyung akan kembali menyerang manusia.' ucap Amran panjang lebar.

Entah kenapa tubuh Rafael tiba-tiba terasa lemas setelah mendengar apa yang diucapkan Amran. Keberadaan duyung saat ini tengah terancam. Meski manusia belum bisa mencapai kedalaman laut dimana para duyung tinggal, tidak menutup kemungikinan setelah ini manusia akan membuat alat yang lebih canggih untuk mencapai kedalaman itu.

"Ah mengerikan sekali."

"Setelah 20 tahun duyung itu muncul lagi. Pasti duyung punya niat jahat."

"Musnahkan saja mereka. Gunakan bom nuklir. Daripada meresahkan warga."

"Iya. Keselamatan para nelayan jadi terancam."
Cacian demi cacian terhadap duyung terus terdengar di telinga Rafael. Itu sangatlah menyakitkan dan juga menyedihkan. Duyung tak sejahat yang orang-orang kira. Duyung punya alasan kenapa menyerang. Rafael ingin marah, tapi, ia tidak mungkin melakukan itu.

"Kalau peperangan itu adalagi, aku pasti akan ikut." Ucap Uta dengan percaya diri.

"Apaan, berenang aja nggak bisa. Naik perahu aja mabuk. Sok sok an. Huuu." Ledek Fany.

"Ya kan kalau kepepet pasti bisa." Ucap Uta membela diri.

"Yang ada kamu malah mati berdiri." Ucap Fany.

"Ck. Kamu mah nggak bisa buat aku seneng dikit." Protes Uta.

"Ya kamu kalau ngayal tuh sesuaiin sama kenyataan." Ucap Fany.

"Heh, dimana-mana ngayal tuh nggak ada yang nyata. Kalau disesuain sama kenyataan namanya bukan ngayal." Ucap Uta.

Fany menyenggol lengan Uta dan memberi isyarat pada Uta untuk melihat Rafael yang tengah melamun. 

"Kenapa?" Tanya Uta.

"Cakep ya. Hehe." Ucap Fany cengengesan.
Uta memutar bola matanya malas. "Astaga Fany, aku kira apaan." 

"Tapi coba deh liat. Dia, ngelamun gitu." Ucap Fany.

"Ya terus? Aku harus nemenin ngelamun gitu." Ucap Uta sekenanya.
Fany memukul lengan Uta cukup keras. "Kamu tuh ya. Ngeselin banget jawabannya." Ucap Fany lalu menghilang dari pandangan Uta. Kembali bekerja sebelum dimarahi oleh bos.

~~☆☆♡☆☆~~

Sejak pulang bekerja, Rafael terus saja melamun. Ia terus memikirkan hal yang dikatakan oleh Amran melalui media tv tadi. Sepertinya, hubungan antara duyung dan manusia kembali memanas. 

Satu yang menjadi pertanyaan Rafael, untuk apa Ratu Beryl ke permukaan sampai tertangkap kamera manusia? Apakah Ratu Beryl tengah merencanakan sesuatu? Kalau memang benar, ia harus menghentikannya. Ia tidak mau peperangan antara duyung dan juga manusia kembali terulang. 

"Kok kamu ngelamun aja sih. Kamu sakit?" Tanya (namamu) membawa beberapa camilan dan meletakkannya dimeja. Lalu menyalakan tvnya dan mengambil tempat tak jauh dari Rafael.

"Ah, enggak kok." Jawab Rafael. "Om Amran belum pulang?" Tanyanya.

"Belum. Biasanya kalau ada hal yang harus ditangani, papa pulangnya malam, atau malah nggak pulang." jawab (namamu) sembari mengunyah makanan.

Rafael menganggukkan kepalanya mengerti. Ia bangkit lalu berjalan menuju salah satu ruangan dirumah itu yang selama ini belum pernah ia masuki. Ia mendorong pintu ruangan itu hingga terbuka lebar. Gelap, itu kesan pertama yang ia dapati. 

Rafael meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu, dan yap, ia menemukannya. Segera dihidupkannya lampunya sehingga ruangan itu jadi terang benderang. Rafael terperangah melihat isi ruangan itu. Terdapat banyak sekali aquarium dari yang kecil hingga paling besar. Berisi berbagai macam biota laut. Baik itu hewan ataupun tumbuhan laut.

Rafael berjalan dengan perlahan, matanya melihat-lihat isi dari setiap aquarium itu. Bau yang sangat khas tercium jelas oleh hidungnya Bukan bau amis, melainkan bau air laut. Artinya, sebagian besar air yang ada dalam aquarium-aquarium diruangan ini adalah air laut. Mata Rafael membulat sempurna. 

Rafael memilih meninggalkan ruangan itu sebelum kakinya terkena air laut. Dan uppss.. sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Tanpa sengaja ia menyenggol salah satu bak yang ada di ruangan itu, beberapa airnya mengenai kakinya dan dalam sekejap kakinya berubah menjadi ekor. 

Rafael langsung panik, tangannya meraba-raba pinggangnya. Matilah, ia meninggalkan tas kecil berisi batu karang itu didalam kamar. Rafael jadi semakin panik. Bagaimana ia bisa mengambilnya, sementara (namamu) ada diluar.
.
.
Selanjutnya Baca : Give Me Love Part 8

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »