Give Me Love Part (9) Cerpen Fiksi Cinta | Ryan Rinaldi

Rafael menutup tasnya rapat-rapat lalu menggendongnya, ia siap meninggalkan rumah ini. Meski ia belum tau ia akan tinggal dimana. Satu alasan besar kenapa ia memilih meninggalkan rumah (namamu). 

Disini terdapat banyak sekali air laut. Ia juga sering melihat Amran membawa air baik dalam wadah kecil maupun besar. Ia takut, jika yang dibawa Amran adalah air laut. Dan jika sewaktu-waktu air laut itu tumpah kearahnya, itu akan sangat berbahaya. Keselamatannya bisa terancam, apalagi Amran terlihat tak menyukai duyung. 

"Kamu jaga dirimu baik-baik ya." Ucap (namamu) menatap Rafael sedih.

"Iya. Kamu juga jaga dirimu baik-baik." Jawab Rafael dengan anggukan kepala.
Ting... tong....

Pandangan Rafael dan (namamu) tertuju ke pintu utama. (Namamu) bergegas menuju pintu utama, mungkin itu papanya. Rafael juga berjalan keluar kamar.

"Gavin." Ucap (namamu) begitu melihat orang yang ada dibalik pintu.

"Hai," sapa Gavin dengan senyuman cerah. Ia juga mengulurkan tangannya yang menggenggam dua buah coklat, kesukaan (namamu).

"(nam), aku pergi ya." Ucap Rafael.

"Aku anterin kamu ya." Sahut (namamu) cepat.

Rafael menggelengkan kepalanya. "Kamu ada tamu, nggak baik kan kalau ditinggalin. Nanti, aku kabari alamatnya." Ucapnya dengan senyuman manis.

"Ya udah. Janji ya, kamu harus cepet ngabarin." Ucap (namamu).

Rafael menganggukkan kepalanya lalu berjalan pergi meninggalkan rumah yang menjadi tempat berlindungnya selama beberapa waktu. Kalau disuruh memilih pun, ia tidak ingin meninggalkan rumah itu. 
Ia merasa sudah sangat nyaman berada dirumah itu dan juga bersama (namamu) dan juga Amran. Tapi, semua ini ia lakukan untuk yang terbaik.

"Dia siapa?" Tanya Gavin.

"Temenku." Jawab (namamu) dengan mata yang masih memandang Rafael yang masuk kedalam taksi.

"Tinggal disini?" Tanya Gavin lagi.

(Namamu) menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi sekarang nggak." Ucapnya lalu membalikkan badan dan berjalan menuju sofa berwarna coklat yang terpajang indah diruangan utama rumah itu. "Kamu, tumben kesini." Ucap (namamu).

"Kaya nggak biasa aja sih. Aku kan sering kesini." Jawab Gavin.

"Iya sih, tapi kan akhir-akhir ini kamu jarang kesini." Ucap (namamu).

"Itu karna kamu yang selalu sibuk. Mungkin ngurusin cowok itu tadi." Ucap Gavin menebak.

"Emang." Jawab (namamu) langsung. Akhir-akhir ini ia memang sibuk mengurus Rafael. Mulai dari mengajarinya berjalan, membelikan baju dan berbagai hal lainnya. Dan itu sangatlah menyenangkan untuknya.

"Om Amran juga belum pulang?" Tanya Gavin.

(Namamu) menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Dana, papa Gavin juga merupakan bagian dari Dinas kelautan. Sama seperti papa (namamu),dan keduanya memang berteman dekat. Gavin dan (namamu) juga saling mengenal sejak kecil. Jadi hubungan mereka sudah sangat dekat satu sama lain. 

"Kamu mau minum apa?" Tanya (namamu).

"Air putih aja." Jawab Gavin.

"Tunggu sebentar ya." Ucap (namamu) lalu beranjak ke dapur untuk mengambilkan minuman yang diinginkan Gavin.

~~☆☆☆☆☆~~

Suasana ruangan Dinas Kelautan kembali tenang setelah perdebatan panjang. Amran melepas kacamatanya, ia mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat dengan sapu tangan. Semalaman ia tidak tidur hanya karna masalah foto duyung yang muncul di media masa.

"Amran." panggil Dana.

Amran menoleh kebelakang sejenak, kakinya terus saja melangkah. "Kenapa?" 
"Gimana kabar (namamu)?" Tanya Dana.

"Baik. Gavin juga sering kerumah, emang dia nggak cerita?" Tanya Amran yang terus melangkahkan kakinya.

"Anak itu jarang cerita." Jawab Dana. "Aku merasa, mereka berdua cocok, bagaimana kalau kita menjodohkannya? Toh, mereka juga udah kenal sejak kecil kan?" Tawar Dana.

Amran menghentikan langkahnya, perkataan Dana sedikit membuatnya terkejut. "Bukan aku menolaknya Dan, cuma aku nggak mau jodoh-jodohin anakku. Ini bukan jaman kuno lagi, jadi aku terserah sama (namamu). Kalau emang dia suka sama Gavin ya udah, nggak masalah." Ucap Amran dengan senyuman.

Dana mengangguk-anggukan kepalanya. 

"Maaf ya." Ucap Amran lalu kembali melangkahkan kakinya.
~~♡♡♡♡♡~~

Rafael mengerjakan pekerjaannya dengan cepat. Jam istirahat nanti akan ia gunakan untuk mencari tempat tinggal baru. Dimanapun itu, asal tempat itu aman untuknya. Jadi, sewaktu-waktu ia berubah menjadi duyung tidak akan ada yang mengetahuinya. 

Kalau bisa juga tidak jauh dari pantai, jadi sewaktu-waktu ia bisa dengan cepat ke pantai. Rafael teringat sesuatu, sejak waktu itu ia belum kembali ke laut. Ia tetap harus kembali kelaut walau hanya sebentar, atau kalau tidak Ratu Beryl akan curiga. Rafael semakin cepat mengerjakan pekerjaanya.

"Kok buru-buru amat sih Raf,mau kemana?" Tanya Fany yang meletakkan menu-menu makanan di setiap meja. Dalam hitungan menit restoran akan dibuka.

"Ee.. aku mau nyari tempat kos." Jawab Rafael.

"Kamu belum punya tempat tinggal? Terus selama ini?" Tanya Fany.

"Aku tinggal di rumah (namamu), tapi aku nggak mau terus merepotkannya. Jadi, aku pikir aku harus cari tempat kos sendiri." Ucap Rafael menjelaskan.

"Dengan gajimu yang nggak seberapa, kamu akan kesulitan membayar tempat kos. Karna bisa dibilang itu nggak murah, belum kamu makan." Ucap Fany.

"Aku tau itu, tapi..."

"Bagaimana kalau kamu tinggal sama aku sama Uta?" Tawar Fany.

"Heh?" Rafael mengernyitkan dahinya.

"Jadi, biaya kosnya kita bagi tiga, kan lebih ringan." Ucap Fany.

"Fany." Tegur Uta.

Rafael melirik Uta sejenak, sepertinya Uta tidak setuju dengan ide itu. "Ee.. nggak usah Fan." 

"Rafael, kamu nggak usah mikirin Uta. Dia pasti mau kok." Ucap Fany meyakinkan Rafael.

"Bukan aku nggak mau, tapi kan kontrakan kita cuma ada dua kamar Fan." Sahut Uta.

"Kan kamarmu luas, kasurnya juga besar kan? Jadi cukup untuk berdua." Ucap (namamu).

"Terimakasih banyak Fan. Tapi...."

"Nggak usah pakai tapi, Uta setuju kok. Iya kan Uta?" Tanya (namamu) yang menatap Uta dengan tatapan tajam.

Uta menghela nafas pasrah. Ia pun menyetujui Rafael tinggal dikontrakannya. Uta juga ingin membantu Rafael, tapi ia belum begitu mengenal baik Rafael, siapa tau Rafael punya modus tertentu untuk melakukan perampokan atau semacamnya. 
Dijaman yang sangat modern seperti ini banyak sekali modus kejahatan, termasuk dengan modus memelas seperti itu. 

~~☆☆☆☆☆~~
Hari sudah gelap, Rafael tiba di kontrakan Fany dan juga Uta. Tak jauh dari restoran tempat mereka bekerja. Bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki. Rafael meletakan tasnya diatas sofa. Ia melihat-lihat ruangan yang tak begitu banyak isinya itu. Tidak masalah seperti apa tempat tinggalnya saat ini. Yang penting ia bisa tidur dengan nyenyak.

"Lihat, matanya jelalatan, dia pasti ada niat jahat." Bisik Uta.

Fany menyikut perut Uta, dan sudah pasti Uta kesakitan. "Nggak usah berpikir yang aneh-aneh." Ucap Fany berbisik.

"Ee.. kalau boleh tau ini alamatnya dimana ya?" Tanya Rafael. "Soalnya, aku harus ngabarin temanku kalau aku udah ada tempat tinggal." Sambungnya.

"Tuhkan, apa gue bilang. Pasti, dia mau ngasih tau temennya yang perampok juga. Aahh.. bahaya tau." Bisik Uta lagi.

Pipi Uta sedikit menggembung, menahan rasa sakit pada perutnya. Ya, Fany menyikut perutnya lagi. Uta memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Kenapa Fany tidak mau percaya padanya? Itu adalah tanda-tanda orang yang akan melakukan tindak kejahatan. Kalau sampai terjadi sesuatu dirumah ini, ia akan menyalahkan Fany dan meminta Fany untuk bertanggung jawab.

Fany menjawab pertanyaan Rafael dengan memberitahu alamat kontrakannya. Ia percaya pada Rafael, Rafael terlihat sangat polos, jadi rasanya tidak mungkin Rafael akan melakukan tindak kejahatan. Yah, walau memang sekarang wajah polos itu tidak menjamin.

Uta berada didalam kamar dengan keadaan gelisah. Ia masih takut kalau Rafael melakukan perampokan atau hal semacamnya. Iya kalau Rafael hanya mengambil uangnya, bagaimana kalau Rafael juga membunuhnya? Aaaa.. tidak!!! Ia masih ingin hidup, ia masih ingin menikah dulu. Jadi setelah menikah tidak apalah. Ah,tapi jangan-jangan. Uta menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Uta." Panggil Rafael membuat Uta berhenti menggeleng. "Kamu kenapa?" Tanyanya.

"Nggak papa kok. Aku mau tidur." Ucap Uta lalu membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga seluruh tubuhnya terbungkus selimut. Badan Uta sedikit gemetar, matanya ia pejamkan. Uta orangnya memanglah sangat parno-an. Parno ya, bukan prno. 

"Kalau kamu keberatan aku tidur disini,aku akan tidur diluar." Ucap Rafael.

Uta langsung menyibakkan selimutnya dan mendudukan dirinya. "Bukan gitu. Aku, aku cuma nggak biasa tidur sama orang. Jadi,aku sedikit gugup. Nggak papa kok kamu tidur disini, seriusan." Ucap Uta.

"Terimakasih Uta, maaf membuatmu nggak nyaman." Ucap Rafael lalu mendudukan dirinya disisi lain kasur yang berlawanan dengan Uta. Rafael berbaring lalu menarik selimutnya. Ia tidur dengan posisi miring, membelakangi Uta.

Uta melirik Rafael sejenak, tubuhnya sudah tak bergerak, artinya Rafael sudah tertidur. Tapi, Uta tetap tidak bisa bernafas lega. Kalau saat ia tidur lalu Rafael terbangun dan menjalankan aksinya bagaimana? Oh tidak! Uta, buang pikiran negatifmu. Uta memukul-mukul pelan kepalanya, untuk menghilangkan pikiran negatif itu dari kepalanya.

Selama beberapa jam Uta mencoba untuk tetap terjaga. Bahkan sesekali ia menampar pipinya sendiri agar ia tetap terjaga. Ia tak boleh lengah sedikitpun. Walau kantum berat sudah menyerangnya. Uta kembali menguap, belum sempat mulutnya tertutup, ia merasakan kasur yang ia tiduri sedikit bergoyang. 

Matanya seketika terbuka lebar. Benarkan dugaannya, Rafael pasti mulai menjalankan aksinya. Tak lama setelah itu Uta mendengar suara pintu terbuka. Beberapa detik kemudian Uta menyibakkan selimutnya dan melihat kesamping, Rafael tidak ada. Uta bergegas turun dari ranjang dan berjalan mendekat ke pintu kamar dan mengintip apa yang Rafael lakukan.

Rafael menoleh kekanan dan kekiri, memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Ia harus kembali kelaut sekarang. Ada berita yang harus ia sampaikan. Perihal Ratu Beryl dan duyung lain yang tertangkap kamera manusia. 

Ia harus bisa menghentikan perseteruan antara duyung dan juga manusia sebelum peperangan itu kembali terjadi. Setelah dirasa aman, Rafael membuka pintu dengan sangat perlahan, sebisa mungkin tak menimbulkan suara. Lalu ia menutupnya lagi setelah berhasil keluar.

Uta mengetuk pintu kamar Fany dengan tidak sabar, pandangan matanya tertuju pada pintu utama yang tertutup. Fany tak kunjung keluar, Uta menambah tenaga pada ketukannya.

"Aduh, apa sih Uta?" Omel Fany sembari membenarkan rambutnya yang berantakan. Ia paling benci kalau tidurnya di ganggu.

Tanpa mengatakan apapun, Uta menggenggam tangan Fany lalu membawanya mendekat ke jendela, ia membuka tirai yang menutupi kaca jendela. "Lihat, mau kemana dia tengah malam gini?" Ucap Uta menunjuk Rafael.

"Iya ya." Jawab Fany.

"Tuhkan, apa aku bilang, dia itu bukan orang baik." Ucap Uta yang sangat yakin dengan firasatnya.

"Kita ikuti dia." Ucap Fany beralih membuka pintu dan bergegas mengikuti Rafael sebelum kehilangan jejak.

Uta menutup pintunya rapat-rapat lalu segera menyusul Fany.

¤¤¤

Fany dan Uta berjalan diatas batu-batu di tepi pantai. Angin malam yang sangat dingin terasa menusuk tulang mereka. Ombak yang cukup besar juga berkali-kali menabrak batu-batu yanh ada di tepian itu. 

Pandangan Uta terus tertuju pada Rafael dan sebuah kecelakaan pun tak dapat dihindari. Uta terpeleset dan langsung tercebur ke air, ia juga terseret ombak. 

"UTA!" Teriak Fany. "UTA! Tolong! Tolong!" Teriak Fany panik.

Rafael menoleh kebelakang saat mendengar suara teriakan. Tanpa pikir panjang Rafael langsung kembali dan menceburkan diri di tempat dimana Uta tercebur tadi. Kaki Rafael yang terkena air laut langsung berubah menjadi ekor. Ia tak peduli akan hal itu, yang penting ia bisa menyelamatkan Uta.

Selanjutnya Baca : Give Me Love Part 10

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »