Give Me Love Part (8) Cerpen Fiksi Cinta | Ryan Rinaldi

Rafael terus memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengambil batu karang yang ada didalam kamarnya tanpa ketahuan (namamu). Walau rasanya itu tidak mungkin. Jikalau menunggu tidur, rasanya itu akan lama. Dan biasanya, (namamu) akan mengecek ke kamarnya terlebih dulu. Karna (namamu) begitu peduli padanya. 

Dan jika melihatnya tak ada didalam kamar, maka (namamu) akan bingung dan mencarinya. Dan kemungkinan terparah, (namamu) akan masuk keruangan ini dan menemukannya dalam wujud seperti ini. 

Senyum terkembang di wajah duyung tampan itu. Ia punya ide yang bagus, mungkin penyu bisa membantunya. Rafael mendekat ke pintu, ia sedikit membuka pintunya, matanya memandang (namamu) yang masih fokus pada tv, aman. Kini pandangannya tertuju pada aquarium dan dewi fortuna kali ini berpihak padanya, penyu tengah melihat kearahnya dan terlihat terkejut melihatnya kembali jadi duyung.

Rafael berbicara tanpa suara, ia juga menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan penyu. Ia harap penyu paham akan apa yang ia maksud. Sebisa mungkin ia memberi isyarat yang mudah dimengerti dan juga lebih akurat. Ia menggantungkan nasibnya pada penyu. Berharap besar penyu bisa membantunya kali ini.

Penyu menjulurkan lehernya sepanjang yang ia bisa, lalu ia sandarkan pada pinggiran aquarium, perlahan tubuhnya terangkat seiring lehernya yang memendek. Kaki depannya meraih pinggiran aquarium, diikuti kaki belakangnya dan ia terjatuh dilantai hingga menimbulkan sebuah suara. Beruntung (namamu) tak menggubrisnya, mungkin ia kira itu suara dari tv.

Rafael menghela nafas lega. Ia menyuruh penyu itu berjalan cepat. Yah walau rasanya itu sangatlah bodoh. Penyu memang tidak bisa berjalan dengan cepat. Tapi, kalau sampai (namamu) melihat penyu itu ada dilantai, pasti akan mengembalikannya ke aquarium. 

~~☆☆☆☆☆~~

Saat semua duyung yang berada di istana tertidur. Ratu Beryl diam-diam berenang pergi meninggalkan istana. Ia berenang dengan sangat hati-hati supaya tidak ada yang melihatnya. Ia terus berenang hingga sampai di gua bawah laut. Didepan pintu masuk gua terdapat dua pemgawal yang memang Ratu Beryl tugaskan untuk menjaga gua. 

Ratu Beryl kembali menggerakan ekornya dan masuk kedalam gua, dimana selama ini ia menyembunyikan Ratu Adoria yang diduga sudah mati. 

Ia tidak langsung membunuh Ratu Adoria, karna masih banyak hal yang belum ia ketahui termasuk keberadaan batu karang yang bisa mengubah ekor menjadi kaki. Dan Adoria tau tentang keberadaan batu karang itu. Karna suaminya, Raja Alden sering menggunakan itu dulu.

"Beryl," lirih Ratu Adoria didalam kurungan. 

"Aku tidak mau basa-basi. Siapa keturunan Raja Afkar yang masih hidup yang kamu maksud?" Tanya Ratu Beryl.

"Kelak, kamu akan mengetahuinya sendiri." Ucap Ratu Adoria.

"Keras kepala. Sekarang, beritahu aku dimana batu karang ajaib itu? Atau, aku akan membuangmu ke jurang laut saat ini juga." Ancam Ratu Beryl.

"Lakukanlah. Karna sampai kapanpun, aku tidak akan memberitahumu dimana batu karang ajaib itu." Ucap Ratu Adoria yang tetap kekeh pada pendiriannya.

"Baiklah kalau kamu menantangku. Tunggu, apa yang akan terjadi padamu." Ucap Ratu Beryl dengan senyuman miring.

**
Amira terus bertanya-tanya, apa yang di sembunyikan Ratu Beryl di dalam gua itu. Ia tidak masuk ke dalam, karna ada pengawal yang menjaganya. Amira segera bersembunyi saat melihat Ratu Beryl keluar dari dalam gua. 

Setelah cukup lama, ia kembali melongok melihat ke arah gua. Penjaga itu masih saja setia menjaga gua. Kalau begitu, sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa masuk. Amira berpikir sejenak, berpikir bagaimana caranya ia bisa masuk kedalam gua.

Amira lelah berpikir, tidak ada cara, satu-satunya adalah melawan dua pengawal itu. Tapi, sudah pasti dia akan kalah. Amira menghela nafas pelan. Matanya memandang kebawah dan melihat beberapa batu dengan ukuran yang bisa dibilang besar. Senyumnya seketika terkembang. 

ia ambil rumput yang tumbuh menjalar dilaut. Mengikat dua buah batu lalu menariknya, membawanya menuju bagian atas gua. Tentu ia akan menuju bagian atas gua melalui jalan yang tak terlihat oleh dua pengawal itu.

Sesampainya di atas gua, Amira melepas salah satu ikatan pada batu itu. Ia menjatuhkannya tepat diatas kepala pengawal yang berdiri disebelah kiri dan pengawal itu langsung pingsan. Pengawal yang satunya terkejut lalu mendongak keatas, tak berapa lama kemudian kepalanya juga tertimpa batu yang dijatuhkan Amira padanya. 

Amira segera menuju ke pintu gua, sebelumnya ia mengambil senjata yang ada pada tangan pengawal tadi, siapa tau itu akan berguna saat ia didalam.

Amira tak mau mengulur waktu, ia bergerak dengan cepat sebelum para pengawal itu tersadar. Betapa terkejutnya Amira saat melihat siapa yang ada didalam gua. Ratu Adoria, terkulai lemas dalam kurungan. 

"Ratu." Ucap Amira bergegas mendekat ke kurungan.

"Amira," lirih Ratu Adoria. "Dimana anakku? Dimana dia?" Tanya Ratu Adoria.

"Dia ada di daratan sekarang." Jawab Amira.

"Daratan?" Tanya Adoria.

"Iya. Aku, aku memintanya untuk berada di daratan untuk sementara waktu." Jelas Amira.
"Tapi, bagaimana kamu bisa masuk?" Tanya Adoria.

"Itu tidak penting Ratu. Yang penting Ratu harus keluar dari sini." Ucap Amira lalu berusaha membuka kurungan itu. Ia menggunakan senjata pengawal tadi untuk memutus tali yang mengikat dengan kuat kerangka kurungan itu dan akhirnya kurungan itu berhasil dibuka.

"Ayo Ratu." Amira menggenggam tangan Ratu Adoria lalu membawanya berenang keluar gua. Beruntung para pengawal itu masih pingsan. Amira menggerakkan ekornya semakin cepat. 

~~☆☆♡☆☆~~

Penyu berjalan mundur dengan giginya yang menggigit tali tas kecil yang berisi batu karang ajaib. Penyu terlihat kesulitan karna batu karang itu cukup berat untuknya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa membawa batu karang itu pada Rafael.

Ini benar-benar sangat menegangkan, terutama bagi Rafael. Kalau sampai (namamu) melihat penyu membawa tas kecil pemberiannya itu akan jadi semakin rumit. Mata Rafael sedari tadi tak berhenti bergerak, dari celah pintu ia bergantian memandang penyu dan juga (namamu). 

Mata Rafael membulat saat melihat (namamu) bergerak bangkit dari duduknya. Matanya beralih menatap penyu yang masih sedikit jauh darinya. Ia julurkan tangannya keluar pintu, ia berusaha mencapai penyu dan dapat, Rafael segera menarik penyu dan menutup pintunya hingga menimbulkan suara.

(Namamu) menoleh kebelakang. "Raf," panggil (namamu). (Namamu) berjalan pelan menuju ruang penelitian yang ada didalam rumahnya itu.

Tangannya menggenggam gagang pintu dan mendorongnya perlahan. "Rafael," panggil (namamu) lagi. 

Rafael muncul dari balik pintu dengan penyu dalam genggamannya. "Kenapa, (nam)?"
"Enggak, aku kaget aja denger suara pintu." Ucap (namamu). "Kamu ngapain sih disini? Terus itu kan penyu di aquarium depan, kenapa kamu ambil?" Tanya (namamu).

"Ee.. aku suka penyu, jadi aku pengen megang. Terus, liat-liat hewan laut juga. Bagus. Hehe." Jawab Rafael dengan senyum yang terkesan kaku.

"Aku pikir kenapa." Ucap (namamu)menghela nafas lega.

"Enggak, nggak papa kok." Ucap Rafael sembari menggelengkan kepalanya. "Ya udah, aku kembalikan penyunya." Ucap Rafael lalu berjalan melewati (namamu) menuju aquarium lalu memasukan penyunya kembali kedalam aquarium.

~~♡♡♡♡♡~~

Amira membawa Ratu Adoria ke sisi pulau yang masih sangat jarang di jamah manusia. Mungkin disitu ia akan aman. Karna, rasanya tidak mungkin jika Ratu Adoria ia bawa kembali ke istana. Bisa saja, para duyung akan langsung menyerang Ratu Adoria. Apalagi jika Ratu Beryl kembali memerintahkan untuk memusnahkan Ratu Adoria.

"Aku pikir, Ratu sudah meninggal." Ucap Amira.

"Ratu Adoria bersama Algis menyembunyikanku. Karna ia ingin tau dimana batu karang ajaib itu. Tapi, saat kamu bilang anakku ada di daratan, artinya batu karang itu ada di tangannya, kan?" Ucap Ratu Adoria.

"Iya Ratu. Batu karang itu ada ditangan anakmu, Rafael." Ucap Amira.

"Jadi, namanya Rafael?" 

"Iya Ratu. Maaf, aku tidak meminta izin Ratu untuk memberinya nama. Karna aku pikir, Ratu sudah meninggal waktu itu." 

Ratu Adoria menggelengkan kepalanya. "Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Kamu sampai mengorbankan anakmu. Hanya untuk menyelamatkan anakku, aku tau bagaimana terpukulnya kamu saat melihat anakmu dilempar ke jurang laut. Sebagai seorang Ratu, harusnya aku melindungimu, bukan kamu yang melindungiku." Ucap Ratu Adoria panjang lebar.

Jika mengingat hari itu, hari dimana anaknya ramai-ramai di lemparkan ke jurang laut. Itu sangatlah menyakitkan untuknya, membuatnya merasa bersalah, membuatnya merutuki dirinya sendiri dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia bukanlah ibu yang baik.

"Maafkan aku Amira." Ucap Ratu Adoria.

"Tidak papa Ratu. Yang penting, Pangeran Rafael selamat. Dan, tahta kerajaan akan jatuh ke tangan yang hak." Ucap Amira mengembangkan senyumnya.

~~☆☆♡☆☆~~
Hangatnya sinar mentari mulai terasa oleh setiap orang. Aroma udara pagi juga terasa sangat segar. Apalagi, di perumahan yang jaraknya tak jauh dari pantai. Aroma laut yang terbawa oleh angin sedikit tercium.

"Selamat pa-" ucapan (namamu) terhenti. Wajah cerianya berubah jadi datar, senyumnya juga seketika hilang. 

"Kamu,mau kemana?" Tanya (namamu) dengan nada bicara yang terdengar sedih. Bagaimana tidak, Rafael saat ini tengah membereskan baju-baju yang ia belikan beberapa hari yang lalu.

"(Namamu)." Ucap Rafael terkejut dengan kehadiran (namamu). "Aku.... aku mau mencari tempat tinggal sendiri." Ucap Rafael.

"Kenapa? Apa kamu nggak nyaman tinggal disini? Katakan, apa yang membuatmu nggak nyaman, biar aku perbaiki atau bila perlu aku hilangkan." Ucap (namamu).

Rafael menggeleng pelan. "Aku sangat nyaman berada dirumah ini." 

"Lalu apa? Apa karna sikapku yang salah? Atau apa? Katakan Rafael." Ucap (namamu).
Rafael meletakkan tangannya di kedua pundak (namamu) dan menatap (namamu) lekat-lekat. "Tidak ada yang salah sama sekali. Kamu orang yang baik." 

"Lalu?" Tanya (namamu).

"Aku cuma nggak mau merepotkanmu dan juga om Amran. Aku tau aku nggak tau diri, setelah kamu memberiku banyak barang aku pergi begitu aja. Kamu pasti berpikir aku hanya memanfaatkanmu. Kamu nggak salah berpikir seperti ini. Tapi, aku hanya mau mencoba untuk nggak terus bergantung padamu." Ucap Rafael panjang lebar.

Plakk.. (namamu) menampar Rafael begitu saja. "Aku udah pernah bilang, bahkan berulang kali. Aku sama sekali nggak merasa di repotkan. Aku senang bisa membantumu. Justru, aku akan takut dan juga khawatir saat kamu nggak ada disini." ucap (namamu) dengan raut wajah sedih. Ia tidak mau Rafael pergi dari rumah ini.

Rafael menganggukkan kepalanya mengerti. "Aku tau itu. Justru karna itu, jika aku terus bergantung padamu, semakin aku terus merasa tidak enak. Aku senang mendengarmu sangat mengkhwatirkanmu. Aku merasa sangat beruntung, tapi aku mohon, izinkan aku untuk tinggal dirumah lain." Ucap Rafael memohon.

(Namamu) meneteskan air matanya. Tidak, ia tidak mau mengizinkan Rafael pergi dari rumah ini. Ia takut, takut tanpa alasan yang pasti. Kepalanya menunduk, punggungnya sedikit bergerak.

(Namamu) merasakan tubuhnya ditarik dan tak lama setelah itu sepasang tangan melingkar ditubuhnya. Wajahnya kini menempel pada kaos yang dikenakan Rafael.
"Maafkan aku. Aku harap kamu memgerti." Ucap Rafael pelan.

"Kalau kamu pergi, artinya kita nggak bisa bertemu lagi." Ucap (namamu).
"Kamu udah ngasih aku hp kan? Kapanpun kamu mau ketemu, aku pasti akan meluangkan waktuku untukmu." Ucap Rafael.

(Namamu) bergerak menjauhkan tubuhnya dan membuat pelukan Rafael pada tubuhnya terlepas. "Janji?" Tanya (namamu) mengacungkan jari kelingkingnya.

Rafael tidak tau apa maksud (namamu) mengulurkan jari kelingkingnya, tapi ia juga melakukan hal yang sama dan menempelkannya pada jari kelingking (namamu). Dan kedua jari kelingking itu saling bertautan. (Namamu) mengembangkan senyumnya, begitu juga dengan Rafael.
.
Selanjutnya Baca : Give Me Love Part 9

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »