Give Me Love (1) - Cerpen Cinta | Ryan Rynaldi

Cerpen bersambung, Karya Ryan Rinaldi , Folow @Ryanrinaldi (wattpad).
***
Sebuah kehidupan yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Sesuatu yang tidak di percayai juga bukan berarti tidak ada pula. Di dunia yang tiada batas ini, segala sesuatu bisa terjadi tanpa ada yang menduganya. Bahkan hal yang terlihat sangat mustahil pun akan terlihat secara nyata.


~~¤¤¤¤~~

Pantai, satu tempat yang amat sangat digemari oleh banyak orang. Merupakan tempat yang paling sering didatangi apalagi dikala hari libur tiba.

Suara deru ombak yang menyapu pesisir pantai terus terdengar. Terlihat sangat berbahaya. Tapi itu sama sekali tak menghalangi para pecinta pantai yang sangat mendambakan datangnya ombak, terutama untuk orang-orang yang sangatlah hobi bermain surfing. Justru itu menjadi tantangan tersendiri. 

Tak seperti orang lain pada umumnya, seorang gadis cantik berambut hitam sebahu, memiliki bulu mata yang sedikit lebih panjang, wajah yang tirus dan juga bibir yang mungil itu datang ke pantai untuk menemani papanya yang sedang meneliti lautan. 

Papanya bekerja dibidang kelautan. Dan saat ini pun ia tengah kuliah mengambil jurusan kelautan pula. Ia ingin jadi seperti papanya yang tau banyak tentang laut dan juga ekosistemnya. Selain karna ia mencintai laut, juga karna rumahnya tak begitu jauh dari laut. 

Jadi alangkah baik jika ia bisa tau seperti apa tempat daerahnya tinggal dan juga merupakan mata pencaharian terbesar di daerahnya.

"(Namamu)." 

"Iya pa." Ucap gadis yang bernama (namamu) itu. Ia bergegas meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri sang papa.

"Tolong bawakan ini ke mobil. Setelah itu temui ayah di pondok itu, kita istirahat dulu." Ucap Amran, papa (namamu).

"Oke!" Jawab (namamu) yang sangat bersemangat itu.

(Namamu) membawa beberapa sample ikan dan juga biota laut lain kedalam mobil yang selanjutnya akan diperiksa lebih detail dirumah nantinya. Gadis yang masih berada di semester pertama bangku kuliah itu selalu bersemangat jika diajak ayahnya ke laut. 

Selain menyenangkan, ia juga suka karna ada banyak sekali cowok tampan dipantai. Dari luar negeri pula, siapa tau ia dapat pacar orang luar negeri kan. Ah, khayalannya terlalu tinggi. 

(Namamu) kembali menutup bagasi mobil setelah meletakkan bahan-bahan penelitian milik ayahnya. Ia bersihkan tangannya dengan menepuk-nepukkannya satu sama lain lalu berbalik dan menuju ke pondok yang dimaksud ayahnya. Tapi, langkah kaki (namamu) terhenti. Telinganya mendengar suara seseorang.

~~¤¤¤¤~~

Seorang pria tinggi berkulit putih, dengan mata yang tak begitu sipit tengah mencoba untuk berdiri. Pria yang hanya mengenakan sehelai kain yang ia temukan untuk menutupi bagian bawah tubuhnya itu terus mencoba untuk berdiri. 

Tangannya berpegangan kuat pada batu besar. Perlahan ia injakkan telapak kakinya pada ribuan butiran pasir dan mencoba untuk berdiri dengan tegak. 
Ia melakukannya, tapi sayang, itu hanya berlangsung beberapa detik saja dan ia langsung jatuh tersungkur ke depan. Perut dan dadanya yang tak tertutupi apapun dipenuhi oleh pasir.

Pria itu menggenggam pasir-pasir disekitarnya. Ia geram dan juga kesal. Kenapa rasanya susah sekali hanya untuk berdiri. Apalagi berjalan. Ia mencobanya sekali lagi dan tetap saja ia tak bisa melakukannya.
..
(Namamu) terkejut melihat ada seseorang dibalik batu besar itu. Seseorang yang hanya mengenakan sehelai kain yang melilit dipinggangnya. Melihat orang itu tampak kesulitan, membuat (namamu) jadi merasa iba. Ia pikir, ia bisa membantu orang itu. 

Tapi, apakah tidak apa-apa? Ini bukan jebakan kan? Dijaman seperti ini banyak sekali yang menggunakan modus-modus yang tak pernah diduga untuk melakukan tindak kejahatan. Tapi, sepertinya orang itu benar-benar kesulitan. (Namamu) memberanikan dirinya untuk mendekati pria itu.

"Kamu kenapa?" Tanya (namamu).

Mata pria itu terbelalak saat melihat (namamu). Ia buru-buru merangkak menjauh. Ia harus sangat hati-hati. Atau nyawanya akan terancam. 

(Namamu) menatap aneh pria itu. Kenapa pria itu terlihat sangat ketakutan? Ia menoleh kebelakang, kanan dan juga kiri. 
Tak ada siapapun, itu artinya pria itu takut padanya? Heh? Takut padanya? (Namamu) memanyunkan bibirnya. Memangnya dirinya tampak menyeramkan? Sampai pria itu terlihat sangatlah ketakutan padanya?

"Jangan mendekat!" Ucap pria itu.

"Heh? Jangan takut. Aku nggak jahat kok. Serius!" Ucap (namamu) mengacungkan tangannya yang membentuk huruf V.

Pria itu tampak sedikit lebih tenang dibanding sebelumnya. (Namamu) lebih mendekatkan dirinya lagi pada pria itu.

"Siapa namamu?" Tanya (namamu).

"Ee... Rafael. Iya, Rafael." Jawab pria itu.

(Namamu) mengangguk-anggukan kepalanya. Ternyata namanya adalah Rafael. Nama yang bagus juga.

"Aku (namamu)." Ucap (namamu) memperkenalkan dirinya.
Pria itu hanya membalas dengan sebuah senyuman yang terkesan sangat kaku. Sepertinya pria itu masih takut pada (namamu). Dan satu lagi yang membuat (namamu) penasaran. Kenapa pria itu tidak memakai baju ataupun celana. 

"Kenapa kamu nggak pakai baju?" Tanya (namamu).

"Ee... aku..."

(Namamu) memperhatikan Rafael dengan seksama. Menunggu kelanjutan kata yang akan diucapkan pria aneh itu.

"Aku hanyut, jadi, nggak tau bajuku dimana." Ucap Rafael.

"Ohh..." ucap (namamu) ber'oh' ria.

"Lalu kenapa kakimu? Aku lihat kamu susah berdiri. Apa kakimu sakit?" Tanya (namamu) memandang kaki Rafael.

"Ee.. a..aaku nggak tau. Rasanya sulit untuk berdiri." Jawab Rafael lagi.
"Apa kamu lumpuh?"

"Lumpuh?" Rafael mengernyitkan dahinya bingung. Ia tidak mengerti apa itu lumpuh.

"Iya lumpuh, sakit dimana kamu nggak bisa gerakin kakimu." Ucap (namamu) menjelaskan.
Rafael mengarahkan pandangannya ke kakinya. Ia mencoba menggerak-gerakkan kakinya. 
Ia bisa melakukannya. Tidak terasa sakit juga. Lalu ia mengarahkan pandangannya ke (namamu). Menatap (namamu) dengan tatapan penuh tanda tanya. 

"Eh? Bisa ya? Terus kenapa dong?" Ucap (namamu) yang terlihat sangat bingung.
"Apa berdiri itu susah?" Tanya Rafael.

(Namamu) semakin menatap Rafael heran. Ck. Pertanyaan macam apa itu. Kalau Rafael itu anak kecil yang baru saja belajar berjalan, wajar saja jika menanyakan hal itu. Masalahnya, Rafael itu sudah seumurannya. Pria yang baru saja ia temukan ini benar-benar aneh. Apa jangan-jangan pria itu orang gila? 

"Kalau untuk bayi itu jelas sulit. Tapi kamu kan udah besar, masa iya nggak bisa berdiri sih." Ucap (namamu) heran.

"(Namamu), siapa itu?" Tanya Amran.

Mata Rafael kembali terbuka lebar melihat ada orang lain yang datang. Ia menggerakkan tubuhnya untuk bersembunyi dibalik tubuh (namamu).

"Jangan takut, dia papaku." Ucap (namamu) pada Rafael.

"Siapa dia?" Tanya Amran.

"Namanya Rafael pa. Katanya dia hanyut dan terdampar disini. Makanya dia nggak pakai baju." Ucap (namamu) menjelaskan.

"Astaga, kasian sekali." Ucap Amran.

"Iya pa. Mungkin dia habis diserang orang. Soalnya dia selalu ketakutan setiap liat orang baru." Jelas (namamu) lagi.

Amran menatap Rafael iba. Sayang sekali, pria setampan itu harus menjadi korban dari kejahatan.
"Tapi, anehnya dia sulit untuk berdiri pa. Padahal kakinya nggak sakit sama sekali." Ucap (namamu) yang masih terheran.

"Itu bisa aja terjadi. Ketakutan yang teramat dalam bisa mempengaruhi kinerja otaknya. Jadi hal seperti itu sangatlah biasa. Atau bisa juga karna sengatan listrik yang kuat." Jelas Amran panjang lebar.

Rafael hanya mendengarkan saja. Ia tak mau menjawab apapun. Karna sebenarnya bukanlah itu penyebab dirinya kesulitan berdiri. Tapi, sebaiknya ia setujui saja apa yang dikatakan pria paruh baya itu. Karna tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.

~~¤¤¤¤~~
Rafael kini tengah memakai baju milik Amran. Meski tampak sedikit kebesaran untuknya. Badannya tidaklah sebesar badan Amran. Ia sedikit lebih kurus dibanding Amran. Rafael memperhatikan baju yang ia kenakan. Memperhatikan detail-detail baju itu. Terlihat berbeda dengan baju yang biasa ia kenakan. Ya, karna bisa dibilang ia hampir tak pernah pakai baju.

"Rafael, apa kamu udah selesai?" Tanya (namamu) sembari mengetuk pintunya.
"Udah." Jawab Rafael dari dalam kamar.

(Namamu) membuka pintu kamar dan berjalan masuk kedalam. Menghampiri Rafael yang terduduk diatas tempat tidur. Ia akan mengajak Rafael makan terlebih dahulu, lalu akan membantu Rafael untuk bisa kembali berdiri lagi. 

"Ayo!" Ajak (namamu). Ia membantu Rafael berdiri lalu memapahnya dengan sangat hati-hati. Membawanya ke meja makan. Untuk makan bersama dengan dirinya dan juga papanya.
"Makanan papaku enak banget tau." Ucap (namamu) dengan bangga.

Rafael hanya membalasnya dengan senyuman. Matanya beralih menatap aquarium yang cukup besar di pojok ruangan. Disana terlihat ada beberapa hewan laut, dan ada rumput laut pula. Tempat dalam aquarium itu ditata sedemikian rupa hingga menyerupai tatanan yang ada didalam laut.

Rafael terdiam untuk beberapa saat. Ternyata, tidak semuanya manusia itu buruk ataupun jahat. Buktinya, saat ini ia berjumpa dengan manusia yang sangat baik. Ia semakin yakin bahwa ini hanya siasat orang yang licik itu untuk menjatuhkan tahta ayahnya. 

"Rafael, kamu kenapa?" Tanya (namamu).

Rafael tersadar dari lamunannya. Senyumnya terkembang dan menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu terpikirkan keluargamu?" Tanya Amran.

Rafael menganggukkan kepalanya. Ia memang jadi terpikirkan kedua orangtuanya. Sejak ibu yang selama ini mengasuhnya mengatakan bahwa dirinya bukanlah anak kandungnya. Dan, kedua orangtuanya sudah tak mungkin dapat ia temui lagi. 

"Apa orangtuamu juga ikut diserang?" Tanya Amran.

"Aku.. aku nggak tau. Aku...." Rafael tak melanjutkan kata-katanya.

"Sudahlah, kamu nggak perlu takut. Kamu boleh tinggal disini." Ucap Amran.
"Terimakasih." Ucap Rafael pelan.

~~☆☆☆☆~~

Rafael berusaha keras untuk belajar berdiri. Dan saat ini ia sudah bisa berdiri dengan tegak. Ternyata, itu tidaklah sulit setelah ia bisa melakukannya. Sepertinya, sebentar lagi ia akan terbiasa dengan kaki. Rafael mengembangkan senyuman lebar.

"Waaa... kamu hebat!" Puji (namamu).

"Ini karna bantuanmu juga." Ucap Rafael tersenyum lebar.

(Namamu) terpaku melihat Rafael tersenyum lebar. Ini pertama kalinya ia melihat pria yang tampak aneh itu mengembangkan senyuman. Entah kenapa, senyum pria itu membuatnya terlihat berwibawa. Senyum yang sangat mengagumkan. 

"(Namamu), apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Rafael.

(Namamu) buru-buru menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum malu karna ketahuan Rafael kalau dirinya tengah memandangi Rafael. 

"Aku coba berjalan ya." Ucap Rafael yang disetujui oleh (namamu).

Dengan sangat hati-hati, Rafael melangkahkan kakinya secara bergantian. Sesekali ia terlihat seperti akan jatuh. Tapi Rafael sudah sangat mahir menjaga keseimbangannya. (Namamu) pikir, Rafael adalah orang yang cerdas. Karna Rafael bisa dengan cepat melakukan apa yang ia ajarkan. 

Entah kenapa ia merasa Rafael itu terlihat seperti seorang pangeran. Tapi, tetap saja, terkadang pria itu juga terlihat seperti orang bodoh, bahkan aneh.
.
.Selanjutanya Baca : Give Me Love Part2

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »